SABANG – Menumbuhkan budaya membaca sejak usia dini menjadi salah satu langkah penting dalam membentuk generasi yang cerdas, kreatif, dan memiliki wawasan luas. Karena itu, keberadaan perpustakaan diharapkan tidak hanya menjadi tempat menyimpan dan meminjam buku, tetapi juga menjadi ruang belajar yang menyenangkan bagi anak-anak.
Hal tersebut disampaikan Bunda Literasi Kota Sabang, Nuri Zulkifli, saat mengunjungi Perpustakaan Kota Sabang, Rabu (7/10/2026).
Dalam kunjungan tersebut, Nuri mengajak anak-anak di Kota Sabang untuk mulai membangun kebiasaan membaca sejak dini. Menurutnya, buku dapat menjadi sarana bagi anak untuk mengenal berbagai pengetahuan, cerita, pengalaman, serta dunia yang lebih luas.
“Generasi cerdas adalah generasi yang hobi membaca dan pada kesempatan ini saya mengajak generasi sejak dini mencintai buku,” kata Nuri Zulkifli.
Nuri yang juga menjabat sebagai Ketua TP PKK, Ketua Dekranasda, Ketua TP Posyandu, Penasehat BKMT sekaligus Bunda PAUD Kota Sabang itu mengatakan, kebiasaan membaca tidak harus dimulai dengan sesuatu yang berat.
Anak-anak dapat diperkenalkan terlebih dahulu dengan buku-buku yang sesuai dengan usia dan minat mereka. Cerita bergambar, dongeng, buku pengetahuan sederhana maupun bacaan edukatif lainnya dapat menjadi pintu masuk untuk menumbuhkan ketertarikan anak terhadap buku.
Menurutnya, ketika anak sudah terbiasa membaca dan merasa nyaman berada di lingkungan perpustakaan, kegiatan membaca akan berkembang menjadi kebiasaan yang dilakukan secara sukarela.
Kunjungan Nuri ke Perpustakaan Kota Sabang turut didampingi Ketua BKMT Kota Sabang, Erwani Meutia. Kegiatan tersebut sekaligus menjadi bagian dari persiapan pelaksanaan kegiatan mendongeng yang dijadwalkan berlangsung pada Selasa (6/10/2026).
Kegiatan mendongeng tersebut diharapkan menjadi salah satu cara yang menyenangkan untuk memperkenalkan buku dan aktivitas membaca kepada anak-anak.
Nuri mengatakan, dirinya melihat banyak koleksi buku yang menarik dan dapat dimanfaatkan sebagai bahan bacaan bagi anak-anak.
“Saya lihat banyak sekali buku yang menarik untuk dibacakan ke anak-anak dan saya besok jadwalnya membaca ragam buku dongeng untuk anak-anak,” ujar Nuri.
Bagi Nuri, perpustakaan memiliki peran penting dalam membangun budaya literasi di tengah masyarakat. Perpustakaan tidak semestinya dipandang hanya sebagai tempat untuk membaca buku dalam suasana yang formal, tetapi dapat menjadi ruang interaksi dan belajar yang menyenangkan.
Terlebih bagi anak-anak, suasana yang nyaman dan koleksi bacaan yang sesuai dengan usia dapat membantu membangun ketertarikan terhadap aktivitas membaca.
Ia juga mengajak para orang tua untuk ikut mengambil peran dalam membangun kebiasaan tersebut.
Menurutnya, orang tua dapat memanfaatkan waktu luang dengan membawa anak-anak berkunjung ke perpustakaan. Dengan begitu, anak-anak dapat memiliki pengalaman langsung dalam memilih buku, membaca cerita, sekaligus mengenal perpustakaan sejak usia dini.
“Buku adalah jendela dunia,” menjadi pesan penting yang disampaikan Nuri dalam mendorong masyarakat untuk lebih dekat dengan bahan bacaan.
