Banda Aceh – Sebanyak tujuh buah Boat Penumpang yang melayani penyeberangan lintasan Pulo Aceh, Aceh Besar ke Ulee Lheue Banda Aceh (PP) ternyata sangat minim memiliki baju pelampung penumpang dan alat komunikasi, padahal itu kebutuhan saat boat berlayar mengangkut penumpang dan barang.
Iksan Sufi (57) Pawang Boat penumpang KM Sultan Bahri 2 kepada wartawan mengatakan, boat yang dikelola pihaknya selama ini ada memiliki 15 buah baju pelampung (life jacket) baik yang diserahkan Polairud Polda Aceh maupun dari pengadaan sendiri.
Ia mengakui, pihaknya terakhir menerima bantuan baju pelampung sekitar tiga tahun lalu dari Polairud Polda Aceh. “Kami sangat butuh bantuan baju pelampung karena satu boat penumpang butuh harus ada 40-50 baju pelampung untuk dipakai penumpang saat terjadi Laka laut,”ujar Iksan, kepada SuaraAceh.net di Ulee Lheue, Minggu (30/6/2024).
Kecuali itu kata Iksan yang mengaku sudah sekitar 19 tahun jadi pawang boat penumpang yang melayani lintas Seurapong-Gugop Pulo Aceh ke Ulee Lheue, Banda Aceh tiga hari dalam seminggu, pihaknya juga membutuhkan bantuan alat komunikasi jenis HT minimal ada tiga buah dan alat navigasi petunjuk arah jalan (GPS) minimal 1 buah.
“Terus terang alat komunikasi yang saya sebutkan tersebut selama ini tidak kami miliki karena keterbatasan dana untuk membelinya, padahal sangat kami butuhkan untuk komunikasi ke darat apabila terjadi sesuatu di tengah laut terutama sast cuaca sedang angin kencang, ombak besar dan ombak besar,”demikian Pawang Iksan.
Sementara itu Panglima Laot Kuala Cangkoi Banda Aceh Syafaat membenarkan tentang selama ini semua boat penumpang asal Pulo Aceh yang tiap hari bersandar untuk turunkan penumpang dan barang di Dermaga TPI Ulee Lheue sangat minim alat penyelamat seperti baju pelampung, alat komunikasi dan GPS seperti yang disampaikan pawang boat.
“Menurut kami baju pelampung dan alat komunikasi sangat diperlukan semua boat penumpang untuk kebutuhan keamanan (safety) apabila terjadi musibah dalam perjalanan. Begitu juga GPS diperlukan apabila saat sedang berlayar terjadi hujan lebat atau berkabut GPS tersebut sebagai alat penunjuk arah tujuan,”tuturnya.
Syafaat juga menjelaskan, boat penumpang asal Pulo Aceh, setiap hari secara bergantian bersandar di Dermaga TPI Ulee Lheue Banda Aceh dalam setahun terakhir ini dikarenakan TPI Lampulo tidak layak untuk bersandar boat penumpang akibat dangkalnya muara, bahkan pernah karam satu boat penumpang asal pulo Aceh disana.
“Dalam setahun terakhir ini dari tujuh unit boat penumpang asal pulo Aceh selama ini bersandar untuk bongkar muat penumpang dan barang disini, dan mereka juga mengaku lebih cocok disini karena sebelum tsunami semua boat penumpang Pulo Aceh Pelabuhan penyeberangan di Ulee Lheue, Banda Aceh,”demikian Syafaat.(*)













