ACEH – SETIAP bulan Oktober, Indonesia merayakan Bulan Bahasa dan Sastra. Ini momentum penting untuk menyoroti peran bahasa dalam menjaga identitas nasional, sekaligus menggarisbawahi pentingnya bahasa sebagai alat strategis dalam menjaga keberlanjutan budaya dan menguatkan posisi Indonesia di kancah internasional.
Bahasa Indonesia tidak hanya menjadi alat komunikasi, tetapi juga merupakan bagian integral dari kebudayaan kita yang mencerminkan identitas bangsa.
Sebagai negara yang kaya akan kebudayaan dan keragaman bahasa daerah, Indonesia memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga bahasa sebagai cerminan dari jati diri bangsa.
Menurut Kridalaksana (2008) dalam Kamus Linguistik, bahasa tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai sarana ekspresi budaya yang mengekalkan nilai-nilai dan tradisi. Dengan kata lain, bahasa adalah medium yang menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan suatu bangsa.
Nah, Bulan Bahasa, yang dirayakan setiap Oktober, mengingatkan kita akan pentingnya melestarikan bahasa sebagai bagian dari upaya menjaga tradisi dan budaya bangsa.
Bahasa Indonesia mesti dilestarikan baik dalam karya sastra, pendidikan, maupun seni. Namun demikian, melihat derasnya arus globalisasi, bahasa Indonesia menghadapi tantangan besar.
Banyak masyarakat Indonesia, terutama generasi muda, mereka lebih akrab dengan bahasa asing yang dominan dalam sektor teknologi, pendidikan, dan ekonomi. Hal ini tentunya tak salah, mengingat generasi muda sekarang sudah berada di era digital.
Realitas ini tentunya, menuntut adanya inovasi untuk menjaga relevansi bahasa Indonesia di era digital. Bersyukur salah satu solusi yang sudah dilakukan adalah mengembangkan platform digital untuk pembelajaran kembali bahasa Indonesia, baik bagi penutur asli maupun penutur asing, melalui program BIPA (Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing).
Melalui program seperti BIPA, bahasa Indonesia semakin dikenal di berbagai negara. Inisiatif ini membuka peluang bagi bahasa Indonesia untuk menjadi bahasa internasional, memperkenalkan nilai-nilai budaya bangsa kepada dunia, dan memperkuat diplomasi global.
Alhasil, bahasa Indonesia yang sejak beberapa tahun lalu digaungkan oleh Mendikbud Nadiem Makarim untuk diakui sebagai bahasa resmi Unesco, mendapat atensi dan pengakuan internasional. Pengakuan ini menunjukkan pencapaian luar biasa Nadiem Makarim dalam menjadikan bahasa Indonesia lebih kuat posisinya di dunia internasional yang kemudian dapat memperkuat dialog dan kerja sama internasional.
Dengan pengakuan sebagai bahasa resmi UNESCO, bahasa Indonesia tidak hanya mendapatkan tempat yang lebih tinggi di arena global tetapi juga membuka jalan bagi lebih banyak peluang dalam berbagai bidang. Ini adalah langkah besar dalam memajukan bahasa dan budaya Indonesia serta menunjukkan kepada dunia bahwa bahasa Indonesia adalah bagian penting dari warisan budaya dunia yang harus dihargai dan dipertahankan.
Upaya ini sudah mendorong pelestarian bahasa Indonesia di luar negeri yang mendukung penggunaan dan pengajaran bahasa Indonesia secara global.
Dukungan internasional yang diperoleh akan memperkuat posisi bahasa Indonesia di kancah global dan memastikan bahwa bahasa ini tetap relevan dan dihargai di berbagai belahan dunia. Pula dengan adanya pengakuan ini, bahasa Indonesia menjadi semakin dikenal dan dihargai di tingkat internasional, serta memberikan dorongan bagi masyarakat Indonesia untuk terus menjaga, melestarikan dan mempromosikan bahasa dan budaya mereka.
Namun demikian, menjaga bahasa Indonesia bukan hanya tugas pemerintah, tetapi juga tanggung jawab seluruh masyarakat. Generasi muda perlu didorong untuk lebih menghargai dan menggunakan bahasa Indonesia dalam berbagai konteks, baik formal maupun informal.
Selain itu, pendidikan bahasa Indonesia harus terus ditingkatkan agar tetap relevan dan kuat menghadapi tantangan global. Upaya ini bukan hanya penting untuk menjaga kelestarian bahasa, tetapi juga untuk mempertahankan identitas nasional di tengah persaingan global.
Sejalan dengan perayaan Bulan Bahasa, penting bagi masyarakat Indonesia untuk menyadari bahwa menjaga bahasa Indonesia berarti menjaga kebudayaan dan identitas bangsa. Sama seperti pelestarian kekayaan budaya seperti tari saman Aceh, tari Bali atau wayang kulit, bahasa Indonesia juga harus dijaga dengan baik agar tidak kehilangan esensinya.
Dengan dukungan teknologi, pendidikan, dan diplomasi, bahasa Indonesia dapat terus berkembang dan memainkan peran penting dalam hubungan internasional.
Dalam kaitan semangat nasionalisme, Bulan Bahasa pada bulan Oktober adalah momen penting untuk merenungkan bagaimana bahasa Indonesia telah berperan dalam menjaga persatuan bangsa dan bagaimana peran ini dapat diperluas ke ranah diplomasi global.
Di tengah modernisasi yang pesat, keberlanjutan kebudayaan dan bahasa menjadi sangat penting, tidak hanya untuk melestarikan warisan budaya, tetapi juga untuk memperkuat posisi Indonesia di dunia internasional. Sebagai alat diplomasi, bahasa Indonesia memiliki potensi besar untuk memperkenalkan nilai-nilai kebudayaan dan identitas nasional kepada dunia.
Dengan mengaitkan perayaan Bulan Bahasa dengan upaya diplomasi global, Indonesia dapat semakin memantapkan langkahnya sebagai negara yang menjunjung tinggi keberagaman budaya dan bahasa. Pada akhirnya, bahasa Indonesia akan terus menjadi bagian penting dari upaya memperkuat hubungan antarbangsa dan memelihara warisan budaya bangsa untuk generasi mendatang. (*)
ADVERTORIAL












