HeadlinePariwara

Tanamkan Kesiapsiagaan Sejak Dini, Pemko Banda Aceh Gelar Tagana Masuk Sekolah di 12 Sekolah

×

Tanamkan Kesiapsiagaan Sejak Dini, Pemko Banda Aceh Gelar Tagana Masuk Sekolah di 12 Sekolah

Share this article
Sekretaris Daerah Kota Banda Aceh, Jalaluddin, menyampaikan sambutan saat membuka kegiatan Tagana Masuk Sekolah Tahun 2026 di SMP Negeri 6 Kota Banda Aceh, Senin (12/10/2026). Foto: (Diskominfotik Banda Aceh).

BANDA ACEH – Pemerintah Kota Banda Aceh terus memperkuat upaya membangun budaya sadar bencana melalui edukasi sejak dini di lingkungan pendidikan. Salah satu langkah yang dilakukan adalah menggelar program Tagana Masuk Sekolah Tahun 2026 yang menyasar 12 sekolah di wilayah Kota Banda Aceh.

Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Banda Aceh, Jalaluddin, menegaskan bahwa pendidikan kebencanaan bagi anak-anak sangat penting untuk membentuk generasi yang tanggap, peduli, dan memiliki kemampuan dasar dalam menghadapi situasi darurat.

Hal tersebut disampaikan Jalaluddin saat membuka kegiatan Tagana Masuk Sekolah di SMP Negeri 6 Kota Banda Aceh, Senin (12/10/2026).

Menurutnya, edukasi kebencanaan harus diberikan sejak dini agar peserta didik memahami berbagai potensi ancaman di lingkungan sekitar, sekaligus mengetahui langkah yang perlu dilakukan sebelum, saat, dan setelah bencana terjadi.

“Ini saya pikir sangat penting karena kota kita juga menjadi kota tangguh bencana. Generasi anak-anak inilah yang akan melanjutkan estafet kepemimpinan kota nantinya, atau yang tinggal di kota ini. Maka dari kecil, kita harus berikan pemahaman dan edukasi kepada mereka, sehingga mereka paham apa sebenarnya bencana itu dan bagaimana sebelum terjadi, sedang terjadi serta setelah terjadi,” kata Jalaluddin.

Ia menjelaskan, anak-anak merupakan bagian penting dalam pembangunan ketangguhan daerah. Pengetahuan yang diperoleh sejak bangku sekolah diharapkan dapat membentuk kebiasaan positif dalam menghadapi ancaman bencana, baik di lingkungan pendidikan, rumah, maupun masyarakat.

Melalui pembelajaran yang tepat, peserta didik diharapkan mampu mengenali potensi bahaya, memahami prosedur keselamatan, serta mengetahui tindakan yang harus dilakukan ketika menghadapi keadaan darurat.

Pengalaman Tsunami Jadi Pelajaran Penting

Jalaluddin mengatakan, Banda Aceh memiliki pengalaman pahit ketika dilanda bencana tsunami. Pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa pengetahuan dan kesiapsiagaan masyarakat merupakan bagian penting dalam upaya mengurangi risiko bencana.

Menurutnya, pengalaman masa lalu harus dijadikan pelajaran bersama agar masyarakat tidak hanya memahami dampak bencana, tetapi juga memiliki kemampuan untuk mengantisipasi dan menyelamatkan diri ketika situasi darurat terjadi.

Ia menekankan pentingnya penyebarluasan informasi mengenai tanda-tanda bahaya, langkah penyelamatan diri, serta jalur dan arah evakuasi yang aman. Pengetahuan tersebut perlu dimiliki seluruh lapisan masyarakat, termasuk anak-anak yang masih menempuh pendidikan di sekolah.

“Pengalaman masa lalu harus menjadi pelajaran bagi kita semua. Edukasi kebencanaan ini tidak boleh berhenti, kapan pun dan sampai kapan pun harus terus disampaikan, baik di rumah, di sekolah, maupun di tengah masyarakat,” ujarnya.

Jalaluddin menilai, pendidikan kebencanaan tidak dapat dilakukan hanya melalui kegiatan sesaat. Diperlukan upaya berkelanjutan agar pemahaman yang diperoleh peserta didik dapat tertanam dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Karena itu, sekolah menjadi salah satu tempat strategis untuk memperkenalkan pengetahuan kebencanaan secara terstruktur. Selain mendapatkan materi, siswa juga perlu dibiasakan memahami prosedur keselamatan dan mengikuti arahan guru ketika menghadapi keadaan darurat.

Ia berharap edukasi tersebut dapat memperkuat kesiapan generasi muda sekaligus mendukung terwujudnya Banda Aceh sebagai kota yang semakin tangguh menghadapi berbagai potensi bencana.

