Jakarta – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan peningkatan signifikan risiko cuaca dan iklim ekstrem di Indonesia hingga awal 2026 akibat anomali iklim global. Kondisi tersebut dipicu suhu muka laut yang lebih dingin di Samudra Pasifik dan Samudra Hindia, sementara perairan Indonesia justru lebih hangat dari normal sehingga memicu pembentukan awan konvektif tinggi dan meningkatkan potensi siklon tropis.
Dalam paparannya pada rapat bersama Presiden dan jajaran Kabinet Merah Putih, Kepala BMKG Pusat Teuku Faisal Fathani, M.Si,menjelaskan bahwa situasi tersebut menjadikan Indonesia seperti “mesin uap” yang memperkuat pertumbuhan awan hujan dan siklon. Dampaknya, eskalasi bencana hidrometeorologi meningkat, terutama banjir, longsor, angin kencang, dan gelombang tinggi.
BMKG memaparkan bahwa puncak musim hujan untuk Sumatera bagian selatan, Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara diperkirakan terjadi pada Januari 2026. Sementara itu, wilayah Sumatera bagian utara dan tengah telah mengalami puncak musim hujan pada November–Desember. Adapun Kalimantan dan sebagian besar Papua relatif memiliki pola hujan yang lebih merata sepanjang tahun. Dengan demikian, periode Januari–Februari masih perlu kewaspadaan tinggi.
Saat ini, terdapat tiga sistem siklon yang memengaruhi cuaca Indonesia. Pertama, Siklon Bakung yang berkembang di barat daya Lampung dan sempat meningkat hingga kategori 2–3 sebelum diperkirakan melemah. Kedua, bibit siklon 93S di selatan Bali–Nusa Tenggara–Jawa Timur. Ketiga, bibit siklon 95S yang muncul di selatan Papua. Keberadaan sistem-sistem ini berpotensi meningkatkan curah hujan lebat hingga sangat lebat serta gelombang tinggi di perairan sekitarnya.
Teuku Faisal menegaskan bahwa Indonesia ditunjuk oleh World Meteorological Organization (WMO) sebagai Tropical Cyclone Warning Center, sehingga pemantauan dilakukan secara intensif dan terkoordinasi dengan Australia, Jepang, dan India. Informasi prakiraan dan peringatan dini terus diperbarui untuk meminimalkan risiko.
Sebagai langkah mitigasi, BMKG bersama instansi terkait melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di enam provinsi untuk menurunkan intensitas hujan hingga 20–50 persen. Operasi ini dilakukan dengan penyemaian awan agar hujan turun di area yang lebih aman, seperti laut, atau memecah awan konvektif sebelum memasuki wilayah padat penduduk. OMC saat ini berlangsung di Jawa Barat dan Jawa Timur, serta direncanakan di Lampung, Jawa Tengah, dan Bali.
BMKG kata Teuku Faisal juga memperkuat koordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), BPBD, Basarnas, serta otoritas transportasi di bawah Kementerian Perhubungan untuk memastikan keselamatan transportasi darat, laut, dan udara. Platform informasi cuaca khusus transportasi terus diperbarui, termasuk rekomendasi operasional penerbangan dan pelayaran berdasarkan kondisi meteorologi terkini.
Selain cuaca ekstrem, BMKG mengingatkan bahwa Indonesia tetap berada di zona rawan gempa. Sepanjang tahun ini tercatat lebih dari 40 ribu kejadian gempa, dengan 917 di antaranya dirasakan masyarakat dan 24 kejadian menimbulkan kerusakan. Pemantauan dilakukan melalui jaringan stasiun BMKG di berbagai daerah, termasuk pemasangan lightning detector di 38 UPT untuk memantau intensitas petir.
“Dengan dinamika cuaca yang sangat cepat, masyarakat diimbau tetap tenang namun waspada, mengikuti informasi resmi BMKG, serta meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi hujan lebat, gelombang tinggi, dan potensi bencana lainnya,” ujar Teuku Faisal.
BMKG menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat sistem peringatan dini berbasis dampak (impact-based forecasting) guna melindungi keselamatan masyarakat dan mendukung pengambilan keputusan pemerintah dalam menghadapi cuaca ekstrem.(*)













