HeadlinePariwara

Tourism Information Center Sabang Pusat Informasi Wisata Modern dan Terintegrasi

×

Tourism Information Center Sabang Pusat Informasi Wisata Modern dan Terintegrasi

Share this article
Ilustrasi Tourism Information Center (TIC) Kota Sabang yang akan kembali dioperasikan pada 2026 sebagai pusat informasi wisata modern dan pusat literasi digital bagi masyarakat. Foto: (Suara Aceh).

Sabang – Pemerintah Kota Sabang terus memacu pengembangan sektor pariwisata dengan langkah-langkah konkret dan terukur. Salah satu upaya terbaru yang sedang digencarkan adalah reaktivasi Tourism Information Center (TIC) di kawasan Alun-Alun Kota Sabang. Fasilitas yang sempat tidak beroperasi maksimal itu kini akan difungsikan kembali sebagai pusat informasi pariwisata modern yang siap melayani seluruh pengunjung Pulau Weh.

Kehadiran TIC dinilai sebagai kebutuhan mendesak di tengah meningkatnya jumlah wisatawan yang datang ke Sabang. Informasi yang cepat, akurat, dan terstruktur merupakan elemen penting yang harus tersedia di sebuah daerah wisata, terutama kota yang menjadi pintu gerbang barat Indonesia.

Kepala Dinas Pariwisata Kota Sabang, Harry Susethia, menjelaskan bahwa pengoperasian kembali TIC merupakan bagian dari strategi memperkuat layanan wisata. Keberadaan TIC di pusat kota memungkinkan wisatawan baik domestik maupun mancanegara mendapatkan informasi lengkap secara mudah dan efisien.

“Kita akan tempatkan kembali Tourism Information Center di kawasan alun-alun. TIC ini terbuka untuk semua, baik masyarakat maupun wisatawan yang datang ke Sabang,” ujar Harry, Selasa (21/10/2025).

TIC nantinya akan menyediakan layanan informasi seputar:

destinasi wisata bahari dan pantai, spot alam terbaik di Pulau Weh,kuliner khas Sabang,
homestay dan penginapan,
transportasi lokal,
rute perjalanan wisata,
serta agenda budaya dan event kota.

Selain layanan konsultasi langsung, TIC juga akan menyediakan Tourism Map atau peta pariwisata lengkap berisi detail lokasi destinasi, jarak tempuh, fasilitas pendukung, hingga rekomendasi jalur perjalanan.

Menurut Harry, penempatan TIC di kawasan alun-alun tidak terlepas dari pertimbangan aksesibilitas. Alun-alun yang berada di pusat kota merupakan titik mobilitas masyarakat dan wisatawan, sehingga TIC akan lebih mudah ditemukan oleh siapa saja yang baru tiba atau sedang berkeliling Sabang.

Dengan hadirnya TIC, wisatawan tidak perlu lagi bingung mencari informasi atau mengandalkan sumber yang tidak akurat. Semua informasi resmi, terpercaya, dan terbaru akan tersedia langsung dari petugas TIC yang telah dibekali kompetensi pelayanan wisata.

Pemerintah berharap TIC dapat menjadi titik pertama yang dikunjungi wisatawan sebelum menjelajahi Sabang. Dengan demikian, perjalanan wisata mereka akan lebih tertata, aman, dan menyenangkan.

Selain fungsi utama sebagai pusat informasi, TIC Sabang direncanakan menjadi ruang publik modern dengan konsep taman digital, hasil kolaborasi dengan Dinas Arsip dan Perpustakaan Kota Sabang. Pengembangan area TIC menjadi ruang digital bertujuan memperluas manfaat bagi masyarakat, bukan hanya wisatawan.

“Kita ingin agar masyarakat juga ikut merasakan manfaatnya. Taman digital ini bukan hanya tempat informasi wisata, tapi juga ruang belajar dan berkegiatan berbasis digital,” ungkap Harry.

Rencananya, taman digital akan dilengkapi fasilitas seperti:

WiFi publik berkecepatan tinggi, tempat belajar dan diskusi, area baca terbuka, pojok literasi digital, ruang pelatihan teknologi, dan area bersantai bernuansa modern.

Langkah ini sejalan dengan visi Pemerintah Kota Sabang untuk memadukan pengembangan pariwisata dengan peningkatan kualitas literasi digital masyarakat. Keberadaan taman digital juga diharapkan menjadi magnet baru bagi anak muda dan komunitas kreatif untuk berkegiatan positif.

TIC Sabang dirancang tidak hanya sebagai meja informasi, tetapi sebagai ruang interaktif yang ramah pengunjung. Desain yang lebih modern akan mengadopsi konsep visitor center yang banyak digunakan di destinasi wisata internasional. Artinya, TIC akan menjadi tempat di mana wisatawan bisa:

meminta rekomendasi rute perjalanan, melihat direktori destinasi pada layar digital, belajar tentang sejarah Pulau Weh, menonton video destinasi unggulan, hingga mendapatkan brosur, katalog event, dan informasi UMKM lokal.

TIC juga diharapkan dapat mempromosikan produk-produk lokal seperti kerajinan tangan, kuliner khas, hingga paket wisata berbasis desa. Kolaborasi dengan UMKM akan memperluas manfaat ekonomi dari TIC sebagai pusat informasi sekaligus ruang promosi bagi pelaku pariwisata lokal.

Keberadaan TIC menjadi salah satu indikator layanan wisata yang profesional di sebuah destinasi. Banyak wisatawan mancanegara yang menilai kualitas destinasi berdasarkan kemudahan informasi yang disediakan.

Dengan mengaktifkan kembali TIC, Pemerintah Kota Sabang ingin meningkatkan standar pelayanan pariwisata ke level yang lebih tinggi. Petugas TIC nantinya akan disiapkan melalui pelatihan hospitality, komunikasi publik, dan literasi pariwisata agar pelayanan bagi wisatawan semakin optimal.

Harry menegaskan bahwa ini adalah bagian dari pembangunan jangka panjang sektor pariwisata Sabang yang tidak hanya fokus pada destinasi, tetapi juga pada kualitas layanan dan pengalaman wisatawan.

Reaktivasi TIC merupakan bagian dari langkah strategis memperkuat citra Sabang sebagai destinasi unggulan di Aceh dan Indonesia. Dengan layanan informasi yang lebih modern, Sabang ingin menunjukkan kesiapan sebagai kota wisata yang tidak hanya memiliki keindahan alam, tetapi juga pelayanan publik yang terstruktur dan ramah.

“TIC akan menjadi gerbang utama informasi wisata yang lebih modern, interaktif, dan nyaman bagi semua pengunjung,” tegas Harry.

Pemerintah meyakini bahwa fasilitas ini akan membawa dampak positif dalam meningkatkan jumlah kunjungan, memperpanjang lama tinggal wisatawan, dan mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat lokal.

Dengan penataan ulang TIC dan konsep taman digital yang inovatif, Pemko Sabang berharap destinasi wisata akan semakin berkembang dengan dukungan fasilitas layanan yang lebih lengkap. Upaya ini sejalan dengan visi Sabang sebagai kota yang ramah wisatawan, kreatif, dan adaptif terhadap perkembangan teknologi.

Pengoperasian kembali TIC pada 2026 dipandang sebagai langkah maju menuju penguatan ekosistem pariwisata berbasis informasi dan edukasi. Fasilitas ini akan menjadi ruang bertemunya wisatawan, pelaku wisata, dan masyarakat dalam satu titik layanan publik yang informatif dan inspiratif.(*)

Advertorial.