BeritaHeadline

Dua Jam Tanpa Sekat : Silaturahmi dan Pesan Syech Muharram untuk SMSI Aceh Besar

×

Dua Jam Tanpa Sekat : Silaturahmi dan Pesan Syech Muharram untuk SMSI Aceh Besar

Share this article
Bupati Aceh Besar Muharram Idris (Syech Muharram) foto bersama pengurus SMSI Aceh Besar dalam pertemuan silaturahmi di salah satu warung kopi kawasan Lampenerut, Aceh Besar, Rabu (9/9/2026). Foto: (SMSI Aceh Besar).

Aceh Besar — Di tengah padatnya agenda sebagai kepala daerah, Bupati Aceh Besar Muharram Idris, atau yang akrab disapa Syech Muharram, menyempatkan diri menerima silaturahmi pengurus Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Kabupaten Aceh Besar.

Pertemuan itu berlangsung dalam suasana sederhana dan penuh keakraban di sebuah warung kopi di kawasan Lampenerut, Aceh Besar, Rabu (9/9/2026).

Tak ada suasana formal layaknya pertemuan pemerintahan. Yang tampak justru percakapan santai, sesekali diselingi kopi dan obrolan tentang Aceh Besar. Namun, di balik suasana sederhana tersebut, terselip pembicaraan penting tentang bagaimana pers dan pemerintah dapat berjalan beriringan untuk menyampaikan informasi pembangunan kepada masyarakat.

SMSI Aceh Besar hadir diwakili Ketua Zulfikar, Sekretaris Sadhali, dan Bendahara Azhari Usman serta Anggota T. Khairul Razi.

Bagi SMSI, silaturahmi tersebut bukan sekadar agenda memperkenalkan kepengurusan. Lebih dari itu, pertemuan menjadi momentum untuk membangun komunikasi dengan Pemerintah Kabupaten Aceh Besar, sekaligus memperkuat peran media dalam mengawal pembangunan daerah.

Ketua SMSI Aceh Besar, Zulfikar, menyampaikan bahwa pihaknya siap membangun kolaborasi dengan jajaran Pemerintah Kabupaten Aceh Besar, terutama dalam menyebarluaskan berbagai program dan kerja pemerintah kepada masyarakat.

Menurutnya, pembangunan tidak cukup hanya dilakukan. Hasil dan prosesnya juga perlu diketahui masyarakat melalui informasi yang benar, berimbang, dan dapat dipertanggungjawabkan.

“Media memiliki tanggung jawab untuk menyampaikan informasi kepada masyarakat. Kami siap berkolaborasi dengan Pemerintah Kabupaten Aceh Besar untuk memberitakan berbagai program dan kerja pemerintah agar diketahui masyarakat luas,” kata Zulfikar.

Ia juga menyampaikan bahwa dirinya telah menerima mandat untuk membentuk kepengurusan SMSI Kabupaten Aceh Besar. Proses tersebut, kata dia, telah dipersiapkan dan dalam waktu dekat kepengurusan SMSI Aceh Besar siap dibentuk secara resmi.

Kehadiran SMSI di Aceh Besar katanya diharapkan tidak hanya menjadi wadah bagi perusahaan media siber, tetapi juga dapat menjadi bagian dari ekosistem pers yang sehat di daerah.

Zulfikar menegaskan komitmennya untuk terus memberikan kontribusi melalui kerja-kerja jurnalistik dan organisasi demi mendorong Aceh Besar menjadi daerah yang semakin baik.

“Insyaallah, kami akan terus berkontribusi untuk Aceh Besar yang lebih baik,” ujarnya.

Syech Muharram menyambut baik kehadiran pengurus SMSI Aceh Besar. Ia menilai keberadaan organisasi media di daerah dapat memberikan kontribusi positif terhadap pembangunan, terutama dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat.

Bupati berharap SMSI tidak hanya hadir sebagai organisasi profesi dan perusahaan media, tetapi mampu memberikan dampak nyata bagi kemajuan Aceh Besar.

Dalam pandangan Syech Muharram, pers memiliki posisi penting dalam kehidupan masyarakat. Media dapat menjadi jembatan yang menghubungkan pemerintah dengan rakyat, sekaligus menjadi ruang bagi masyarakat untuk mengetahui berbagai perkembangan pembangunan.

“Peran tersebut harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab,” tegasnya.

Syech mengaku memahami kerja-kerja pers dan dinamika yang dihadapi wartawan dalam menjalankan tugas jurnalistik. Karena itu, ia berharap media tetap mengedepankan profesionalisme dan ketelitian dalam menyampaikan setiap informasi.

Salah satu pesan yang disampaikannya sederhana, tetapi penting: jangan memberitakan hoaks.

Pesan tersebut kata Syech menjadi pengingat bahwa di tengah derasnya arus informasi digital, kecepatan bukan satu-satunya ukuran keberhasilan media. Akurasi, verifikasi, keberimbangan, dan tanggung jawab kepada publik tetap menjadi fondasi utama.

“Bagi masyarakat, sebuah berita bukan sekadar rangkaian kata yang muncul di layar telepon genggam. Berita dapat membentuk persepsi, memengaruhi keputusan, bahkan menentukan bagaimana publik melihat pemerintah dan berbagai persoalan di sekitarnya,” ungkap Syech Muharram.

Karena itu, katanya kolaborasi antara pemerintah dan pers idealnya bukan hubungan untuk saling menguntungkan secara sepihak. “Pemerintah membutuhkan media untuk menyampaikan informasi pembangunan, sementara media membutuhkan akses informasi yang terbuka agar dapat menjalankan fungsi kontrol sosial secara profesional,” harap Bupati hasil Pilkada 2024 lalu yang berpasangan dengan Syukri.

Di titik inilah pertemuan sederhana di sebuah warung kopi di Lampenerut itu menemukan maknanya.

Secangkir kopi berlangsung hampir dua jam, percakapan tentang masa depan Aceh Besar membutuhkan waktu yang jauh lebih panjang.

Pemerintah bekerja dengan program dan kebijakannya. Pers bekerja dengan pena, kamera, mikrofon, dan ruang pemberitaan. Sementara masyarakat menjadi pihak yang pada akhirnya menerima manfaat sekaligus menilai hasil dari setiap proses pembangunan.(*)