HeadlinePariwara

Sejarah Siti Rubiah Perkuat Identitas Wisata Religi Pulau Rubiah

×

Sejarah Siti Rubiah Perkuat Identitas Wisata Religi Pulau Rubiah

Share this article

PARIWARA

Sejumlah pelajar mengikuti penjelasan pemandu mengenai sejarah Siti Rubiah di kompleks makam Siti Rubiah, Pulau Rubiah, Kota Sabang. Foto: (Dispar Sabang).

Sabang – Makam Siti Rubiah di Pulau Rubiah menjadi bagian penting dari jejak sejarah Islam di Sabang. Situs yang berada di tepi pantai ini tidak hanya memiliki nilai religius, tetapi juga memperkuat identitas kawasan sebagai destinasi wisata sejarah dan bahari yang kian berkembang.

Pulau Rubiah selama ini dikenal luas sebagai salah satu lokasi snorkeling dan diving terbaik di Aceh. Namun di balik kejernihan laut dan keindahan terumbu karangnya, pulau kecil di sekitar Pantai Iboih tersebut menyimpan kisah dakwah Islam yang telah berlangsung sejak abad ke-18.

Pemerhati sejarah Sabang, Albina Ar Rahman, menjelaskan Siti Rubiah merupakan istri Tengku Ibrahim atau Tengku Iboih, ulama yang dikenal sebagai penyebar Islam di Pulau Weh. Menurutnya, keberadaan makam Siti Rubiah menjadi bukti bahwa peran perempuan dalam dakwah Islam telah tercatat dalam sejarah wilayah paling barat Indonesia tersebut.

“Pulau ini dinamai dari Siti Rubiah sebagai bentuk penghormatan atas jasa beliau dalam penyebaran Islam di Pulau Weh. Beliau adalah sosok perempuan yang dihormati dan menjadi bagian penting dari sejarah keislaman Sabang,” ujar Albina, Jumat (16/01/2026).

Ia menambahkan, Siti Rubiah diduga berasal dari Singkil dan wafat sekitar tahun 1779 pada masa pemerintahan Sultan Ala’ al-Din Johan Syah dan Sultan Mahmud Syah. Makamnya berada di kawasan yang relatif teduh, berdampingan dengan beberapa makam kerabat dan pengawalnya.

Kompleks makam tersebut juga dilengkapi sumber mata air tawar yang hingga kini dimanfaatkan peziarah untuk berwudu sebelum berdoa. Suasana hening dengan latar suara debur ombak menciptakan nuansa spiritual yang kuat bagi pengunjung.

“Nilai sejarah dan religius inilah yang menjadi kekuatan utama Pulau Rubiah, selain pesona alamnya,” kata Albina.

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Kota Sabang, Harry Susethia, menilai sejarah Pulau Rubiah merupakan potensi strategis dalam pengembangan sektor pariwisata daerah. Menurutnya, narasi sejarah mampu memberikan pengalaman berbeda bagi wisatawan yang berkunjung.

“Sejarah Siti Rubiah dan jejak karantina haji era Hindia Belanda menjadi potensi besar untuk dikemas sebagai wisata edukatif. Ini memperkaya pengalaman wisatawan yang datang tidak hanya untuk snorkeling dan diving,” ujarnya.

Harry menjelaskan, Pulau Rubiah juga pernah ditetapkan sebagai pusat karantina haji pertama di Nusantara pada dekade 1920-an. Pada masa itu, calon jemaah haji dari berbagai daerah di Indonesia singgah di pulau tersebut untuk menjalani pemeriksaan kesehatan sebelum berangkat ke Tanah Suci.

Bangunan karantina haji yang masih menyisakan struktur lama menjadi saksi perjalanan sejarah panjang ibadah haji Indonesia. Saat pendudukan Jepang pada 1942, kawasan itu sempat beralih fungsi, menambah dinamika sejarah Pulau Rubiah.

Menurut Harry, penguatan narasi sejarah ini penting sebagai upaya diversifikasi destinasi wisata Sabang. Wisatawan saat ini tidak hanya mencari panorama alam, tetapi juga pengalaman yang sarat makna dan nilai edukatif.

“Kami ingin wisatawan mendapatkan pengalaman yang utuh, menikmati keindahan laut sekaligus memahami sejarah dan budaya yang melekat di Pulau Rubiah,” katanya.

Upaya pelestarian situs sejarah juga melibatkan masyarakat setempat. Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Iboih, Tarmizi, mengatakan peran pemuda sangat penting dalam menjaga kebersihan serta kelestarian kawasan

“Kami mengajak pemuda untuk menjaga kebersihan dan menghormati nilai sejarah yang ada di Pulau Rubiah. Edukasi kepada pengunjung juga terus kami lakukan agar situs ini tetap terawat dan tidak disalahartikan,” ujarnya.

Ia menegaskan, partisipasi generasi muda menjadi kunci keberlanjutan wisata berbasis sejarah dan religi. Selain menjaga lingkungan, mereka juga berperan sebagai duta informasi yang menjelaskan nilai historis kepada wisatawan.

Sejumlah kegiatan edukasi juga rutin dilakukan di kawasan makam. Pelajar dari berbagai sekolah di Sabang kerap mengunjungi kompleks tersebut untuk mendapatkan penjelasan langsung mengenai sejarah Siti Rubiah dan perkembangan Islam di Pulau Weh. Kegiatan ini dinilai efektif menanamkan kesadaran sejarah sejak dini.

Dengan perpaduan sejarah Islam, jejak karantina haji, serta keindahan terumbu karang, Pulau Rubiah kini semakin mengukuhkan posisinya sebagai destinasi yang memiliki dimensi religi dan bahari sekaligus. Kejernihan air laut dan kekayaan biota bawah laut tetap menjadi daya tarik utama, namun nilai sejarahnya memberikan lapisan makna yang lebih dalam.

Penguatan identitas wisata religi di Pulau Rubiah diharapkan mampu menjaga warisan budaya sekaligus meningkatkan daya saing pariwisata Sabang di tingkat nasional maupun internasional. Melalui sinergi pemerintah, masyarakat, dan pelaku wisata, kawasan ini diharapkan terus berkembang tanpa meninggalkan akar sejarahnya.

Pulau Rubiah pun tidak lagi sekadar tujuan wisata alam, melainkan ruang pembelajaran sejarah dan spiritualitas yang memperkaya pengalaman setiap pengunjung yang datang ke ujung barat Indonesia.(*)