Meulaboh – Suara teriakan semangat dan hentakan kaki para atlet muda menggema di Hall Center Muhammadiyah Rundeng, Meulaboh, Minggu pagi, 11 Mei 2025. Sejak pukul 08.00 WIB, aula itu dipenuhi semangat para taekwondoin dari berbagai dojang di Aceh Barat yang bersaing dalam seleksi menuju ajang Pra-Pekan Olahraga Aceh (Pra-PORA).
Seleksi ini menjadi titik awal perjalanan panjang menuju arena bergengsi PORA 2026. Di tengah sorotan mata pelatih dan dewan juri, para atlet menampilkan jurus terbaik mereka—dengan harapan bisa terpilih dan masuk dalam daftar pemusatan latihan.
Ketua pelaksana seleksi, Muhammad Zakir, menyebut kegiatan ini bukan sekadar ajang kompetisi, melainkan upaya menyaring potensi terbaik dari bumi Teuku Umar .
“Hari ini kita lakukan seleksi untuk Pra-PORA, menjaringkan atlet terbaik. Setelah ini akan kita lanjutkan dengan pemusatan latihan atau TC. Target kita dua medali emas dari cabang Taekwondo,” ujarnya penuh harap.
Tak hanya atlet, para pelatih yang mendampingi juga berharap proses seleksi berjalan transparan. Bagi mereka, hasil terbaik hanya bisa diraih jika proses awal dilakukan dengan jujur dan objektif.
Halidun, pelatih dari Dojang MTC, menggarisbawahi pentingnya profesionalisme. “Kami ingin seleksi ini adil dan terbuka, agar yang lolos adalah mereka yang benar-benar layak,” katanya.
Muzani, dari Dojang Golden Star, menambahkan pentingnya menjaga marwah olahraga dari intervensi dan kepentingan di luar prestasi. “Taekwondo harus tumbuh dengan sehat, agar bisa terus melahirkan juara sejati,” ujarnya.
Di balik seleksi yang berlangsung satu hari ini, tersimpan mimpi dan tekad dari puluhan anak muda Aceh Barat. Mereka bukan sekadar bertanding, tapi sedang mengejar sesuatu yang lebih besar: kehormatan, kebanggaan daerah, dan cita-cita menjadi juara. (*)












