Aceh Barat – Kepala SMA Negeri 1 Kuala, Sarjiono S.Pd, didampingi oleh Kepala SMA Negeri 3 Kuala, Yuswaruddin S.Pd, serta Bapak Zaimi Anwar dari Cabang Dinas Pendidikan Aceh Kabupaten Nagan Raya, turut berpartisipasi dalam Focus Group Discussion (FGD) yang diselenggarakan oleh Program Studi Sosiologi FISIP Universitas Teuku Umar pada Senin, 22 Juli 2024. Acara yang berlangsung di Aula Cut Nyak Dhien GTK UTU ini membahas pentingnya peningkatan jumlah guru sosiologi di sekolah-sekolah menengah atas (SMA) di Kabupaten Nagan Raya.
Sarjiono mengungkapkan keprihatinannya terhadap kurangnya tenaga pengajar sosiologi di wilayah tersebut. “Dari 18 sekolah jenjang menengah atas (SLTA) sederajat di Kabupaten Nagan Raya, hanya terdapat dua orang guru sosiologi. Hal ini menunjukkan betapa mendesaknya kebutuhan akan guru sosiologi khusus di sekolah-sekolah kita,” ujarnya.
Lebih lanjut, Sarjiono menekankan pentingnya peran Program Studi Sosiologi dalam mempersiapkan lulusannya agar dapat bekerja sesuai dengan keilmuannya. Ia mengusulkan adanya regulasi yang memungkinkan para lulusan prodi sosiologi dapat diterima sebagai guru di sekolah dan madrasah tanpa harus berbenturan dengan aturan yang berlaku. “Kita perlu memikirkan regulasi yang mendukung para lulusan sosiologi agar mereka bisa berkarir sebagai guru, sehingga kekurangan tenaga pengajar di sekolah-sekolah kita dapat diatasi,” tambahnya.
Dalam kesempatan tersebut, Sarjiono juga menegaskan pentingnya meningkatkan keterampilan lulusan Program Studi Sosiologi agar sesuai dengan kebutuhan di dunia usaha, industri, dan pendidikan sekolah. Salah satu cara yang diusulkannya adalah dengan mengimplementasikan metode pembelajaran berbasis masalah (Problem Based Learning/PBL) dan pembelajaran berbasis proyek (Project Based Learning/PjBL). “Dengan pendekatan PBL dan PjBL, lulusan sosiologi akan lebih terampil dan siap menghadapi tantangan di dunia kerja,” jelasnya.
Sementara itu, Yuswaruddin dan Zaimi Anwar turut mendukung usulan Sarjiono. Mereka sepakat bahwa penambahan guru sosiologi di sekolah-sekolah di Kabupaten Nagan Raya sangat diperlukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan. “Kami berharap pemerintah dan pihak terkait dapat segera mengambil langkah konkret untuk memenuhi kebutuhan ini,” kata Yuswaruddin.
FGD ini dihadiri oleh berbagai pihak dari kalangan akademisi, praktisi pendidikan, dan pejabat pemerintah, serta mendapatkan sambutan positif dari semua peserta. Mereka sepakat untuk mendorong peningkatan jumlah guru sosiologi dan memperkuat kerjasama antara perguruan tinggi dengan sekolah-sekolah di Kabupaten Nagan Raya.
Dengan adanya komitmen dan upaya bersama, diharapkan kekurangan tenaga pengajar sosiologi di Kabupaten Nagan Raya dapat segera teratasi, sehingga kualitas pendidikan di wilayah ini semakin meningkat. (*)













