BANDA ACEH — Persaingan menuju Konferensi PWI Aceh periode 2026-2031 mulai mengerucut setelah dua bakal calon Ketua PWI Aceh bersama pasangan calon Dewan Kehormatan Provinsi (DKP) resmi mendaftar pada hari pertama tahapan pendaftaran, Senin (5/10/2026).
Dua nama yang telah mendaftarkan diri sebagai bakal calon Ketua PWI Aceh masing-masing Muhammad Saman dan M. Nasir Nurdin. Sementara untuk posisi DKP PWI Aceh, nama yang telah masuk adalah Tarmilin Usman dan Muhammad Zairin.
Muhammad Saman bersama Tarmilin Usman mendaftarkan diri lebih awal pada pukul 15.00 WIB. Selanjutnya, M. Nasir Nurdin bersama Muhammad Zairin menyerahkan pendaftaran pada pukul 17.00 WIB di Sekretariat PWI Aceh.
“Alhamdulillah hari ini hari pertama, 5 Oktober 2026 sudah dua orang yang mendaftar. Yang pertama pasangan dari Muhammad Saman dan Tarmilin Usman. Tadi jam 15.00 mendaftar ke mari dan hari ini juga di hari pertama pada jam 17.00 ini pasangan dari Nasir Nurdin dan Muhammad Zairin” kata Sekretaris Steering Committee (SC) Konferensi PWI Aceh, Iranda Novandi.
Menurut Iranda, jumlah bakal calon masih berpotensi bertambah karena tahapan pendaftaran belum berakhir. Ia mengatakan pihak panitia belum dapat menyampaikan nama lain yang disebut-sebut akan maju sebelum yang bersangkutan melakukan pendaftaran secara resmi.
Pendaftaran kali ini juga berlangsung dengan aturan yang berbeda dibandingkan konferensi sebelumnya. Bakal calon tidak lagi menunggu forum konferensi untuk mendapatkan status sebagai calon, tetapi harus melewati tahapan administratif sejak awal.
“Para kandidat itu harus mendaftar terlebih dahulu. Baru diverifikasi dan ditetapkan sebagai calon. Kalau pada masa-masa sebelumnya, para calon itu ditentukan pada hari H konferensi. Siapa yang diusulkan oleh anggota, diusulkan, langsung dipilih,” jelasnya.
Setelah pendaftaran, seluruh berkas dan persyaratan bakal calon akan diverifikasi. Mereka selanjutnya harus memperoleh persetujuan PWI Pusat sebelum ditetapkan sebagai calon yang berhak mengikuti pemilihan.
Persyaratan dukungan anggota juga menjadi bagian penting dalam mekanisme baru tersebut. Setiap bakal calon diwajibkan mengumpulkan dukungan minimal 10 persen dari Daftar Pemilih Tetap (DPT).
Iranda menyebut, berdasarkan daftar sementara yang telah ditetapkan, jumlah minimal dukungan yang harus dikantongi bakal calon mencapai 32 surat dukungan dari anggota biasa PWI.
“Setiap calon untuk maju sebagai bakal calon saja dia harus dapat mengumpulkan 10 persen surat dukungan dari DPT. Jadi 10 persen dari PWI yang sementara, DPS kita tetapkan angka 32. Jadi 32 surat dukungan dari anggota PWI anggota biasa,” ujarnya.
Selain persyaratan dukungan, tata cara pemungutan suara juga mengalami perubahan. Peserta konferensi nantinya tidak lagi menuliskan nama kandidat pada surat suara, melainkan mencoblos tanda gambar calon yang telah ditetapkan.
“Kalau pada proses sebelumnya kita menulis nama calon siapa yang kita pilih. Untuk kali ini kita mencoblos tanda gambar dari calon yang sudah ditetapkan tersebut. Itu dua mekanisme yang mendasar yang sangat berbeda,” katanya.
Di antara dua bakal calon yang telah mendaftar, M. Nasir Nurdin merupakan petahana yang kembali mencalonkan diri untuk periode 2026-2031. Ia mengatakan pencalonannya merupakan bagian dari proses demokrasi di tubuh organisasi dan lahir dari dorongan sejumlah anggota.
“Sebagai penanggung jawab konferensi, kami sangat bertanggung jawab untuk suksesnya konferensi ini. Soal kami maju sebagai kandidat, itu ada hal lain dari warna demokrasi ini. Saya siap untuk melaksanakan amanah kawan-kawan yang mendorong kami untuk bisa berkompetisi di konferensi kali ini. Insyaallah secara sehat.”
Jika kembali dipercaya memimpin PWI Aceh, Nasir mengatakan dirinya akan melanjutkan sejumlah agenda yang belum tuntas selama periode pertama. Ia menyebut penguatan koperasi, administrasi berbasis digital dan peningkatan kapasitas wartawan melalui Uji Kompetensi Wartawan (UKW) sebagai beberapa prioritas.
“Kita target adalah menyelesaikan apa yang belum selesai pada periode pertama. Ada banyak hal. Setidaknya ada hal-hal yang menjadi isu kampanye kita ketika naik pada 2021. Koperasi misalnya, kemudian administrasi berbasis digital, itu belum, ya kan? Kemudian peningkatan kapasitas wartawan melalui UKW dan lain-lainlah, ya kan? Nah, jadi itu menjadi prioritas kita untuk ke depan ini.”
Nasir juga menaruh perhatian pada penguatan kemandirian ekonomi organisasi. Menurutnya, PWI Aceh perlu memiliki basis ekonomi yang lebih kuat sehingga tidak terus bergantung pada dukungan dari pihak luar.
“Dan insyaallah kita akan laksanakan itu dengan sebaik-baiknya. Ya kita tidak ingin PWI ini selalu bergantung ke luar. Paling tidak di bidang ekonomi kita harus perkuat. ekonomi kita harus perkuatlah. Koperasi misalnya.”
Tahapan pendaftaran bakal calon Ketua dan DKP PWI Aceh berlangsung hingga 17 Oktober 2026. Selanjutnya, verifikasi dokumen dijadwalkan pada 18-24 Oktober, masa perbaikan dokumen 25-31 Oktober, dan pengiriman berkas ke PWI Pusat pada 1 November 2026.
Konferensi PWI Aceh untuk memilih Ketua dan DKP PWI Aceh periode 2026-2031 dijadwalkan berlangsung pada 20-22 November 2026. Lokasi pelaksanaan masih tentatif dan direncanakan digelar di Banda Aceh.
Dengan dua bakal calon yang telah mendaftar pada hari pertama, tahapan menuju konferensi kini memasuki fase verifikasi dan pemenuhan persyaratan. Sementara peluang munculnya kandidat lain masih terbuka hingga pendaftaran resmi ditutup pada 17 Oktober mendatang.[*]













