HeadlineNasional

Haji Uma Temukan Baut dan Mur Jembatan Bailey Tidak Sesuai Standar, Soroti Minimnya Pengawasan

×

Haji Uma Temukan Baut dan Mur Jembatan Bailey Tidak Sesuai Standar, Soroti Minimnya Pengawasan

Share this article
Anggota DPD RI asal Aceh, Sudirman Saat melakukan peninjauan langsung ke lokasi jembatan Bailey di salah satu daerah bencana di Aceh. Foto: (Tangkapan Layak Media Sosial).

Banda Aceh — Anggota DPD RI asal Aceh, Sudirman atau Haji Uma, menemukan kejanggalan serius pada pemasangan baut dan mur di jembatan Bailey yang dibangun di salah satu wilayah terdampak bencana di Aceh. Temuan tersebut dinilai berpotensi membahayakan keselamatan pengguna jembatan karena tidak sesuai dengan standar konstruksi.

Saat melakukan peninjauan langsung ke lokasi, Haji Uma menunjukkan sejumlah titik sambungan rangka jembatan yang dinilai bermasalah. Ia menegaskan bahwa panjang baut yang digunakan tidak memadai sehingga mur tidak terpasang dengan sempurna, bahkan di beberapa titik sama sekali tidak ditemukan mur pengunci.
“Seharusnya baut ini lebih panjang, supaya mur bisa terpasang dengan benar. Tapi yang kita lihat di sini, mur-nya tidak ada, atau tidak sampai. Ini artinya baut tidak dikunci sebagaimana mestinya,” ujar Haji Uma sambil menunjuk bagian rangka jembatan.

Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan pemasangan yang terkesan asal-asalan. Padahal, dalam konstruksi jembatan Bailey, baut dan mur memiliki fungsi vital sebagai pengikat utama rangka baja agar mampu menahan beban kendaraan.
“Seharusnya ada satu mur lagi dan posisinya harus sampai ke bawah supaya benar-benar terkunci. Tapi ini tidak ada. Jadi kesannya hanya dipasang saja, tanpa sistem penguncian yang kuat,” jelasnya.

Haji Uma juga mempertanyakan fungsi baut tersebut, apakah benar sebagai pengikat atau sekadar diletakkan tanpa tujuan teknis yang jelas. Ia menilai tidak adanya lubang pengunci dan mur tambahan menunjukkan lemahnya perencanaan dan pengawasan pekerjaan.
“Kalau bautnya hanya setengah seperti ini, dia menyangkut di mana? Tujuannya apa? Apakah sebagai penahan atau hanya diletakkan saja? Lubang pun tidak ada. Harusnya ini kosong dan dikunci dengan benar,” katanya.

Selain persoalan teknis konstruksi, Haji Uma turut menyoroti tidak adanya penjagaan di jembatan Bailey tersebut, baik siang maupun malam. Padahal, jembatan itu dilalui kendaraan masyarakat setiap hari.
“Jembatan ini tidak ada penjaganya sama sekali. Siang tidak ada, malam juga tidak ada. Kendaraan lewat sendiri, berhenti sendiri, dan antre pun diatur sendiri oleh pengemudi,” ungkapnya.

Ia menyebut kondisi ini sangat berisiko, terutama jika terjadi kelebihan beban atau kerusakan mendadak pada jembatan. Bahkan, menurut informasi di lapangan, jembatan tersebut sempat mengalami insiden roboh atau jatuh pada siang hari.
“Kalau tidak ada penjagaan dan tidak ada pengaturan lalu lintas, ini sangat berbahaya. Apalagi jembatan darurat di wilayah bencana seperti ini,” tegasnya.

Atas temuan tersebut, Haji Uma
mendesak pihak terkait, termasuk instansi teknis dan pelaksana pembangunan, untuk segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kualitas pemasangan jembatan Bailey. Ia menekankan bahwa pembangunan infrastruktur darurat tidak boleh mengabaikan aspek keselamatan.
“Jangan sampai jembatan yang dibangun untuk membantu masyarakat justru menjadi ancaman baru. Ini soal keselamatan nyawa rakyat,” pungkasnya.(*)