Tagana Masuk Sekolah Sasar 12 Sekolah

Lebih lanjut, Jalaluddin menyebutkan bahwa program Tagana Masuk Sekolah merupakan salah satu upaya Pemko Banda Aceh untuk memberikan edukasi kebencanaan secara langsung kepada peserta didik.

Kegiatan ini diharapkan menjadi langkah awal dalam memperluas pemahaman tentang mitigasi dan kesiapsiagaan bencana di lingkungan pendidikan.

“Ini salah satu bagian terkecil, nanti juga ada kita lakukan tsunami drill dan sebagainya. Ini terus kita lakukan, tidak boleh berhenti,” kata Jalaluddin.

Menurutnya, latihan simulasi bencana atau *tsunami drill* menjadi salah satu bentuk pembelajaran yang penting karena memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk memahami prosedur evakuasi secara langsung.

Melalui latihan tersebut, siswa diharapkan tidak hanya mengetahui teori, tetapi juga terbiasa mengambil tindakan yang tepat ketika menghadapi ancaman bencana. Pemahaman mengenai jalur evakuasi, titik kumpul, serta pentingnya mengikuti instruksi petugas menjadi bagian dari kesiapsiagaan yang perlu terus diperkuat.

Sementara itu, perwakilan Tim Taruna Siaga Bencana (Tagana) Kota Banda Aceh, Fakhrudin, menjelaskan bahwa program Tagana Masuk Sekolah Tahun 2026 dilaksanakan pada 12–14 Oktober 2026 dengan menyasar 12 sekolah di wilayah Kota Banda Aceh.

Sekolah-sekolah tersebut meliputi SMP Negeri 1, SMP Negeri 2, SMP Negeri 4, SMP Negeri 6, SMP Negeri 8, SMP Negeri 9, dan SMP Alwildan. Adapun pada jenjang sekolah dasar, kegiatan dilaksanakan di SD Negeri 5, SD Negeri 25, SD Negeri 50, SD Negeri 54, dan SD Negeri 69 Kota Banda Aceh.

Pembukaan kegiatan dipusatkan di SMP Negeri 6 Kota Banda Aceh, sebelum pelaksanaan edukasi dilanjutkan ke sekolah-sekolah lainnya sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan.

Bangun Budaya Sadar Bencana di Sekolah

Fakhrudin berharap kegiatan tersebut dapat meningkatkan pengetahuan dasar dan kesiapsiagaan peserta didik, guru, serta seluruh warga sekolah dalam menghadapi berbagai potensi bencana.

Menurutnya, edukasi kebencanaan tidak hanya bertujuan mengenalkan jenis-jenis bencana, tetapi juga membangun kemampuan memahami risiko dan mengambil tindakan yang tepat untuk melindungi diri maupun membantu orang lain.

“Kita harapkan kegiatan ini dapat meningkatkan pemahaman tentang jenis dan potensi bencana di lingkungan sekitar, pengetahuan dasar mengenai upaya mitigasi dan kesiapsiagaan bencana, memahami langkah penyelamatan diri serta prosedur evakuasi yang aman, dan menumbuhkan sikap tanggap, peduli, dan gotong royong dalam menghadapi situasi darurat, serta membangun budaya sadar bencana di lingkungan sekolah sejak usia dini,” tutupnya.

Ia menambahkan, keterlibatan guru dan seluruh warga sekolah juga diperlukan agar pengetahuan yang diperoleh melalui program tersebut dapat diterapkan secara berkelanjutan.

Guru diharapkan mampu membantu mengingatkan peserta didik mengenai prosedur keselamatan, sedangkan pihak sekolah dapat memperkuat kesiapan melalui pengenalan jalur evakuasi, penentuan titik kumpul, serta pelaksanaan simulasi secara berkala.

Selain itu, dukungan keluarga dan masyarakat menjadi faktor penting dalam memperluas pemahaman kebencanaan di luar lingkungan sekolah. Dengan demikian, anak-anak dapat memperoleh pengetahuan dan kebiasaan kesiapsiagaan yang konsisten, baik di sekolah maupun di rumah.

Melalui program Tagana Masuk Sekolah, Pemko Banda Aceh berharap lahir generasi muda yang memiliki kesadaran terhadap risiko bencana, mampu bertindak secara tepat dalam situasi darurat, dan memiliki kepedulian terhadap keselamatan bersama.

Upaya edukasi sejak dini tersebut diharapkan menjadi bagian dari langkah berkelanjutan untuk memperkuat ketangguhan masyarakat dan membangun budaya sadar bencana di Kota Banda Aceh. (*)

PARIWARA.