BeritaHeadline

Penyakit Jantung, Stroke, hingga PPOK, Ancaman Serius bagi Kesehatan Lansia

×

Penyakit Jantung, Stroke, hingga PPOK, Ancaman Serius bagi Kesehatan Lansia

Share this article
Praktisi kesehatan masyarakat, Syamsul, SKM, MKM, memaparkan materi tentang penyakit kronis dan upaya pencegahan pada lansia dalam kegiatan sosialisasi dan edukasi isu kesehatan di Banda Aceh. Foto: (Suara Aceh).

BANDA ACEH – Penyakit kardiovaskular, diabetes melitus, stroke, hipertensi, hingga Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) menjadi ancaman serius bagi kesehatan lanjut usia (lansia). Seiring meningkatnya angka harapan hidup, jumlah lansia pun terus bertambah, diikuti dengan meningkatnya risiko penyakit tidak menular yang bersifat kronis dan progresif.

Selain penyakit-penyakit tersebut, berbagai gangguan lain seperti masalah mobilitas, penurunan fungsi sensorik, gangguan kognitif, hingga infeksi turut memperburuk kualitas hidup kelompok usia lanjut apabila tidak ditangani secara tepat dan berkelanjutan.

Praktisi kesehatan masyarakat, Syamsul, SKM, MKM, menegaskan bahwa sebagian besar penyakit pada lansia berkembang secara perlahan dan kerap tidak disadari hingga menimbulkan komplikasi berat.

“Banyak lansia datang berobat ketika kondisi sudah dalam tahap lanjut. Padahal, deteksi dini dan pengendalian faktor risiko sejak awal sangat penting untuk mencegah dampak yang lebih serius,” ujarnya di Banda Aceh, Jumat (27/2/2026).

Penyakit kardiovaskular masih menjadi penyebab kematian tertinggi pada lansia. Kondisi ini mencakup hipertensi, gagal jantung, dan penyakit jantung koroner akibat penyempitan pembuluh darah.

Faktor risiko utama penyakit jantung antara lain usia lanjut, obesitas, diabetes, gaya hidup kurang aktif, kebiasaan merokok, pola makan tinggi lemak dan garam, serta riwayat keluarga dengan penyakit serupa. Kombinasi faktor-faktor tersebut membuat lansia berada pada posisi yang sangat rentan.

Hipertensi atau tekanan darah tinggi sering disebut sebagai “pembunuh senyap” karena tidak menimbulkan gejala khas. Banyak penderita merasa sehat, padahal tekanan darahnya terus merusak pembuluh darah secara perlahan. Jika tidak dikendalikan, hipertensi dapat memicu stroke, gagal ginjal, hingga serangan jantung.

“Pemeriksaan tekanan darah seharusnya menjadi rutinitas, bukan hanya saat merasa sakit. Lansia perlu kontrol berkala meskipun tidak ada keluhan,” kata Syamsul.

Selain penyakit jantung, diabetes melitus tipe 2 juga banyak dialami lansia. Penyakit ini terjadi ketika tubuh tidak mampu memproduksi atau menggunakan insulin secara efektif sehingga kadar gula darah meningkat.

Jika tidak terkontrol, diabetes dapat menyebabkan berbagai komplikasi serius seperti kerusakan saraf (neuropati), gangguan ginjal, kebutaan, luka yang sulit sembuh, hingga meningkatkan risiko stroke dan penyakit jantung.

Gejala yang perlu diwaspadai antara lain sering merasa haus, sering buang air kecil, penurunan berat badan tanpa sebab jelas, serta kesemutan pada tangan atau kaki. Namun, tidak sedikit lansia yang tidak menyadari gejala tersebut.

Pengendalian diabetes dilakukan melalui pengaturan pola makan, aktivitas fisik teratur, pengelolaan berat badan, serta penggunaan obat atau insulin sesuai anjuran dokter. Edukasi keluarga juga menjadi faktor penting agar pengobatan berjalan konsisten.
Stroke dan Dampaknya pada Kemandirian

Stroke menjadi salah satu kondisi darurat medis yang paling mengubah kehidupan lansia secara drastis. Stroke terjadi ketika aliran darah ke otak terganggu akibat penyumbatan atau pecahnya pembuluh darah.

