HeadlinePariwara

Masjid Kampung Haji Sabang, Jejak Embarkasi Haji Pertama Nusantara yang Sarat Sejarah

×

Masjid Kampung Haji Sabang, Jejak Embarkasi Haji Pertama Nusantara yang Sarat Sejarah

Share this article

PARIWARA

Masjid Kampung Haji yang terletak di Gampong Kuta Timu, Sabang, menjadi jejak embarkasi haji pertama di Nusantara sejak 1914 dan saksi sejarah perjalanan jemaah pada masa kolonial. Foto: (Dispar Sabang).

SABANG – Di ujung barat Indonesia, sebuah bangunan tua berdiri tenang menyimpan kisah panjang perjalanan spiritual umat Islam Nusantara. Masjid Kampung Haji yang terletak di Gampong Kuta Timu, Kecamatan Sukakarya, menjadi penanda penting peran Sabang sebagai embarkasi haji pertama di Nusantara sejak 1914.

Masjid ini dibangun pada masa kolonial oleh perusahaan Belanda, Sabang Maatschappij. Pada awal abad ke-20, Sabang dikenal sebagai pelabuhan bebas dan gerbang perdagangan internasional yang strategis. Posisi geografisnya di jalur pelayaran internasional menjadikan kota ini titik persinggahan penting, termasuk bagi calon jemaah haji dari berbagai wilayah Hindia Belanda.

Masjid Kampung Haji kala itu difungsikan sebagai tempat pelaksanaan manasik dan pembekalan ibadah sebelum para jemaah diberangkatkan ke Tanah Suci. Setelah menjalani persiapan, para calon haji dikarantina terlebih dahulu di Pulau Rubiah sebelum melanjutkan perjalanan melalui Pelabuhan Sabang.

Pemerhati sejarah Sabang, Albina Ar Rahman, mengatakan masjid tersebut merupakan saksi bisu dinamika perjalanan haji pada masa kolonial. Menurutnya, keberadaan Masjid Kampung Haji bukan sekadar tempat ibadah, melainkan bagian dari sejarah maritim dan mobilitas umat Islam Nusantara.

“Masjid Kampung Haji mencerminkan peran strategis Sabang sebagai gerbang internasional sejak awal abad ke-20. Di sinilah jemaah dari berbagai wilayah Nusantara mempersiapkan diri sebelum berlayar menuju Tanah Suci,” ujar Albina, Sabtu (7/2/2026).

Ia menjelaskan, pada masa itu perjalanan haji memerlukan waktu yang sangat panjang dan penuh risiko. Para jemaah menempuh perjalanan laut berbulan-bulan menggunakan kapal uap. Karena itu, proses manasik dan pemeriksaan kesehatan menjadi tahapan penting sebelum keberangkatan.

Pulau Rubiah sendiri difungsikan sebagai lokasi karantina untuk memastikan para calon jemaah dalam kondisi sehat sebelum berlayar. Kebijakan ini merupakan bagian dari regulasi pemerintah kolonial yang ingin mengendalikan arus perjalanan sekaligus mencegah penyebaran penyakit menular.

Dari sisi arsitektur, Masjid Kampung Haji masih mempertahankan karakter bangunan awalnya. Struktur utama tetap kokoh dengan bentuk sederhana namun fungsional. Meski telah mengalami renovasi pada bagian atap dan beberapa area luar, elemen inti bangunan tetap terjaga sehingga nilai historisnya tidak hilang.

Ciri arsitektur kolonial tampak pada bentuk jendela, ventilasi, serta tata ruang yang dirancang untuk sirkulasi udara maksimal. Hal ini mencerminkan adaptasi desain Eropa dengan iklim tropis. Perpaduan fungsi religius dan pendekatan arsitektur kolonial menjadikan masjid ini unik dibandingkan masjid-masjid lain di Aceh.

Selain nilai sejarahnya, masjid ini juga menjadi simbol pertemuan berbagai budaya di masa lampau. Sabang sebagai pelabuhan internasional kala itu menjadi titik temu pedagang, pelaut, dan jemaah dari beragam latar belakang etnis. Interaksi tersebut memperkaya dinamika sosial dan budaya masyarakat setempat.

Kepala Dinas Pariwisata Kota Sabang, Harry Susethia, menyatakan dukungannya terhadap pengembangan wisata sejarah di kawasan tersebut. Menurutnya, Masjid Kampung Haji memiliki potensi besar sebagai destinasi wisata religi yang edukatif.

“Kami mendorong pelestarian situs-situs bersejarah seperti Masjid Kampung Haji agar dapat menjadi daya tarik wisata berbasis sejarah dan religi. Ini sekaligus memperkaya ragam destinasi di Sabang selain wisata bahari,” kata Harry.

Ia menambahkan, keterkaitan Masjid Kampung Haji dengan Pulau Rubiah menjadi narasi sejarah yang kuat untuk dikembangkan dalam paket wisata tematik. Wisatawan tidak hanya menikmati panorama alam dan keindahan bawah laut, tetapi juga diajak memahami jejak sejarah perjalanan haji di masa lampau.

Menurutnya, pengembangan wisata berbasis sejarah dapat menjadi strategi diversifikasi destinasi di Sabang. Selama ini, kota tersebut lebih dikenal dengan wisata bahari seperti Pantai Iboih dan titik Kilometer Nol Indonesia. Padahal, Sabang juga menyimpan warisan sejarah yang tak kalah penting.

Selain Masjid Kampung Haji, wisata religi di Sabang juga dapat ditemukan di Masjid Agung Babussalam yang berdiri sejak 1970 di kawasan Kota Atas. Keberadaan berbagai situs ini mempertegas posisi Sabang sebagai destinasi yang memadukan keindahan alam, nilai sejarah, dan kekayaan spiritual dalam satu kawasan di Pulau Weh.

Upaya pelestarian Masjid Kampung Haji diharapkan tidak hanya berhenti pada perawatan fisik bangunan, tetapi juga penguatan narasi sejarahnya. Dokumentasi arsip, papan informasi, serta paket tur edukatif dapat menjadi langkah konkret untuk memperkenalkan nilai historisnya kepada generasi muda.

Di tengah geliat pariwisata modern, Masjid Kampung Haji berdiri sebagai pengingat bahwa Sabang pernah memainkan peran penting dalam perjalanan spiritual umat Islam Nusantara. Bangunan sederhana itu menjadi saksi bisu ribuan langkah jemaah yang berangkat menunaikan rukun Islam kelima, membawa harapan dan doa dari ujung barat Indonesia menuju Tanah Suci.(*)