HeadlinePariwara

Perkuat Regulasi dan Kelembagaan, Kadis Pariwisata Sabang Tetapkan Arah Baru Pariwisata

×

Perkuat Regulasi dan Kelembagaan, Kadis Pariwisata Sabang Tetapkan Arah Baru Pariwisata

Share this article
Kantor Dinas Pariwisata Kota Sabang. Foto: (Suara Aceh)

Sabang – Di tengah pesatnya perkembangan sektor pariwisata nasional, Kota Sabang terus menata diri agar mampu bersaing sebagai destinasi unggulan di ujung barat Indonesia. Langkah awal yang ditempuh oleh Kepala Dinas Pariwisata Kota Sabang, Harry Susethia, menunjukkan komitmen kuat untuk membangun sektor ini dari fondasi yang paling mendasar: penguatan hukum, kelembagaan, dan manajemen internal.

Dalam seratus hari kerja pertamanya, Harry memilih fokus pada pembenahan dari dalam. Baginya, sebelum berlari jauh membawa Sabang menjadi salah satu pusat wisata unggulan, pondasi di internal Dinas Pariwisata harus terlebih dahulu kokoh, terukur, dan memiliki arah yang jelas.

Salah satu langkah yang disorot oleh Kadis Pariwisata adalah memastikan seluruh program pembangunan pariwisata berlandaskan dokumen hukum yang kuat. Harry menyampaikan bahwa Sabang sudah memiliki Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Kota (Ripakot), dokumen strategis yang menjadi acuan seluruh gerak pembangunan sektor pariwisata.

“Alhamdulillah Sabang sudah punya Ripakot. Ini menjadi dasar yang kuat bagi kita untuk menurunkan program dan mengeksekusikannya di lapangan,” ujarnya, Senin (06/10/2025).

Dengan adanya Ripakot, setiap kegiatan pariwisata dapat dirancang lebih terukur. Dokumen ini tidak hanya menjadi acuan pemerintah, tetapi juga penting bagi kolaborasi lintas sektor bersama pelaku wisata, investor, dan masyarakat.

Harry menegaskan bahwa banyak program sebelumnya yang berjalan tanpa sinkronisasi yang optimal. Karena itu, penyelarasan program berdasarkan Ripakot menjadi fokus utama agar tidak ada lagi kegiatan yang berjalan tanpa arah atau tidak berdampak signifikan.

Selain aspek hukum, penguatan kelembagaan juga menjadi prioritas. Menurut Harry, Dinas Pariwisata tidak bisa bergerak sendirian dalam membangun sektor wisata. Dibutuhkan kolaborasi yang erat antara pemerintah, komunitas wisata, pelaku usaha, hingga masyarakat.

Dalam hal ini, Forum Tata Kelola Pariwisata (FTKP) memiliki peran penting sebagai ruang dialog dan kerja sama. Forum yang sempat vakum ini akan dihidupkan kembali sebagai wadah berkumpulnya seluruh pemangku kepentingan pariwisata.

“Langkah pertama adalah pembenahan dari dalam. Jika manajemennya sudah rapi, maka arah kerja ke depan akan lebih jelas,” kata Harry.

Ia menilai bahwa revitalisasi FTKP bukan sekadar mengaktifkan forum, tetapi juga memberikan kepastian bahwa setiap pihak memiliki ruang menyampaikan aspirasi dan ide kreatif untuk kemajuan pariwisata Sabang.

Kelembagaan yang kuat akan memungkinkan sektor pariwisata Sabang tumbuh tidak hanya sebagai destinasi, tetapi juga sebagai ekosistem ekonomi kreatif yang melibatkan berbagai pihak.

Dalam pandangan Harry, manajemen internal adalah jantung dari seluruh kegiatan. Ia menekankan bahwa tanpa penataan manajemen yang baik, seluruh program pariwisata akan berjalan tidak maksimal. Itulah sebabnya konsolidasi internal menjadi salah satu langkah awal yang ia lakukan pada hari-hari pertama bertugas.

Dinas Pariwisata Sabang dalam beberapa tahun terakhir menghadapi sejumlah tantangan terkait penyelarasan program, sumber daya manusia, serta konsistensi pelaksanaan kegiatan. Karena itu, pembenahan internal menjadi mutlak diperlukan.

“Manajemen ini ibarat fondasi bagi seluruh kegiatan pariwisata Sabang,” ujarnya.

Dengan manajemen yang tertata rapi, setiap kegiatan akan memiliki target yang jelas, perencanaan yang matang, indikator keberhasilan yang terukur, dan laporan pelaksanaan yang transparan. Langkah ini juga diharapkan dapat meningkatkan efisiensi anggaran dan mempercepat pelaksanaan program di lapangan.

Setelah fondasi internal kokoh, tahap berikutnya yang menjadi perhatian Harry adalah memperkuat perencanaan dan penyempurnaan program yang sudah berjalan.

Harry ingin memastikan program-program yang selama ini memberikan dampak positif dapat terus dipertahankan, bahkan ditingkatkan. Sementara kegiatan yang masih kurang maksimal akan dievaluasi dan disempurnakan.

Penyempurnaan ini mencakup berbagai aspek, mulai dari event pariwisata, penataan destinasi, pemberdayaan masyarakat, hingga peningkatan kualitas pelayanan wisata.

Selain itu, Harry mendorong munculnya ide dan gagasan kreatif dari berbagai pihak, terutama dari pelaku wisata serta generasi muda Sabang. Ia percaya bahwa kreativitas adalah modal penting untuk memperkaya daya tarik wisata Sabang.

“Kalau semuanya sudah punya dasar hukum, kelembagaan, dan manajemen yang kuat, maka perencanaan akan lebih matang dan pelaksanaan di lapangan lebih terukur. Itulah yang sedang kita upayakan,” tutupnya.

Sabang memiliki potensi luar biasa mulai dari wisata bahari, budaya, kuliner, sejarah, hingga ekowisata. Namun tanpa perencanaan dan manajemen yang kuat, potensi ini tidak dapat dioptimalkan secara maksimal.

Langkah awal Harry dalam membenahi fondasi pariwisata Sabang menunjukkan visi jangka panjang untuk menciptakan ekosistem wisata yang kuat, terarah, dan berkelanjutan. Pembenahan internal yang dilakukan bukan hanya untuk kebutuhan jangka pendek, tetapi juga untuk memastikan bahwa pengembangan pariwisata Sabang memiliki pijakan yang solid untuk masa depan.

Dengan kembali diaktifkannya forum-forum kolaboratif, diperkuatnya landasan hukum, serta ditatanya manajemen internal, sektor pariwisata Sabang diharapkan mampu tumbuh lebih cepat dan menghadirkan berbagai inovasi baru.

Penguatan di 100 hari kerja ini adalah langkah awal untuk menjadikan Sabang bukan hanya dikenal sebagai destinasi wisata indah, tetapi juga destinasi dengan tata kelola yang profesional.(*)

Advertorial.