Kiwirok, Papua Pegunungan — Di tengah suasana Idul Fitri 1447 Hijriah yang identik dengan kebersamaan keluarga, tidak semua pihak memiliki kesempatan untuk pulang dan merayakan hari raya bersama orang tercinta. Di wilayah Kiwirok, Papua Pegunungan, personel Satgas Operasi Damai Cartenz 2026 tetap menjalankan tugas demi menjaga stabilitas keamanan dan ketertiban masyarakat, Sabtu (21/3/2026).
Berbeda dengan daerah lain yang dipenuhi kehangatan Lebaran, situasi di Kiwirok masih diwarnai dinamika keamanan. Aktivitas masyarakat sehari-hari seperti pergi ke pasar, mengakses layanan kesehatan, hingga mengantar anak ke sekolah masih sangat bergantung pada kondisi di lapangan.
Bagi masyarakat setempat, rasa aman menjadi kebutuhan mendasar. Para orang tua berharap anak-anak dapat bersekolah tanpa rasa takut, pedagang kecil ingin menjalankan usaha dengan tenang, sementara keluarga lainnya hanya ingin menjalani kehidupan normal tanpa kekhawatiran.
Dalam kondisi tersebut, kehadiran Satgas Operasi Damai Cartenz 2026 menjadi bagian penting dari upaya negara menghadirkan keamanan. Tidak hanya fokus pada penegakan hukum, aparat juga mengedepankan pendekatan yang terukur dan bertanggung jawab dalam setiap langkahnya.
Kepala Operasi Damai Cartenz-2026, Irjen Pol. Dr. Faizal Ramadhani, S.Sos., S.I.K., M.H., menegaskan bahwa upaya yang dilakukan tidak semata-mata berorientasi pada keamanan, tetapi juga membangun kebersamaan di tengah masyarakat.
“Upaya yang kami lakukan bertujuan untuk memastikan masyarakat dapat hidup dalam suasana yang aman, penuh kebersamaan, dan saling melindungi satu sama lain. Stabilitas yang dibangun bukan hanya soal situasi yang kondusif, tetapi juga tentang bagaimana kepercayaan dan rasa persaudaraan dapat tumbuh,” ujarnya.
Senada dengan itu, Wakil Kepala Operasi Damai Cartenz-2026, Kombes Pol. Adarma Sinaga, S.I.K., M.Hum., menyampaikan bahwa pendekatan humanis menjadi kunci dalam pelaksanaan tugas di lapangan.
“Kami hadir tidak hanya untuk menjaga keamanan, tetapi juga memberikan rasa tenang kepada masyarakat agar dapat kembali menjalankan aktivitas sehari-hari secara normal. Melalui komunikasi yang baik, kami berupaya mendengar kebutuhan masyarakat dan memberikan perlindungan yang nyata,” jelasnya.
Pendekatan humanis tersebut diwujudkan melalui interaksi langsung dengan masyarakat, mendengarkan aspirasi warga, serta membangun kepercayaan. Di sejumlah titik, kehadiran aparat mulai memberikan dampak positif, ditandai dengan mulai pulihnya aktivitas sosial dan ekonomi.
Meski demikian, menjaga stabilitas di wilayah dengan tantangan kompleks seperti Kiwirok bukanlah hal yang instan. Dibutuhkan konsistensi, kesabaran, serta sinergi berbagai pihak agar keamanan dapat terwujud secara berkelanjutan.
Di balik tugas tersebut, para personel tetap menjalankan pengabdian jauh dari keluarga, termasuk di momen hari raya. Namun, pengorbanan itu menjadi bagian dari tanggung jawab negara untuk memastikan setiap warga, di mana pun berada, dapat merasakan rasa aman.
Pada akhirnya, ketenangan bukan hanya tentang kondisi yang terkendali, tetapi tentang harapan masyarakat yang terus dijaga melalui kerja nyata yang konsisten dan berlandaskan nilai kemanusiaan.(*)













