HeadlinePariwara

Transformasi Kesehatan, Dinkes Aceh Besar: Pelayanan Berdasarkan Siklus Hidup

×

Transformasi Kesehatan, Dinkes Aceh Besar: Pelayanan Berdasarkan Siklus Hidup

Share this article
Sekretaris Dinas Kesehatan Aceh Besar, Neli Ulfiati. Foto: MC / Aceh Besar.

Aceh Besar – Transformasi kesehatan dapat mencapai tujuan dan membawa manfaat terhadap layanan kesehatan masyarakat yang lebih baik, karena itu perlu dilaksanakan secara bersama-sama.

Sekretaris Dinas Kesehatan Aceh Besar, Neli Ulfiati, menyatakan bahwa pada dasarnya transformasi kesehatan sangat baik untuk meningkatkan layanan kepada masyarakat.

Karena, penerapan pelayanannya itu dilakukan berdasarkan siklus hidup, dan merangkul semua, mulai dari anak-anak balita hingga orang dewasa. Apalagi mengatur hal-hal yang primer.
“Enam pilar itu salah satunya adalah penguatan pelayanan primer. Di mana pelayanannya berdasarkan siklus hidup,” kata Neli Ulfiati kepada wartawan, Rabu (8/5/2024).

Artinya, pelayanan primer dari transformasi kesehatan tersebut adalah diberikan kepada masyarakat mulai usia bayi, remaja sampai dewasa. “Jadi mulai dari usia bayi balita anak remaja sampai dewasa. Artinya, dari transformasi kesehatan tersebut juga terdapat penguatan layanan siklus hidup bayi dan balita, dan ada pelayanan integrasi pelayan primer,” tuturnya.

Enam Pilar Transformasi Kesehatan
Neli menyebutkan, berdasarkan ketentuan dari Kemenkes RI, adapun penjelasan secara umum tentang enam pilar transformasi kesehatan tersebut yakni, pertama layanan primer.

Di mana, dalam penerapannya memiliki fokus memperkuat aktivitas promotif preventif untuk menciptakan lebih banyak orang sehat, memperbaiki skrining kesehatan serta meningkatkan kapasitas layanan primer.
Kemudian, transformasi layanan rujukan, ini memiliki fokus untuk melakukan peningkatan dalam hal kualitas serta pemerataan layanan kesehatan di seluruh pelosok yang ada di Indonesia.

Ketiga, kata Neli, adalah transformasi sistem ketahanan kesehatan, pilar ini memegang peran penting untuk mempertahankan sistem kesehatan yang baik di tengah ancaman kesehatan global.
Hal ini juga mencakup mencakup pembuatan atau produksi hingga distribusi farmalkes yang lancar dan bisa diproduksi dalam negeri.

Sistem ini meliputi peningkatan ketahanan sektor farmasi dan alat kesehatan dengan melakukan produksi dalam negeri berupa 14 vaksin rutin, top 10 obat, top 10 alat kesehatan by volume & by Velue.
“Lalu, memperkuat ketahanan tanggap darurat dengan melakukan jejaring nasional surveilans berbasis la, mempersiapkan tenaga cadangan tanggap darurat, dan melakukan table top exercise kesiapsiagaan krisis,” ujarnya.

Pilar ke empat adalah transformasi sistem pembiayaan kesehatan, yaitu berfokus untuk memberikan kemudahan dan kesetaraan akses layanan kesehatan, terutama masyarakat yang masuk dalam golongan kurang mampu.
Pada regulasi pembiayaan kesehatan tersebut, lanjut dia, terdapat beberapa tujuan yang ingin dicapai, diantaranya memastikan ketersediaan, kecukupan dan berkelanjutan, serta teralokasi dengan adil, dan terakhir memastikan pemanfaatan yang efektif dan efisien.

Kelima, adalah transformasi SDM kesehatan, pilar ini berfokus untuk memastikan pemerataan distribusi para tenaga kesehatan di seluruh pelosok tanah air Indonesia.
“Adapun dalam penerapannya, pemerintah melakukan penambahan kuota mahasiswa, beasiswa dalam dan luar negeri, serta kemudahan pada penyertaan tenaga kesehatan yang lulus dari universitas luar negeri,” jelasnya.

Terakhir, pilar keenam adalah transformasi teknologi kesehatan yang memiliki peran untuk melakukan pemanfaatan teknologi informasi serta bioteknologi yang berada di sekitar kesehatan.
“Dengan demikian, bisa membuat dunia kesehatan lebih beradaptasi dan memanfaatkan dengan baik perkembangan teknologi digital, sehingga proses digitalisasi sekitar kesehatan dapat menjadi lebih bertumbuh,” pungkas Neli Ulfiati. (*)

PARIWARA.