Menurutnya, melalui buku, anak-anak dapat memperoleh pengetahuan tanpa harus mengalami semua hal tersebut secara langsung. Mereka dapat mengenal berbagai tempat, budaya, tokoh, ilmu pengetahuan hingga beragam pengalaman melalui cerita dan informasi yang terdapat dalam buku.
Karena itu, kebiasaan membaca perlu dibangun secara bersama-sama, baik melalui lingkungan keluarga, sekolah maupun fasilitas publik seperti perpustakaan.
Nuri berharap perpustakaan dapat semakin banyak dikunjungi anak-anak dan keluarga. Semakin sering anak berinteraksi dengan buku, semakin besar pula peluang tumbuhnya minat membaca dalam kehidupan sehari-hari.
Sementara itu, Kepala Bidang Perpustakaan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Sabang, Ricky Irvanda, mengatakan Perpustakaan Kota Sabang menyediakan berbagai jenis koleksi bacaan yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat.
Koleksi tersebut tidak hanya diperuntukkan bagi orang dewasa, tetapi juga tersedia dalam jumlah cukup banyak untuk memenuhi kebutuhan bacaan anak-anak.
Ricky menyebutkan, koleksi buku bacaan anak yang tersedia di perpustakaan mencapai sekitar 2.000 eksemplar.
Selain koleksi khusus anak, perpustakaan juga memiliki sekitar 300 eksemplar buku referensi, seperti kamus, serta sekitar 20.000 eksemplar buku umum.
Jumlah koleksi tersebut memberikan pilihan yang cukup beragam bagi masyarakat yang ingin memanfaatkan perpustakaan sebagai sumber pengetahuan.
“Semua buku ini boleh dibaca di sini dan boleh juga dibawa pulang bagi pemegang kartu perpustakaan,” ujar Ricky.
Menurutnya, kebijakan tersebut merupakan bagian dari upaya perpustakaan untuk memberikan kemudahan kepada masyarakat dalam memperoleh bahan bacaan.
Dengan memiliki kartu perpustakaan, masyarakat tidak hanya dapat membaca buku di ruang perpustakaan, tetapi juga memiliki kesempatan untuk membawa pulang koleksi tertentu sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Hal tersebut diharapkan dapat membuat masyarakat semakin mudah mengakses buku dan menjadikan kegiatan membaca sebagai bagian dari aktivitas sehari-hari.
Selain menyediakan ribuan koleksi buku, Perpustakaan Kota Sabang juga terus menyesuaikan fasilitas dengan perkembangan kebutuhan masyarakat.
Ricky mengatakan, perpustakaan saat ini juga menyediakan delapan unit komputer yang dapat digunakan oleh pengunjung.
Keberadaan fasilitas tersebut menjadi salah satu bentuk dukungan terhadap kebutuhan masyarakat dalam mengakses informasi dan teknologi.
Dengan demikian, perpustakaan tidak hanya berfungsi sebagai tempat membaca buku secara konvensional, tetapi juga dapat menjadi ruang belajar yang memanfaatkan teknologi.
Bagi anak-anak dan generasi muda, keberadaan komputer dapat menjadi fasilitas pendukung dalam kegiatan belajar, mencari informasi, serta mengenal berbagai sumber pengetahuan.
Namun, Ricky tetap menekankan pentingnya keberadaan buku sebagai salah satu sumber pengetahuan yang dapat dimanfaatkan masyarakat.
Menurutnya, koleksi buku yang tersedia dapat digunakan sesuai dengan kebutuhan pengunjung. Masyarakat dapat datang langsung untuk membaca sekaligus memanfaatkan fasilitas yang telah disediakan.
Ricky menambahkan, Perpustakaan Kota Sabang dibuka pada hari kerja, yaitu Senin hingga Jumat.
Dengan jadwal pelayanan tersebut, masyarakat memiliki kesempatan untuk mengunjungi perpustakaan dan memanfaatkan berbagai fasilitas yang tersedia.
Ia berharap keberadaan perpustakaan dapat semakin dikenal dan dimanfaatkan oleh masyarakat dari berbagai kelompok usia.
