Sabang – Kota Sabang terus menunjukkan komitmennya dalam memperkaya ragam destinasi wisata berbasis alam dan pemberdayaan masyarakat. Salah satu langkah terbaru yang kini mendapat sorotan luas adalah rencana pengembangan Kebun Salak Sabang di Gampong Balohan, Kecamatan Sukajaya, sebagai kawasan agrowisata edukatif. Destinasi ini diharapkan menjadi magnet baru bagi wisatawan yang ingin menikmati keindahan alam sekaligus belajar tentang komoditas unggulan khas Sabang.
Sebagai daerah yang dikenal dengan pesona alam bawah laut dan panorama pantai yang menawan, Sabang kini memperluas fokusnya pada sektor wisata berbasis pertanian. Pengembangan agrowisata salak ini dinilai sebagai inovasi yang mampu memberikan nilai tambah bagi daerah, memperkuat ekonomi masyarakat, sekaligus menambah warna baru dalam daftar objek wisata unggulan Sabang.
Kebun salak di Balohan bukanlah kebun biasa. Lokasi tersebut telah menjadi pusat budidaya salak Sabang selama puluhan tahun, dengan luas mencapai 25 hektare dan ditanami ribuan pohon salak yang berusia antara 25 hingga 30 tahun. Lebih dari 30 petani aktif terlibat dalam pengelolaan kebun ini, menjadikannya sebagai sentra salak terbesar dan paling produktif di Kota Sabang.
Tak hanya menghasilkan komoditas unggulan, kebun ini ternyata sudah lama diminati oleh pengunjung. Wisatawan lokal maupun mancanegara kerap datang untuk melihat langsung proses budidaya, mengamati karakteristik tanaman, hingga melakukan riset pertanian.
Pemilik kebun sekaligus tokoh petani setempat, M. Nur, mengungkapkan bahwa kebun salaknya telah lama menjadi tujuan informal para pecinta alam dan peneliti. Karena itu, ia menyatakan kesiapannya apabila kebun tersebut bakal diresmikan sebagai kawasan agrowisata.
“InsyaAllah kami siap bila lahan kami dijadikan lokasi agrowisata. Sebelumnya pun kami sudah menerima banyak kunjungan, mulai dari Aceh, Sumatra, bahkan wisatawan mancanegara,” ujar M. Nur, Rabu (24/09/2025).
Menurutnya, pengembangan agrowisata akan memberikan manfaat besar bagi petani sekaligus menambah penghasilan masyarakat sekitar.
Dukungan penuh datang dari Dinas Pertanian dan Pangan Kota Sabang, yang menyatakan keseriusannya dalam mengembangkan kebun salak sebagai destinasi wisata edukatif. Upaya ini disebut sebagai langkah strategis untuk memperkuat ketahanan pangan daerah sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat.
Analis Pasar Hasil Pertanian, Widya, SP, M.Si, menjelaskan sejumlah rencana pembangunan fasilitas yang akan dilakukan pemerintah daerah.
Beberapa rencana tersebut meliputi:
1. Pembangunan gapura khusus Agrowisata Salak Sabang
2. Perbaikan akses jalan menuju kebun agar nyaman dilewati pengunjung
3. Pemasangan papan informasi dan pamflet edukasi terkait budidaya salak
4. Penyediaan gazebo sebagai lokasi istirahat dan titik foto
5. Pengembangan paket wisata edukasi seperti tur kebun, demo panen, dan kelas budidaya
Widya menegaskan bahwa kolaborasi dengan petani sangat penting agar pengembangan berjalan sesuai potensi lokal.
“Perencanaannya kami akan membangun gapura agrowisata salak, memperbaiki akses menuju kebun, memasang pamflet pengumuman, serta menyediakan gazebo untuk tempat istirahat pengunjung. Upaya lain juga kami siapkan untuk menarik minat wisatawan,” jelasnya.
Konsep pengembangan agrowisata salak ini mendapat sambutan positif dari Kepala Dinas Pariwisata Kota Sabang, Harry Susethia. Ia menyebutkan bahwa pengembangan wisata pertanian merupakan bagian dari strategi memperluas pilihan destinasi yang ditawarkan kepada wisatawan, sehingga tidak hanya terfokus pada laut dan pantai.
Menurut Harry, kehadiran kawasan agrowisata seperti kebun salak dapat menciptakan atraksi baru yang mampu meningkatkan lama tinggal wisatawan di Sabang.
“Ini merupakan trobosan yang baik. Kolaborasi seperti ini tentu akan membawa berkah bagi Kota Sabang. Dengan adanya atraksi-atraksi baru seperti ini, kunjungan akan semakin meningkat,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa wisatawan saat ini tidak hanya mencari pemandangan alam, tetapi juga pengalaman interaktif, edukatif, dan otentik yang melibatkan masyarakat lokal. Agrowisata salak dinilai mampu menjawab kebutuhan tersebut.
Kawasan Balohan memiliki struktur tanah dan kondisi iklim yang sangat mendukung budidaya salak. Selama puluhan tahun, kebun salak setempat tumbuh secara alami dan dikelola secara tradisional oleh petani. Hal ini memberikan keunikan tersendiri yang tidak dimiliki daerah lain.
Dengan dikembangkannya agrowisata, petani tidak hanya mengandalkan penjualan hasil panen tetapi juga dapat memperoleh pendapatan tambahan melalui:
1. Penjualan paket wisata edukasi
2. Penjualan produk olahan salak (dodol, keripik, sirup)
3. Jasa tur lokal
4. Penjualan bibit dan edukasi budidaya
M. Nur menyambut baik peluang tersebut.
Ia berharap agrowisata ini dapat menjadi sumber ekonomi baru bagi petani tanpa harus meninggalkan tradisi dan metode alami yang selama ini menjadi ciri khas kebun salak Balohan.
Pemerintah daerah juga tengah menunggu keluarnya SK pelepasan bibit salak Sabang dari Kementerian Pertanian RI. Dokumen tersebut sangat penting sebagai pengakuan bahwa salak Sabang merupakan varietas lokal yang memiliki nilai genetik khas dan layak dikembangkan dalam skala nasional.
Setelah SK turun, pemerintah Sabang berencana memperluas area penanaman ke kawasan lain yang memiliki karakter tanah serupa. Dengan demikian, agrowisata salak Sabang tidak hanya menjadi ikon Balohan, tetapi juga berkembang sebagai identitas pertanian Sabang secara keseluruhan.
Jika pengembangan ini berjalan sesuai rencana, agrowisata salak di Balohan diyakini akan menjadi lokasi favorit wisatawan yang ingin menikmati suasana pedesaan, belajar tentang budidaya, sekaligus merasakan buah salak langsung dari pohonnya.
Keindahan kebun yang rindang, dipadukan dengan udara sejuk dan panorama alam Sabang, akan menciptakan pengalaman wisata yang berbeda dari destinasi lainnya.
Proyek ini bukan hanya tentang membangun atraksi baru, tetapi juga tentang membangun masa depan pariwisata Sabang yang lebih inklusif, berkelanjutan, dan berbasis masyarakat.
Dengan semangat kolaborasi lintas sektor dan dukungan kuat dari pemerintah serta masyarakat, agrowisata salak Sabang di Gampong Balohan siap menjadi ikon baru yang menambah kekayaan wisata Pulau Weh.(*)
Advertorial.












