BANDA ACEH – Sekelompok mahasiswa Universitas Syiah Kuala (USK) mengembangkan inovasi minuman fungsional berbasis kearifan lokal bernama Nipharia, yang memadukan kopi Arabika Gayo premium dengan buah nipah (Nypa fruticans), tanaman khas rawa pesisir Aceh yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal.
Inovasi tersebut berhasil meraih pendanaan Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW) Tahun 2026 dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek).
Ketua Tim Nipharia, Teuku Arief Kamilussyifak, mengatakan ide bisnis ini lahir dari keprihatinan terhadap masih rendahnya pemanfaatan buah nipah serta minimnya literasi gizi di kalangan generasi muda.
“Kami melihat ada kesenjangan antara kekayaan hayati di pesisir Aceh dengan gaya hidup urban modern. Nipharia hadir untuk mengisi celah itu. Kami ingin membuktikan bahwa komoditas lokal, jika diolah dengan riset dan branding yang tepat, bisa menjadi produk unggulan yang membanggakan,” ujar Arief.
Nipharia dikemas dalam bentuk cold brew kopi yang dipadukan dengan sirup dan jeli nipah sebagai pemanis alami. Selain menawarkan cita rasa yang khas dan menyegarkan, minuman ini juga memiliki kandungan serat yang bermanfaat bagi kesehatan.
Dosen pembimbing tim, Fakhri Ramadhan, M.Sc., menjelaskan bahwa pengembangan Nipharia dilakukan melalui pendekatan yang terstruktur, mulai dari proses produksi hingga strategi pemasaran, guna memastikan keberlanjutan usaha.
“Kami ingin Nipharia tidak sekadar meramaikan industri food and beverage (F&B), tetapi juga memberikan dampak nyata bagi perekonomian masyarakat pesisir serta menjaga keberlanjutan lingkungan rawa,” katanya.
Produk Nipharia telah mendapat respons positif dari pasar. Dalam ajang Bhayangkara Fest, seluruh stok yang dipasarkan habis terjual. Saat ini, minuman tersebut dipasarkan dengan harga Rp20.000 per botol melalui kantin kampus AAC dan FEB USK, sejumlah kedai kopi lokal, serta kegiatan Car Free Day (CFD) di Banda Aceh.
Ke depan, tim Nipharia berkomitmen mengembangkan produk dengan berfokus pada empat pilar utama, yakni meningkatkan nilai komoditas pesisir, mendorong gaya hidup sehat, memberdayakan ekonomi masyarakat lokal, dan mendukung pelestarian ekosistem rawa.
Arief menegaskan, usaha yang dirintis bersama timnya juga merupakan bentuk kontribusi terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs).
“Kami berharap Nipharia menjadi pelopor pengembangan agroindustri berbasis bahan baku lokal yang mampu bersaing di pasar modern,” ujarnya.
Tim Nipharia terdiri atas Teuku Arief Kamilussyifak, Zia Mahira, Muhammad Nabil, Muhammad Isra Aguza dari Program Studi Manajemen, serta Balqis Nabilah Putri dari Program Studi Teknologi Hasil Pertanian.(*)












