Banda Aceh – Harga emas di awal tahun 2026 terpantau relatif stabil setelah sempat mengalami fluktuasi pada akhir Desember 2025. Per 4 Januari 2026, harga emas di Pasar Aceh berada di kisaran Rp7.600.000 per mayam, belum termasuk ongkos pembuatan, dan bertahan di level tersebut selama sekitar empat hingga lima hari terakhir.
Pedagang Toko Emas Italy Pasar Aceh, M. Dava Farah Sabirah, mengatakan sebelumnya harga emas sempat naik akibat permainan harga di akhir tahun. Dari posisi sekitar Rp7.200.000, harga emas melonjak hingga Rp7.700.000 per mayam, sebelum akhirnya kembali turun dan stabil di Rp7,6 juta.
“Kalau kita lihat dari akhir tahun 2025 ke awal 2026, harga emas sempat mengalami penurunan sekitar Rp140.000 per mayam. Namun, sejak empat hari terakhir, harganya masih stabil di Rp7.600.000,” kata Dava, Minggu (4/1/2026).
Menurutnya, penurunan harga dari Rp7,7 juta ke Rp7,6 juta dipicu oleh aksi ambil untung investor asing yang menjual emas dalam jumlah besar. Kondisi tersebut berdampak pada penurunan harga di pasar.
“Investor besar ini menjual untuk ambil untung. Tapi nanti akan ada waktunya mereka membeli lagi secara borongan. Kalau itu terjadi, harga emas akan naik signifikan. Prediksi ke depan, harga emas bisa tembus Rp8 juta per mayam,” ujarnya.
Terkait aktivitas jual beli, Dava menyebutkan bahwa saat ini sekitar 70 persen masyarakat memilih membeli emas, sementara 30 persen lainnya menjual. Bahkan di sejumlah butik emas besar di Jakarta, stok emas dilaporkan kosong karena tingginya minat beli masyarakat.
“Di kota besar seperti Jakarta, antrean panjang dan stok kosong. Kalau di Banda Aceh, Alhamdulillah masih ada stok, meskipun tidak sampai berbondong-bondong. Daya beli masyarakat masih ada,” jelasnya.
Sementara itu, penjualan emas juga tetap terjadi, terutama dipicu oleh kebutuhan ekonomi. Banyak masyarakat dari daerah seperti Aceh Tamiang, Bener Meriah, Takengon, hingga Pidie Jaya datang ke Banda Aceh untuk menjual emas, termasuk mahasiswa dan anak kos yang membutuhkan biaya pulang kampung.
“Banyak yang jual emas karena kebutuhan mendesak, seperti ongkos pulang. Apalagi di daerah, masih banyak toko emas yang tutup, jadi mereka memilih menjual ke Banda Aceh,” kata Dava.
Memasuki awal tahun yang identik dengan musim pernikahan, Dava mencatat adanya kenaikan daya beli mahar sekitar 15 persen. Namun, jumlah emas yang dijadikan mahar mengalami penurunan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
“Kalau dua tahun lalu, mahar itu rata-rata 20 hingga 40 mayam. Tapi sejak 2025 sampai 2026, jumlah mayam cenderung berkurang karena harga emas sudah sangat mahal,” ujarnya.
Ia menambahkan, saat ini penentuan jumlah mahar emas tidak lagi dipatok seperti sebelumnya, melainkan disesuaikan dengan kemampuan calon mempelai pria.
“Sekarang lebih fleksibel. Berapa mampunya. Kalau dulu standar 20–30 mayam, sekarang sudah jarang karena harga mahal. Satu mayam saja nilainya sudah tinggi,” pungkas Dava.(*)













