Beranda Parlementaria Minat Vaksinasi Warga Aceh Masih Rendah, Anggota DPRA: Dinkes Harus “Jemput Bola”

Minat Vaksinasi Warga Aceh Masih Rendah, Anggota DPRA: Dinkes Harus “Jemput Bola”

65
0
BERBAGI

Banda Aceh – Minat vaksinisasi masyarakat di beberapa Kabupaten/Kota di Aceh dinilai masih rendah. Hal ini disebabkan banyaknya informasi hoax yang marak beredar di tengah masyarakat.

“Kalau saya lihat di tingkat provinsi, mereka terus jor-joran untuk mengajak warga agar bersedia divaksin. Tapi di beberapa kabupaten/kota, orang yang ingin divaksin masih sedikit,” kata Anggota Komisi V DPRA Purnama Setia Budi, Selasa malam (27/7/2021).

Politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Aceh itu menyebutkan, Dinas Kesehatan baik di provinsi atau kabupaten/kota harus terus memberikan edukasi kepada masyarakat agar tidak terpengaruh dengan adanya informasi hoax, sehingga minat masyarakat Aceh untuk ikut vaksin terus bertambah.

“Jadi kita bukan hanya diam di tempat, tapi kalau bisa harus jemput bola sambil memberikan edukasi supaya mereka mau datang untuk vaksin,” ujar anggota DPRA Komisi V DPRA Bidang Kesehatan dan Kesejahtaraan ini.

Purnama mengingatkan kepada Permerintah Aceh untuk terus mengejar target vaksinisasi ke seluruh mayarakat minimal 70 persen dari jumlah penduduk di Aceh supaya angka positif Covid-19 semakin membaik.

“Untuk itu, kami meminta kepada Dinas Kesehatan Aceh untuk menyampaikan ke Dinas Kesehatan di kabupaten/kota untuk ‘menjemput bola’, kalau di Banda Aceh warganya sudah mulai paham, tapi di kabupaten/kota masih perlu edukasi lagi,” ujar Purnama.

Terkait dengan kasus Covid-19 di Aceh, Purnama menyebutkan dalam angka positif Covid-19 di Aceh sudah menunjukkan tren yang membaik meskipun dalam dua hari ini kembali meningkat.

“Sementara kasus Covid-19 sudah mulai membaik dan jumlah pasien di rumah sakit juga sudah mulai menurun, walaupun dalam dua hari ini sudah meningkat lagi. Tapi tidak seperti awal-awal sebelumnya, hampir rata-rata yang positif banyak sekali,” katanya.

Purnama mengatakan, upaya penanganan pandemi Covid-19 di Aceh masih belum maksimal. Pelaksanaan 3T yakni pemeriksaan (testing), pelacakan (tracing), dan perawatan (treatment) harus diperketat dalam upaya pengendalian kasus Covid-19.

“Contohnya seperti ini, ada satu yang positif seharusnya ada dilakukan tracing siapa yang dekat dengan dia, kemudian harus ditesting semua, sampai didapatkan terakhir dia kemana. Untuk ditracing dan testing ini yang masih kurang di Aceh. Apalagi masyarakat kita, ketika tau dia positif dia menghilang, sembunyi atau ke mana. Dan ini kan perlu edukasi ke publik. Jadi ini yang harus diperketat, itu tugas kita bersama,” imbuhnya.[Parlementaria]

 

BERBAGI