BANDA ACEH — Gubernur Aceh Muzakir Manaf (Mualem) menyoroti tingginya harga daging sapi di Aceh yang berpotensi melonjak tajam menjelang Ramadan 1447 Hijriah. Kondisi ini dipicu oleh banyaknya ternak warga yang mati akibat banjir di sejumlah wilayah Aceh.
Mualem menegaskan, daging memiliki makna penting bagi masyarakat Aceh, khususnya menjelang bulan suci Ramadan melalui tradisi meugang. Ia menilai, tanpa daging, suasana Ramadan bagi masyarakat Aceh terasa tidak lengkap.
“Di Aceh, kalau tidak pegang, tidak makan daging, rasanya Ramadan tidak sah. Apalagi kita menjelang Ramadan,” ujar Mualem, Selasa (30/12/2025).
Ia mengungkapkan, harga daging sapi di Aceh saat ini sudah tergolong tertinggi di Indonesia. Pada hari biasa, harga daging mencapai Rp200 ribu per kilogram. Dengan kondisi pascabanjir dan menurunnya populasi ternak, harga daging dikhawatirkan melonjak hingga Rp300 ribu per kilogram.
“Daging yang termahal di seluruh Indonesia itu di Aceh. Hari biasa saja sudah sampai Rp200 ribu per kilo. Dengan keadaan ini bisa sampai Rp300 ribu,” katanya.
Mualem menjelaskan, banjir yang melanda sejumlah daerah telah menyebabkan banyak ternak warga menjadi korban. Bahkan, di kampung halamannya, seorang agen sapi dilaporkan kehilangan hingga 300 ekor sapi akibat terdampak banjir.
“Banyak ternak yang menjadi korban. Di tempat saya, agennya sapi, sampai 300 ekor musnah karena kelapakan banjir,” ungkapnya.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, Mualem meminta perhatian serius pemerintah pusat, khususnya para menteri koordinator dan pejabat terkait, agar segera mengambil langkah konkret guna menstabilkan harga daging di Aceh.
Ia mengusulkan penyediaan daging atau sapi utuh, baik untuk dijual dengan harga terjangkau maupun dibagikan langsung kepada masyarakat pengungsi dan warga terdampak bencana.
“Kepada Pak Medagi dan Pak Purbaya, mohon dagingnya atau sapi utuh, apakah dijual atau dikasih kepada masyarakat yang terdampak supaya bisa menikmati daging,” pintanya.
Selain itu, Mualem juga membuka opsi impor sapi sebagai solusi jangka pendek untuk menekan harga daging. Menurutnya, impor dapat dilakukan dari negara-negara yang memiliki harga lebih murah.
“Kita boleh impor, dari mana saja, dari Australia atau dari India yang murah. Ini saya sarankan,” pungkas Mualem.(*)













