HeadlinePariwara

Jejak Sejarah Simpang Garuda, Saksi Bisu Perjalanan Aceh

×

Jejak Sejarah Simpang Garuda, Saksi Bisu Perjalanan Aceh

Share this article
Tugu Simpang Garuda Sabang, ikon penting wisata sejarah yang merepresentasikan identitas Aceh melalui simbol rencong dan jejak perjalanan kota dari masa ke masa. Foto: (Suara Aceh).

Sabang – Di tengah hiruk pikuk Kota Sabang yang terus berkembang sebagai salah satu destinasi wisata unggulan Indonesia, terdapat sebuah kawasan yang berdiri sebagai saksi bisu perjalanan sejarah Aceh. Kawasan tersebut adalah Simpang Garuda persimpangan bersejarah yang mencerminkan peradaban, perdagangan, dan perjuangan rakyat Sabang dari masa ke masa.

Walaupun kini terlihat sebagai persimpangan kota dengan aktivitas masyarakat yang dinamis, Simpang Garuda menyimpan kisah panjang yang melekat dalam identitas budaya Aceh, menjadikannya salah satu titik penting yang tidak boleh dilewatkan oleh pencinta wisata sejarah.

Menurut Pemerhati Sejarah Sabang, Albina Arrahman, kawasan Simpang Garuda telah berkembang sejak abad ke-16. Pada masa itu, Sabang mulai dikunjungi oleh para pedagang dari Timur Tengah yang tidak hanya membawa komoditas perdagangan, tetapi juga penyebaran agama Islam ke wilayah barat Nusantara.

Masjid Tua Sabang kini dikenal sebagai Masjid Agung Babussalamdisebut Albina sebagai bukti kuat akan tumbuhnya peradaban religius di kawasan ini. Masjid tersebut menjadi pusat aktivitas keagamaan masyarakat dan titik awal berkembangnya pemukiman di sekitar Simpang Garuda.

“Kawasan ini sudah menjadi pusat penyebaran Islam sejak abad ke-16. Para pedagang datang ke Sabang bukan hanya berdagang, tetapi juga membangun peradaban,” ujar Albina, Sabtu (18/10/2025).

Pada masa kejayaan perdagangan maritim Aceh, Simpang Garuda berkembang menjadi pusat ekonomi yang sangat penting. Bangunan berarsitektur Aceh dan kolonial mulai dari gudang rempah, rumah adat, hingga kantor pemerintahan berdiri di sekitar kawasan ini.

“Seiring perkembangan zaman, Simpang Garuda tumbuh menjadi pusat perdagangan maritim yang ramai dan menjadi pelabuhan penting di pesisir Pulau Weh. Komoditas seperti rempah, kain, hingga hasil bumi banyak diperjualbelikan di kawasan tersebut,” jelas Albina.

Dengan posisi strategis yang menghubungkan pelabuhan, pusat kota, dan kawasan pemukiman, Simpang Garuda menjadi tempat bertemunya berbagai kultur, bahasa, dan aktivitas ekonomi. Kawasan ini menjadi simbol hidupnya denyut perdagangan Sabang di masa lampau.

Simpang Garuda bukan hanya pusat perdagangan, tetapi juga menjadi lokasi penting dalam perjuangan rakyat Sabang melawan penjajah Belanda dan Jepang. Kawasan ini pernah menjadi titik konsolidasi masyarakat, tempat berkumpulnya pejuang, serta lokasi strategis dalam mempertahankan wilayah dari serangan kolonial.

Monumen Perlawanan yang berdiri di Simpang Garuda menjadi simbol yang memperkuat cerita tersebut. Monumen ini mengabadikan keberanian rakyat Sabang dalam mempertahankan kedaulatan tanah air.

“Tidak hanya kaya sejarah perdagangan, kawasan ini juga punya nilai perjuangan. Monumen Perlawanan menjadi pengingat betapa kuatnya rakyat Sabang melawan penjajah,” tambah Albina.

