Beranda Aceh Penyuluh Pertanian Aceh Besar Studi Banding ke Aceh Tengah

Penyuluh Pertanian Aceh Besar Studi Banding ke Aceh Tengah

293
0
BERBAGI

Aceh Besar – Kabupaten Aceh Besar merupakan daerah lumbung pangan yang memiliki lahan padi seluas 29.000 hektare, dengan produktivitas mencapai 7,2 ton per hektare.

Hasil pertanian yang bisa ditonjolkan daerah ini melebihi kabupaten/kota lainnya di Aceh yakni penghasilan padinya, bahkan pemerintah setempat bercita-cita menjadikan Aceh Besar sebagai lumbung pangan nasional.

Berbeda dengan wilayah Aceh di dataran tinggi yakni Aceh Tengah, hasil pertanian di kota dingin yang telah mendunia itu adalah cita rasa kopi robusta dan arabikanya.

Bahkan, petani kopi di sana masuk dalam kategori petani sejahtera, hal itu karena memang pendapatan mereka dari kopi sudah cukup besar.

Petani di sana bukan hanya sekedar menanam kopi, tetapi mereka sudah mampu memasarkan hasil pertaniannya ke luar Aceh hingga ke pasar internasional.

Meskipun berbeda hasil pertanian, penyuluh dari Aceh Besar tetap melakukan studi banding ke Aceh Tengah. Agenda utama yang ingin dipelajari penyuluh itu bukan tentang cara menanam padi atau kopi.

Tetapi, lebih kepada bagaimana cara petani Aceh Tengah mampu bersaing ke pasar nasional hingga tembus tingkat internasional.

Petani di Aceh Tengah mampu mengembangkan perekonomian melalui bidang perkebunan salah satunya komoditi unggulan kopi. Disamping itu, mereka juga sudah mampu menyerap tenaga hingga meningkatkan taraf petani.

Ternyata, petani di Aceh Tengah memiliki koperasi tani, serta kelompok tani lainnya. Hal ini kemudian yang ingin diadopsi oleh penyuluh pertanian, bagaimana menerapkannya di Aceh Besar. (*)


Kadistan Harap Penyuluh Bentuk Koperasi Kelembagaan Petani

Aceh Besar – Kepala Dinas Pertanian Aceh Besar, Jakfar mengatakan, penyuluh pertanian melakukan studi banding ke Takengon, Aceh Tengah. Untuk melihat kelembagaan ekonomi petani (KEP) dan kelembagaan tani dan koperasi kelembagaan tani.

“Di Takengon Koperasi tani yang sangat maju yang bergerak di bidang kopi. Bahkan mereka saat ini sudah mampu melakukan ekspor kopi,” kata Jakfar di Aceh Besar, Rabu, 24 Februari 2021.

Mereka, kata Jakfar telah berhasil mengembangkan perekonomian melalui bidang perkebunan salah satunya komoditi unggulan kopi. Disamping itu, mereka juga sudah mampu menyerap tenaga kerja disana.

“Jadikan sudah berhasil karena menyerap banyak tenaga kerja, meningkatkan taraf ekonomi petani. Dan kita lihat memang mereka sudah lebih sejahtera,” ujarnya.

Jakfar menyampaikan, para penyuluh pertanian melakukan studi banding ke Kota Dingin selama dua hari. Dari sana, mereka juga berkesempatan melihat kerjasama serta kekompakan petani setempat.

“Kita melihat bagaimana kerjasama, kekompakan orang disana untuk mencapai sebuah keberhasilan kemudian masalah administrasi koperasi kelembagaan petani,” tururnya.

Selain itu, pihaknya juga mengunjungi kelompok tani disana. Diantaranya koperasi tani, serta kelompok tani lainnya. Hal ini dilakukan untuk menerapkan sistem yang sama di Kabupaten Aceh Besar.

“Tugas penyuluh sepulang studi banding dari Takengon adalah mendampingi petani, mendampingi kelompok tani, dan mendampingi kelompok lembaga tani untuk mencapai sebuah kemajuan yang telah dicapai oleh kelembagaan ekonomi petani di Aceh Tengah sebagaimana yang telah kita lihat saat studi banding,” jelasnya.

Jakfar menambahkan, Takengon mempunyai komoditi unggul seperti kopi. Sama halnya dengan Takengon, Aceh Besar juga punyai komiditi unggulan yakni padi, kakao, alpukat, dan jagung.

“Kita yang paling menonjol tetap padi kemudian kita juga kembangkan seperti jagung, ada juga bawang merah, kemudian juga cabai. Itu yang dibidang holtikultura lah,” ungkapnya.

Jakfar berharap, ilmu dari studi banding tersebut dapat diaplikasikan oleh penyuluh dilapangan saat membimbing dan membekali petani. Sehingga kedepannya petani di Aceh Besar menjadi kelompok tani yang maju dan mandiri serta moderen.

“Kita harapkan kedepan ada kelompok-kelompok seperti itu (Takengon) menjadi kelompok tani yang maju mandiri dan moderen,” harapnya.

Jakfar menambahkan, pihaknya menargetkan panen jagung tahun ini sekitar 4-5 ton. Jumlah ini, lanjut Jakfar hampir sama dengan jumlah hasil panen gabah di Aceh Besar.

