HeadlineNasional

Korban Bencana Banjir dan Longsor Provinsi Aceh, Sumut dan Sumbar Bertambah Menjadi 1.135 Jiwa

×

Korban Bencana Banjir dan Longsor Provinsi Aceh, Sumut dan Sumbar Bertambah Menjadi 1.135 Jiwa

Share this article
Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari. Foto: (BNPB).

Jakarta — Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan perkembangan terbaru hasil operasi pencarian dan pertolongan (SAR) di tiga provinsi terdampak bencana, yakni Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Hingga hari ini, jumlah korban meninggal dunia bertambah enam jiwa sehingga total korban jiwa mencapai 1.135 orang, dari sebelumnya 1.129 jiwa.

Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menyampaikan bahwa jumlah korban hilang dalam daftar pencarian juga mengalami penurunan seiring intensifnya operasi SAR yang dilakukan tim gabungan Basarnas, TNI-Polri, dan relawan di sejumlah kabupaten/kota.
“Saat ini operasi pencarian masih terus dilakukan di wilayah yang masih terdapat daftar pencarian orang,” ujarnya, Kamis (25/12/2025).

BNPB mencatat jumlah pengungsi hingga kini mencapai 489.864 jiwa yang tersebar di berbagai lokasi pengungsian di tiga provinsi terdampak.

Dalam perkembangan infrastruktur, Abdul Muhari menyebutkan telah terjadi kemajuan signifikan dalam pembukaan akses jalan, khususnya di Provinsi Aceh. Ruas jalan dari Bener Meriah menuju Bireuen yang sebelumnya terputus kini sudah dapat dilalui melalui sejumlah jalur alternatif, baik oleh kendaraan roda dua maupun roda empat.

Selain itu, ruas jalan nasional Takengon–Bireuen juga terus dipercepat pemulihannya guna memperlancar distribusi logistik, terutama distribusi energi dari Bandara Rembele di Bener Meriah menuju Takengon.
“Percepatan pembukaan akses ini terus dikebut oleh TNI, Polri, BNPB, BPBD, dan seluruh unsur terkait,” kata Abdul.

Pekerjaan pemulihan jembatan dan jalan nasional, termasuk di Jembatan Lawe Penanggalan (Aceh Tenggara) dan Nipah (Bener Meriah), ditargetkan secara umum selesai pada 30 Desember 2025, meskipun beberapa titik diperkirakan rampung pada minggu pertama Januari 2026.

BNPB juga melaporkan distribusi logistik dari Posko Nasional Halim Perdanakusuma terus berlangsung. Hingga saat ini, total 1.370 ton logistik telah masuk ke posko nasional, dengan 1.361 ton di antaranya sudah didistribusikan. Masih tersedia buffer stok sekitar 6 ton, yang akan ditambah kembali dalam beberapa hari ke depan.

Untuk distribusi di daerah, Provinsi Aceh pada hari ini berhasil menyalurkan 37,4 ton logistik seluruhnya melalui jalur udara. Sementara Sumatera Utara mendistribusikan 8,7 ton melalui jalur darat karena akses jalan sudah relatif pulih. Distribusi di Sumatera Barat juga dilakukan secara optimal melalui jalur darat.

Terkait hunian sementara (huntara), Abdul Muhari menjelaskan bahwa seluruh provinsi saat ini tengah mempercepat proses pembangunan dengan komitmen kerja hingga 18 jam per hari.
Di Provinsi Aceh, dari 18 kabupaten/kota terdampak, 10 kabupaten/kota membangun huntara, sementara 8 kabupaten/kota tidak membangun huntara.

Dari 10 daerah tersebut, satu kabupaten membangun dengan biaya sendiri, sementara sembilan lainnya dibiayai oleh pemerintah.
Enam kabupaten, yakni Aceh Tamiang, Aceh Utara, Aceh Tengah, Gayo Lues, Bener Meriah, dan Bireuen telah menetapkan lokasi pembangunan huntara. Dua kabupaten lainnya, Aceh Timur dan Nagan Raya, masih dalam proses identifikasi lahan.

Di Sumatera Utara, empat kabupaten telah berproses, sementara di Sumatera Barat, pembangunan hunian sementara tercatat paling cepat dibanding dua provinsi lainnya.
“Harapannya, progres yang dicapai Sumatera Barat dapat segera diikuti oleh Aceh dan Sumatera Utara,” ujar Abdul Muhari.

BNPB menegaskan pemulihan tidak hanya difokuskan pada infrastruktur dan hunian, tetapi juga dikombinasikan dengan pemulihan lingkungan serta mitigasi struktural dan non-struktural guna mencegah terulangnya bencana serupa di masa mendatang.(*)