Simpang Garuda memiliki nilai historis yang dilengkapi dengan makna filosofis Aceh. Pada tahun 2021, pemerintah melakukan revitalisasi tugu di kawasan ini dan menghadirkan desain baru berbentuk Rencong Aceh senjata tradisional yang menjadi simbol keberanian dan identitas Aceh.

Meski tampil dengan wajah baru, tugu tersebut tetap mempertahankan identitas lama yang sangat lekat dengan masyarakat, yaitu “Peutek Patah Teurawah Meugantoe”. Kalimat ini menggambarkan semangat Aceh yang kokoh, tidak pernah tunduk, dan selalu siap bangkit meskipun berada dalam kondisi paling sulit.

Revitalisasi yang dilakukan pemerintah menunjukkan bahwa Simpang Garuda tidak hanya dipandang sebagai objek fisik, tetapi sebagai warisan budaya yang mengandung nilai kebanggaan.

Kepala Dinas Pariwisata Kota Sabang, Harry Susethia, menegaskan bahwa Simpang Garuda adalah aset sejarah bernilai tinggi yang perlu dipertahankan. Bagi Harry, kawasan ini tidak hanya penting bagi masyarakat Sabang, tetapi juga memiliki potensi besar dalam mengembangkan wisata budaya dan edukasi sejarah.

“Simpang Garuda adalah aset sejarah yang bernilai tinggi bagi pengembangan wisata budaya. Situs ini dapat menjadi pusat edukasi sejarah dan menambah daya tarik Sabang bagi wisatawan,” ujar Harry.

Dengan penataan yang tepat, Simpang Garuda dapat menjadi lokasi bagi wisata sejarah terpadu yang menghubungkan berbagai titik penting seperti masjid tua, bangunan kolonial, gudang rempah bersejarah, hingga Monumen Perlawanan.

Harry menambahkan bahwa pemerintah terus berupaya menjaga nilai historis kawasan ini, termasuk melalui revitalisasi tugu serta penyediaan ruang publik yang mendukung pelestarian warisan budaya.

“Kami ingin Simpang Garuda tetap menjadi identitas sejarah Sabang. Meski direvitalisasi, nilai asli seperti Rencong Aceh dan filosofi lokal tetap kita pertahankan,” tambahnya.

Saat ini, Simpang Garuda tidak hanya menjadi titik lalu lintas utama, tetapi juga ruang publik yang sering dikunjungi wisatawan untuk berswafoto, bersantai, hingga mempelajari jejak sejarah Sabang. Banyak wisatawan penasaran dengan cerita di balik nama Simpang Garuda, struktur bangunannya, hingga filosofi tugu rencong yang menjulang gagah di tengah persimpangan.

Dengan penataan kota yang terus berkembang, Simpang Garuda kini tampil lebih rapi dan representatif. Penambahan area pejalan kaki, penerangan, dan papan informasi sejarah menjadi bagian dari upaya pemerintah menjaga kawasan tetap nyaman dan informatif.

Wisatawan yang datang ke Sabang sering memasukkan Simpang Garuda dalam daftar kunjungan mereka, terutama setelah menjelajahi destinasi seperti Pantai Paradiso, Sabang Fair, atau pusat kuliner kota. Dengan letaknya yang strategis, kawasan ini mudah diakses oleh siapa pun yang ingin menelusuri sejarah Sabang.

Meski waktu terus berlalu, Simpang Garuda tetap tegak membawa cerita perjalanan panjang Aceh dan Sabang. Kawasan ini memperlihatkan bagaimana sebuah ruang publik dapat memiliki lapisan sejarah yang luas mulai dari perdagangan, penyebaran agama, kolonialisme, hingga kebangkitan budaya lokal.

Bagi Sabang, Simpang Garuda bukan hanya sebatas persimpangan kota. Ia adalah simbol ketahanan, kearifan, dan jati diri masyarakat Sabang yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.

Dengan pelestarian yang berkelanjutan dan promosi wisata sejarah yang lebih kuat, kawasan ini berpotensi besar menjadi magnet wisata baru yang memperkaya citra Sabang sebagai kota yang indah, berbudaya, dan penuh cerita.(*)

Advertorial.