Khusus bagi anak-anak, perpustakaan diharapkan dapat menjadi salah satu tempat alternatif untuk mengisi waktu luang dengan kegiatan yang positif dan edukatif.
Hal tersebut sejalan dengan upaya membangun budaya literasi sejak dini. Kebiasaan membaca yang dibangun sejak anak-anak diyakini dapat memberikan manfaat dalam proses pendidikan dan perkembangan wawasan mereka.
Dalam membangun budaya membaca, keberadaan fasilitas perpustakaan saja belum cukup. Peran orang tua sangat diperlukan untuk mengenalkan dan membiasakan anak-anak dengan buku.
Orang tua dapat menjadi contoh bagi anak dengan meluangkan waktu membaca bersama. Aktivitas tersebut dapat dilakukan di rumah maupun dengan mengajak anak mengunjungi perpustakaan.
Kegiatan membaca bersama juga dapat menjadi kesempatan bagi orang tua untuk berdiskusi dengan anak mengenai isi buku yang dibaca.
Dengan cara tersebut, membaca tidak hanya menjadi kegiatan untuk memperoleh informasi, tetapi juga dapat memperkuat komunikasi antara orang tua dan anak.
Nuri berharap para orang tua di Kota Sabang dapat memanfaatkan keberadaan Perpustakaan Kota Sabang sebagai salah satu ruang pendidikan bagi keluarga.
Menurutnya, mengajak anak ke perpustakaan tidak harus menunggu adanya kegiatan khusus. Kunjungan dapat dilakukan secara rutin sesuai dengan waktu yang dimiliki keluarga.
Anak-anak juga perlu diberi kesempatan untuk memilih sendiri buku yang menarik perhatian mereka. Ketika anak diberi ruang untuk memilih bacaan sesuai minatnya, proses membangun kebiasaan membaca diharapkan menjadi lebih menyenangkan.
Rencana kegiatan mendongeng yang dijadwalkan berlangsung pada Selasa (6/10/2026) juga menjadi salah satu upaya untuk menghadirkan pengalaman membaca yang berbeda bagi anak-anak.
Melalui dongeng, anak-anak dapat menikmati cerita sekaligus mendapatkan pesan dan nilai edukasi yang terkandung di dalamnya.
Metode mendongeng juga dinilai dapat menjadi cara yang lebih dekat dengan dunia anak. Cerita yang disampaikan secara menarik dapat membuat anak merasa bahwa buku bukan sesuatu yang membosankan, melainkan sumber cerita dan pengetahuan yang menyenangkan.
Nuri sendiri menyatakan ketertarikannya terhadap berbagai koleksi buku dongeng yang tersedia di perpustakaan. Buku-buku tersebut akan dimanfaatkan untuk membangun suasana membaca yang lebih dekat dengan dunia anak.
Ia berharap kegiatan semacam itu dapat terus dikembangkan sehingga semakin banyak anak di Kota Sabang yang tertarik mengunjungi perpustakaan.
Pada akhirnya, membangun budaya membaca membutuhkan proses yang berkelanjutan. Pemerintah menyediakan fasilitas, perpustakaan menghadirkan koleksi dan pelayanan, sementara keluarga berperan membentuk kebiasaan anak di lingkungan sehari-hari.
Jika ketiga unsur tersebut berjalan bersama, perpustakaan dapat berkembang menjadi salah satu pusat pembelajaran masyarakat yang hidup dan diminati.
Melalui gerakan gemar membaca sejak dini, Nuri berharap anak-anak Sabang dapat tumbuh menjadi generasi yang memiliki wawasan luas, percaya diri, kreatif, serta mampu mengikuti perkembangan zaman.
“Generasi cerdas adalah generasi yang hobi membaca,” demikian pesan Nuri, yang ingin menjadikan buku dan perpustakaan sebagai bagian dari keseharian anak-anak di Kota Sabang.(*)
PARIWARA.













