Banda Aceh – Pemerintah Aceh memastikan ketersediaan Bahan Bakar Minyak (BBM) di wilayah terdampak bencana berangsur normal dan dalam kondisi aman. Meski sempat terjadi antrean di sejumlah SPBU, hal tersebut lebih disebabkan oleh lonjakan permintaan masyarakat, bukan karena kelangkaan stok.
Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Aceh, Taufik, ST, M.Si, menegaskan bahwa sejak hari pertama bencana, stok BBM sebenarnya mencukupi. Distribusi dilakukan dari sejumlah depo yang tersebar di beberapa wilayah Aceh.
“Untuk BBM, alhamdulillah sekarang sudah berangsur-ansur normal. Stok dari awal cukup, karena kita punya depo di beberapa titik seperti Lhokseumawe, Krueng Raya, dan Meulaboh. Tinggal persoalan distribusi yang sempat melambat karena kondisi lapangan,” kata Taufik.
Ia menjelaskan, antrean BBM yang terjadi beberapa hari lalu dipicu oleh kepanikan masyarakat akibat tingginya kebutuhan harian, ditambah adanya keterbatasan teknis pengisian di SPBU industri yang harus mengikuti prosedur waktu tertentu.
Sementara itu, untuk Liquefied Petroleum Gas (LPG), distribusi masih menghadapi tantangan akibat terputusnya jalur darat sehingga membuat pasokan LPG dari Satuan Pengisian Bulk Elpiji (SPBE) yang melayani Aceh Besar, Pidie, Aceh Jaya hingga wilayah pantai barat harus dialihkan melalui jalur laut.
“Kuota LPG secara data sebenarnya cukup. Namun karena permintaan masyarakat melonjak tajam, distribusi menjadi terasa lambat. Ini bukan karena LPG tidak ada, tapi karena permintaan hari ini sangat tinggi,” ujarnya.
Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, Dinas ESDM Aceh telah mengirimkan surat resmi kepada kementerian terkait sejak 5 Desember lalu guna meminta penambahan kuota LPG sebagai langkah antisipatif.
Selain itu, distribusi LPG terus diperkuat. Dalam beberapa hari terakhir, masing-masing delapan skid tank LPG telah didistribusikan ke wilayah Banda Aceh, Aceh Jaya, Aceh Barat hingga kawasan pantai barat. Bahkan, pengiriman langsung dari Medan ke pantai barat juga telah dilakukan.
“Kami juga terus berkoordinasi dengan Pertamina dan pihak pelayaran untuk penambahan kapal pengangkut LPG. Dengan penambahan kapal, volume LPG yang masuk bisa lebih besar dan distribusi lebih cepat,” jelas Taufik.
Menurutnya, pengiriman LPG dari kilang Arun yang sebelumnya mengandalkan jalur darat kini sepenuhnya dialihkan melalui jalur laut, dengan waktu tempuh sekitar 10 jam dalam kondisi cuaca normal.
“Target kita, dalam beberapa hari ke depan antrean LPG mulai berkurang dan kondisi kembali normal. Kita terus bekerja dan berkoordinasi dengan pemerintah daerah agar pemulihan distribusi energi di Aceh bisa berjalan cepat dan stabil,” pungkasnya.(*)