“Tapi kita harapkan kedepan harus melebihi jumlah tersebut. Biasanya jagung inikan bantuan provinsi, jadi ergantung jenis varietas yang diberikan oleh APBN dan APBA,” ujarnya.

Kemudian untuk target luas tanah untuk penanaman jangung di 2021, luas tanah 1.500-2.000 hektar. Pihaknya menargetkan hasil panen 6-8 ton. Dari awal pihaknya juga telah menargetkan hasil panen jagung 4-6 ton.

“Supaya target ini tercapai, ya pendampingan dari penyuluh kemudian juga inovasi dan teknologi yang baru sehingga bisa meningkatkan hasil produksi,” pungkasnya. (*)


Tingkatkan SDM, Penyuluh Pertanian Aceh Besar Studi Banding ke Aceh Tengah

Aceh Besar – Kepala Bidang Penyuluh Dinas Pertanian Aceh Besar, Fahrizal mengatakan studi banding penyuluh pertanian ke Takengon Kabupaten Aceh Tengah beberapa hari lalu untuk peningkatan kapasitas koordinator BIP di seluruh Aceh Besar.

“Cara kelola koperasi kelembagaan ekonomi petani dan kita ingin tahu proses perjalanan mereka dari nol sampai dengan berhasil,” kata Fahrizal di Aceh Besar, Rabu, 24 Februari 2021.

Hal ini kata Fahrizal, bisa menjadi pedoman bagi koordinator BIP se Aceh Besar, setelah kembali dari Takengon dalam rangka studi banding dan bisa menerapkan ilmu yang telah didapat di wilayah kerja masing-masing.

“Untuk bagian koperasi di Aceh Tengah itu kopi. Akan tetapi kita di Aceh Besar komoditi andalan kita adalah padi. Jadi sistem mengelola kopi dan padi itu tidak jauh beda. Hanya beda di komoditi andalan saja,” ujar Fahrizal.

Menurut Fahrizal petani kopi di Takengon mengelola koperasi dengan baik dan menjaga stabilitas harga kopi, walaupun pasaran kopi dunia itu sudah turun tetapi koperasi ini berkewajiban menjaga stabilitas harga kopi.

Bahkan, lanjut Fahrizal, dari keuntungan mengelola koperasi ini, mereka yang awalnya beranggota 15 orang, saat ini telan mencapai 7 ribu orang tenaga kerja di Takengon.

“Jadi standar harga itu terjaga. Walaupun di pasar kopi itu sudah dibawah harga standar. Dengan adanya koperasi ini otomatis petani ini sudah stabil di bagian harga,” jelasnya.

Fahrizal mencontohkan, harga kopi perkilo sebesar Rp 50 ribu. Walaupun pasaran dunia harganya turun Rp 30 ribu, pihak koperasi tetap membeli kopi tersebut dengan harga tetap Rp 50 ribu.

Menurut Fahrizal, kebijakan seperti ini sangat bisa dilakukan di Kabupaten Aceh Besar, khususnya di Kecamatan Indrapuri. Disana, pihaknya memiliki kegiatan tahun 2020 yang lalu itu, ada BIP 300 dan sekarang di 2021 BIP 400 di Kecamatan Ingin Jaya.

Kemudian khusus di Kecamatan Indrapuri itu sudah ada paket trayer yang dibantu oleh Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Aceh untuk sarana pendukung dari kelembagaan ekonomi dan kelompok tani yang ada di kawasan tersebut.

“Kelemahan kita di Aceh Besar adalah SDM untuk mengelola hal ini. Maksudnya kelompok tani dan koordinator BIP belum menguasai penuh cara mengelola kelembagaan ekonomi atau koperasi tani,” tuturnya.

Oleh karena itu, dari studi banding ini mereka ke tempat yang sudah berhasil, secara otomatis mereka bisa menguasai pengadministrasian dan pengelolaan untuk kelancaran satu koperasi mereka sudah mengetahuinya.

Fahrizal menjelaskan, agenda studi banding tersebut merupakan program bidang penyuluhan. Sayangnya, kondisi anggaran Pemkab Aceh Besar tidak mendukung untuk memfasilitasi program tersebut. Alhasil, para penyuluh menggalang swadaya secara pribadi untuk mensukseskan kegiatan ini.

“Walaupun dalam keadaan ekonomi yang sulit, kita perlu swadaya untuk mendapatkan satu ilmu yang bisa meningkatkan SDM petani yang ada di Aceh Besar,” jelasnya.

Fahrizal menyampaikan, tugas koordinator BIP yang sudah berkunjung ke Aceh Tengah, berkewajiban melakukan sosialisasi dengan penyuluh yang ada di BPP mereka masing-masing atau di Kecamatan masing-masing.

Disisi lain, penyuluh juga berkewajiban membina kelompok tani dan mentransfer ilmu yang diperoleh dari Aceh Tengah khususnya dalam kelembagaan ekonomi petani dan koperasi.

“Untuk mentransfer ilmu ini di lapangan, secara otomatis kita membutuhkan dukungan dana dari kabupaten ataupun provinsi Aceh untuk meningkatkan kapasitas petani kita yang ada di Aceh Besar,” tutup Fahrizal. (R)