GUANGDONG – Universitas Syiah Kuala (USK) terus memperluas jejaring internasional melalui penguatan kerja sama dengan Guangdong Ocean University (GDOU). Komitmen tersebut ditegaskan dalam pertemuan strategis yang berlangsung di Ruang Rapat Presiden GDOU, Guangdong, Tiongkok, Jumat (3/7/2026), sebagai tindak lanjut nota kesepahaman yang telah terjalin selama dua tahun terakhir.
Delegasi USK dipimpin oleh Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Kerja Sama, dan Bisnis, Ramzi Adriman, didampingi Project Leader kerja sama USK–GDOU, Muhammad Irham. Sementara pihak GDOU diwakili Wakil Presiden Deng Fengguang bersama jajaran pimpinan fakultas dan Kantor Urusan Internasional.
Dalam pertemuan tersebut, Dr. Ramzi Adriman menegaskan bahwa kolaborasi ini merupakan wujud komitmen kedua perguruan tinggi dalam membangun kemitraan akademik yang berorientasi pada riset, inovasi, dan pengembangan sumber daya manusia bertaraf internasional.
Menurutnya, USK dan GDOU memiliki keunggulan yang saling melengkapi, terutama di bidang ilmu kelautan, perikanan, keberlanjutan lingkungan, dan ekonomi biru. Ke depan, kerja sama juga akan diperluas pada bidang sains komputer, kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), sains data, dan teknik sebagai penggerak inovasi masa depan.
“Universitas Syiah Kuala dan Guangdong Ocean University memiliki kekuatan yang saling melengkapi, khususnya di bidang ilmu kelautan, perikanan, keberlanjutan lingkungan, dan ekonomi biru. Ke depan, kami juga ingin memperluas kolaborasi pada bidang sains komputer, kecerdasan buatan, sains data, dan teknik sebagai motor penggerak inovasi masa depan,” ujar Ramzi.
Ia menambahkan, pemanfaatan teknologi AI diyakini mampu memberikan kontribusi signifikan dalam pengelolaan sumber daya kelautan, pengembangan perikanan cerdas, hingga mitigasi bencana. Karena itu, USK mendorong pengembangan riset bersama, pendidikan pascasarjana, serta implementasi program gelar ganda dan program sandwich.
Sementara itu, Prof. Deng Fengguang menyambut baik penguatan kerja sama tersebut. Ia menilai kemitraan antara GDOU dan USK akan memasuki fase yang lebih strategis dengan cakupan bidang ilmu yang semakin luas, meliputi ilmu pangan, sains hewan, teknik, hingga kecerdasan buatan.
Ia juga mengungkapkan bahwa GDOU menjadwalkan kunjungan balasan ke USK pada November 2026 sebagai bagian dari penguatan hubungan kedua institusi.
“Kami melihat Universitas Syiah Kuala sebagai mitra strategis di Asia Tenggara. Bersama USK, kami ingin mengembangkan kerja sama yang mendukung strategi pembangunan nasional melalui penelitian di kawasan Samudra Hindia, Selat Malaka, hingga Laut Cina Selatan, termasuk wilayah Kepulauan Natuna,” katanya.
Dalam pertemuan itu, kedua universitas menyepakati sejumlah program strategis, antara lain pengembangan proyek Marine Ranching, pembentukan Workshop LUBAN dan Pusat Bahasa Mandarin di kedua kampus, serta riset berbasis AI pada bidang pertanian padi laut dan perikanan cerdas.
Selain itu, kedua institusi juga menyepakati pelaksanaan program pertukaran mahasiswa jangka pendek yang akan melibatkan masing-masing 20 mahasiswa setiap tahun.
Prof. Muhammad Irham mengatakan hasil pertemuan tersebut menjadi tonggak penting bagi penguatan posisi USK di tingkat internasional.
Menurutnya, kerja sama tersebut tidak hanya berorientasi pada pertukaran akademik, tetapi juga diarahkan untuk menghasilkan inovasi dan penelitian yang mampu menjawab berbagai tantangan global, khususnya di bidang kelautan, pangan, teknologi, dan pembangunan berkelanjutan.
Melalui kemitraan jangka panjang ini, USK dan Guangdong Ocean University menargetkan peningkatan kualitas riset internasional serta pengembangan kapasitas sumber daya manusia yang mampu memberikan kontribusi bagi pembangunan Indonesia, Tiongkok, dan kawasan Asia-Pasifik.(*)












