Banda Aceh – Aceh menjadi tuan rumah perhelatan Pekan Olahraga Nasional (PON) XXI yang berlangsung hingga 20 September mendatang. Meski menerapkan aturan syariat Islam, masyarakat Serambi Makkah dinilai sangat toleran terhadap para atlet.
Para atlet yang bertanding di Aceh berasal dari 38 provinsi yang ada di Indonesia. Saat bertanding, tidak semuanya mengenakan hijab bahkan ada yang bercelana pendek.
Atlet panjat tebing asal Bali Desak Made Rita Kusuma Dewi punya kenangan tak terlupakan saat berada di Aceh. Selama seminggu berada di daerah ujung paling barat Indonesia, Desak melihat keramahan warga Aceh.
“Orang Aceh sendiri selama saya di sini kurang lebih seminggu ramah-ramah. Kebetulan saya tinggal di rumah singgah dekat venue dan tetangga sebelah rumah singgah saya itu sering main. Lingkungan di sana juga ramah,” kata Desak Rita.
Menurutnya, warga Aceh banyak yang mendukungnya saat bertanding. Masyarakat juga dinilai sangat antusias melihat setiap pertandingan sehingga menambah semangat para atlet.
“Aceh sangat toleran,” jelasnya.
Selain itu, Desak juga memuji kelezatan kuliner Aceh. Beberapa masakan khas dicobanya usai bertanding seperti keumamah, hingga asam keueng.
Atlet Olimpiade Paris 2024 itu juga berkeinginan mencicip berbagai kuliner lain yang ada di Aceh termasuk mie Aceh. Baginya, kuliner Aceh sangat enak.
“Kuliner Aceh sangat enak,” ujarnya.
Kepala Kanwil Kemenag Aceh Azhari mengatakan, Aceh dikenal dengan sebutan Serambi Makkah yang pelaksanaan syariat Islam tentu sangat kental bagi masyarakat. Namun masyarakat Aceh juga bersikap sangat toleran berlebih ketika ada tamu yang datang ke Aceh tetap dihargai dan dihormati meski berbeda agama.
“Kondisi Aceh yang begitu ramah, begitu adat-istiadatnya memuliakan tamu. Kemudian masyarakat Aceh sangat sopan, sangat moderat dalam hal menerima tamu dan menyesuaikan diri dengan perkembangan adat budaya,” kata Azhari.
“Dalam perhelatan PON ke-21 ini berbagai provinsi hadir, dari seluruh Indonesia tentu dengan ragam budaya, sikap, agama hadir di Aceh. Jadi masyarakat Aceh sangat memahami itu. Masyarakat Aceh sangat menerima tamu dengan berbagai etnis yang datang di Aceh,” lanjut Azhari.
Menurutnya, Kanwil Kemenag Aceh sudah menyampaikan saran, pesan, melalui penyuluh dan penghulu dan juga para guru untuk menyampaikan pesan-pesan tentang ukhuwah wathaniyah dan ukhuwah basyariyah sejak sebelum PON digelar. Lewat penyuluhan tersebut, masyarakat diajak saling menguatkan, saling menghormati, saling meningkatkan rasa persaudaraan satu sama lain.
“Oleh karenanya ada image barangkali yang seolah-olah, Aceh kurang aman, tentu bapak, ibu, saudara-saudara kami dari seluruh Indonesia yang hadir di Aceh dapat melihat sendiri bagaimana tolerannya masyarakat Aceh, bagaimana sikap dan kultur budaya,” kata Azhari. (*)
Advertorial.













