SABANG – Jumlah kunjungan wisatawan ke Sabang sepanjang tahun 2025 tercatat sebanyak 270.971 orang. Angka tersebut mengalami penurunan signifikan dibandingkan tahun 2024 yang mencapai 739.333 kunjungan.
Data tersebut menunjukkan adanya penurunan rata-rata sekitar 54 persen dalam kurun waktu satu tahun. Kondisi ini menjadi perhatian serius Pemerintah Kota Sabang, mengingat sektor pariwisata merupakan salah satu tulang punggung perekonomian daerah kepulauan tersebut.
Kepala Dinas Pariwisata Kota Sabang, Harry Susethia, mengatakan bahwa penurunan tersebut dipengaruhi oleh sejumlah faktor eksternal, termasuk dampak bencana yang melanda sejumlah wilayah di Aceh.
“Di tahun 2025 jumlah wisatawan yang menuju Kota Sabang dengan perbandingan tahun 2024 sangat jauh berkurang, hampir sekitar 54 persen rata-rata. Situasi ini dipengaruhi sejumlah faktor eksternal,” ujar Harry, Minggu (8/2/2026).
Dari total 270.971 wisatawan yang berkunjung sepanjang 2025, mayoritas merupakan wisatawan nusantara. Jumlah wisatawan domestik tercatat sebanyak 262.892 orang. Sementara itu, wisatawan mancanegara hanya mencapai 8.079 orang.
Jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, penurunan tidak hanya terjadi pada wisatawan domestik, tetapi juga pada kunjungan turis asing. Padahal, Sabang selama ini dikenal sebagai salah satu destinasi unggulan di ujung barat Indonesia, dengan daya tarik wisata bahari, sejarah, dan panorama alam yang khas.
Harry menjelaskan, salah satu faktor utama yang memengaruhi turunnya angka kunjungan adalah bencana yang terjadi di hampir 18 kabupaten/kota di Aceh pada November lalu. Kondisi tersebut berdampak terhadap mobilitas masyarakat dan persepsi keamanan perjalanan.
“Situasi tersebut turut memengaruhi minat perjalanan wisata ke Sabang. Dampaknya terlihat pada penurunan jumlah kunjungan sepanjang tahun 2025,” jelasnya.
Menurutnya, ketika terjadi bencana di sejumlah daerah, masyarakat cenderung menunda perjalanan wisata. Selain itu, akses transportasi dan distribusi logistik juga sempat terganggu, sehingga memengaruhi arus kunjungan wisatawan ke Sabang.
Sabang yang merupakan wilayah kepulauan memang sangat bergantung pada kelancaran transportasi laut dan udara. Setiap gangguan cuaca ekstrem maupun kondisi darurat di daratan Aceh dapat berdampak langsung terhadap jumlah wisatawan yang masuk.
Penurunan angka kunjungan ini tentu berdampak pada sektor ekonomi lokal. Pelaku usaha perhotelan, homestay, restoran, transportasi wisata, hingga pelaku UMKM merasakan penurunan omzet sepanjang 2025. Beberapa pelaku usaha bahkan terpaksa mengurangi operasional akibat rendahnya tingkat hunian.
Meski demikian, Pemerintah Kota Sabang tidak tinggal diam. Dinas Pariwisata bersama pemangku kepentingan terkait terus melakukan berbagai upaya pemulihan. Salah satunya melalui promosi destinasi secara digital, kolaborasi dengan komunitas, serta penyelenggaraan event wisata untuk menarik kembali minat kunjungan.
Harry menyebutkan, pihaknya juga mendorong inovasi produk wisata agar Sabang tetap kompetitif di tengah persaingan destinasi lain. Pengembangan wisata berbasis pengalaman (experience-based tourism) dan penguatan konsep wisata ramah lingkungan menjadi fokus ke depan.
“Kami berharap kondisi pariwisata dapat kembali pulih secara bertahap. Berbagai upaya promosi dan pembenahan terus kami lakukan untuk meningkatkan kembali angka kunjungan wisatawan,” katanya.
Selain promosi, pemerintah daerah juga berupaya memperkuat sinergi dengan pelaku industri pariwisata, termasuk agen perjalanan dan pengelola objek wisata. Diharapkan, dengan koordinasi yang lebih solid, program pemulihan dapat berjalan lebih efektif.
Optimisme tetap dijaga, mengingat Sabang memiliki potensi besar yang sulit tergantikan. Destinasi seperti Pantai Iboih, Kilometer Nol Indonesia, dan berbagai spot diving kelas dunia masih menjadi magnet utama bagi wisatawan. Keindahan alam bawah laut serta suasana pulau yang relatif tenang menjadi nilai tambah tersendiri.
Di sisi lain, peningkatan kualitas layanan dan infrastruktur juga menjadi pekerjaan rumah yang terus dibenahi. Pemerintah daerah menyadari bahwa pemulihan tidak hanya bergantung pada promosi, tetapi juga pada kenyamanan dan keamanan wisatawan selama berkunjung.
Memasuki tahun 2026, Pemko Sabang menargetkan adanya peningkatan kunjungan secara bertahap. Momentum libur panjang, event daerah, serta perbaikan kondisi pascabencana diharapkan mampu mengembalikan kepercayaan wisatawan.
Penurunan hingga 54 persen pada 2025 menjadi catatan penting bagi seluruh pemangku kepentingan. Namun, pemerintah daerah optimistis sektor pariwisata Sabang akan kembali bangkit seiring membaiknya situasi dan meningkatnya mobilitas masyarakat.
Dengan strategi promosi yang tepat, inovasi produk wisata, serta dukungan semua pihak, Sabang diharapkan mampu kembali menarik minat wisatawan, baik domestik maupun mancanegara, dan mengembalikan sektor pariwisata sebagai penggerak utama ekonomi daerah.(*)













