EkonomiHeadline

Harga Emas di Banda Aceh Pecahkan Rekor Tertinggi, Rp8,1 Juta per Mayam

×

Harga Emas di Banda Aceh Pecahkan Rekor Tertinggi, Rp8,1 Juta per Mayam

Share this article
Pemilik Toko Emas Italy Pasar Aceh, M. Dava Farah Sabirah, melayani pembeli di tokonya di Pasar Aceh, Banda Aceh, Kamis (15/1/2026). Foto: (Suara Aceh).

Banda Aceh — Harga emas di Banda Aceh mencatat rekor tertinggi sepanjang masa pada Kamis, 15 Januari 2026. Berdasarkan pantauan di Toko Emas Italy Pasar Aceh, harga emas perhiasan 3,3 gram hari ini di jual di angka Rp8.100.000 per mayam belum termasuk ongkos pembuatan, harga tersebut sama seperti harga pada Rabu (14/1/2026).

Pemilik Toko Emas Italy Pasar Aceh, M. Dava Farah Sabirah, mengatakan meski harga emas perhiasan tidak mengalami perubahan, pergerakan harga emas batangan sempat fluktuatif sejak kemarin.
“Untuk emas batangan, dari kemarin ke pagi tadi sempat turun sekitar Rp10.000 per gram, lalu kembali naik sekitar Rp5.000 per gram hingga siang hari,” ujar Dava, Kamis (15/1/2026).

Meski begitu, ia menegaskan harga emas perhiasan tetap bertahan di level Rp8,1 juta per mayam. Menurutnya, angka tersebut merupakan rekor tertinggi harga emas perhiasan sepanjang sejarah.
“Kalau dibandingkan dua minggu lalu, harga emas sudah naik sekitar Rp500.000 per mayam. Ini kenaikan yang sangat fantastis,” katanya.

Sementara itu, untuk emas batangan, rekor tertinggi tercatat pada Rabu (14/1/2026), yang menjadi harga tertinggi sepanjang masa untuk kategori tersebut.
Kenaikan harga emas yang signifikan ini turut mendorong peningkatan minat masyarakat untuk berinvestasi.

Dava menyebut, dalam beberapa hari terakhir, mayoritas transaksi masih didominasi oleh pembelian.
“Pada saat harga terus naik kemarin, sekitar 95 persen transaksi adalah pembelian dan hanya 5 persen yang menjual, itu pun karena kebutuhan hidup. Sekarang dalam tiga hari terakhir, masih sekitar 80 persen beli dan 20 persen jual,” jelasnya.

Ia menilai masyarakat semakin sadar bahwa emas merupakan instrumen investasi yang aman dibandingkan menyimpan uang tunai yang nilainya tergerus inflasi.
Tak hanya itu, tingginya permintaan juga menyebabkan kelangkaan stok emas, terutama merek Antam.

Di Jakarta, antrean pembelian emas batangan disebut sangat panjang.
“Bahkan yang membawa uang ratusan juta rupiah hanya bisa mendapatkan 2 sampai 5 gram. Stok Antam kosong, begitu juga merek lain seperti UBS, semuanya langka karena diborong masyarakat,” ungkapnya.

Terkait prospek ke depan, Dava menilai harga emas masih berpotensi terus naik. Ia menyinggung kondisi global yang tidak stabil, termasuk dinamika politik dan kebijakan ekonomi Amerika Serikat yang berdampak langsung pada pasar keuangan dunia.
“Kalau kebijakan-kebijakan global semakin gaduh, potensi kenaikan harga emas bisa mencapai 5 sampai 12 persen. Saat ini peluang naik sekitar 80 persen, turun hanya 20 persen,” katanya.

Menurutnya, pelemahan saham-saham Amerika Serikat dan pasar global justru semakin menguatkan posisi emas sebagai aset lindung nilai yang dipercaya masyarakat dunia.
“Makanya sekarang emas yang dicari. Kepercayaan masyarakat terhadap emas sangat tinggi,” pungkas Dava. (*)