Gejala stroke biasanya muncul mendadak, seperti kelemahan pada satu sisi tubuh, wajah mencong, gangguan bicara, mati rasa, hingga gangguan penglihatan. Penanganan cepat dalam “golden period” sangat menentukan tingkat pemulihan pasien.

Setelah serangan stroke, lansia umumnya memerlukan rehabilitasi jangka panjang, termasuk fisioterapi dan terapi wicara. Dukungan keluarga sangat dibutuhkan untuk membantu pasien beradaptasi dengan perubahan fisik dan psikologis.

Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) juga menjadi ancaman serius bagi lansia, terutama yang memiliki riwayat merokok. PPOK merupakan penyakit paru-paru progresif yang menyebabkan penyempitan saluran napas dan kesulitan bernapas.

Gejala PPOK meliputi sesak napas, batuk berkepanjangan, mengi (wheezing), nyeri dada, serta kelelahan. Pada tahap lanjut, penderita bisa mengalami keterbatasan aktivitas sehari-hari karena gangguan pernapasan yang semakin berat.
Penyebab utama PPOK adalah paparan jangka panjang terhadap asap rokok, baik sebagai perokok aktif maupun pasif. Selain itu, paparan polusi udara, bahan kimia, dan debu juga berkontribusi.

“Berhenti merokok adalah langkah paling efektif untuk mencegah dan memperlambat progresivitas PPOK,” tegas Syamsul.

Gangguan Mobilitas dan Sensorik
Selain penyakit kronis, lansia juga kerap mengalami gangguan mobilitas seperti osteoarthritis dan osteoporosis. Radang sendi menyebabkan nyeri dan keterbatasan gerak, sementara osteoporosis membuat tulang rapuh dan mudah patah.

Aktivitas fisik ringan seperti berjalan kaki, senam lansia, atau berenang dapat membantu menjaga kekuatan otot dan fleksibilitas sendi. Asupan kalsium dan vitamin D juga penting untuk menjaga kesehatan tulang.

Penurunan kemampuan sensorik seperti gangguan pendengaran (presbikusis), katarak, dan degenerasi makula juga sering terjadi. Gangguan ini dapat memengaruhi interaksi sosial dan kemandirian lansia.
Pemeriksaan mata dan pendengaran secara rutin dianjurkan agar gangguan dapat ditangani sejak dini, misalnya melalui penggunaan alat bantu dengar atau tindakan operasi katarak.

Masalah lain yang tak kalah penting adalah demensia dan delirium. Demensia ditandai dengan penurunan daya ingat dan fungsi kognitif secara progresif, sedangkan delirium muncul secara mendadak akibat kondisi medis tertentu seperti infeksi atau dehidrasi.

Lansia juga rentan terhadap infeksi seperti infeksi saluran kemih (ISK) dan pneumonia. Pada usia lanjut, ISK bisa muncul tanpa gejala khas dan hanya ditandai kebingungan atau kelemahan mendadak.
Vaksinasi influenza dan pneumonia, menjaga kebersihan diri, serta hidrasi yang cukup menjadi langkah penting dalam pencegahan infeksi.

Syamsul menekankan bahwa pendekatan promotif dan preventif harus menjadi prioritas dalam menjaga kesehatan lansia. Pemeriksaan tekanan darah, gula darah, dan kolesterol secara berkala, berhenti merokok, menjaga berat badan ideal, pola makan seimbang, serta olahraga teratur merupakan langkah utama pencegahan.

“Peran keluarga sangat penting dalam mendampingi lansia, baik dalam pengobatan maupun dukungan emosional. Lingkungan yang bersih, aman, dan nyaman juga berpengaruh besar terhadap kualitas hidup mereka,” katanya.

Dengan kesadaran yang tinggi, deteksi dini, serta pengelolaan yang tepat, berbagai penyakit pada lansia dapat dikendalikan. Lansia pun diharapkan tetap dapat menjalani masa tua dengan sehat, aktif, mandiri, dan bermartabat. (*)