BANDA ACEH — Ketua Komisi IV DPRK Banda Aceh, Farid Nyak Umar, ST., meminta kader remaja Posyandu memperkuat peran sebagai edukator sebaya dalam upaya pencegahan HIV/AIDS di lingkungan masyarakat.
Hal itu disampaikan Farid saat membuka kegiatan penyuluhan, sosialisasi, dan edukasi kesehatan bagi remaja bertema “Hidup Sehat, Remaja Bebas HIV/AIDS” yang digelar Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh di Paopia Coffee, Banda Aceh, Selasa (29/9/2026).
Kegiatan yang berlangsung selama dua hari, 29–30 September 2026, tersebut diikuti 50 remaja putri dari wilayah kerja Puskesmas Kuta Alam dan Puskesmas Lampulo.
Farid mengatakan kader remaja memiliki posisi strategis karena dapat menjadi penghubung informasi kesehatan kepada teman sebaya maupun masyarakat di lingkungan gampong.
“Sebagai anak muda, adik-adik harus memiliki peran dalam menjaga Kota Banda Aceh. Sebab, yang paling banyak terdampak adalah generasi mereka sendiri, yaitu generasi muda,” ujar Farid.
Ia menyebut data Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh menunjukkan kasus HIV/AIDS terus menjadi perhatian. Berdasarkan data yang disampaikan Farid, pada 2008 tercatat 10 kasus, terdiri dari sembilan kasus HIV dan satu AIDS. Angka tersebut kemudian meningkat menjadi 36 kasus pada 2018.
Pada 2024, tercatat 147 kasus, terdiri dari 104 HIV dan 43 AIDS. Sementara hingga Agustus 2026 tercatat 68 kasus baru, terdiri dari 49 HIV dan 19 AIDS.
Secara kumulatif, Farid menyebut sejak 2008 hingga 2026 telah tercatat 942 kasus HIV/AIDS, terdiri dari 771 kasus HIV dan 171 kasus AIDS.
“Setiap tahun angkanya terus menunjukkan peningkatan. Jika dibandingkan dengan 2008 yang hanya terdapat 10 kasus, hingga 2026 jumlah kumulatif sudah mencapai 942 kasus,” katanya.
Angka kumulatif tersebut, menurut Farid, menunjukkan pentingnya penguatan edukasi kesehatan bagi remaja, terutama terkait faktor risiko, pencegahan penularan, serta penghapusan stigma terhadap orang dengan HIV/AIDS (ODHA).
Ia menekankan, edukasi kepada remaja perlu dilakukan dengan pendekatan yang tepat, bukan dengan menakut-nakuti, tetapi melalui pemberian informasi kesehatan yang benar dan mudah dipahami.
Farid mengajak para peserta memahami tiga hal penting dalam pencegahan HIV/AIDS, yakni mengenali risiko, mencegah penularan, dan menghilangkan stigma.
Menurutnya, pengetahuan menjadi salah satu bagian penting agar remaja mampu memahami perilaku yang berisiko maupun tidak berisiko terhadap penularan HIV.
“Pengetahuan merupakan benteng pertama dalam mencegah penularan HIV,” katanya.
Ia juga meminta para kader menyampaikan informasi yang telah diperoleh kepada teman sebaya setelah kembali ke gampong masing-masing.
“Setelah pelatihan ini, pulang ke gampong dan sampaikan kepada setidaknya 10 teman tentang bahaya serta cara pencegahan HIV/AIDS,” pesan Farid.
Selain memberikan edukasi, ia meminta kader menjadi contoh dalam menerapkan pola hidup sehat serta menjauhi rokok, vape, NAPZA, dan perilaku berisiko.
“Bantu pemerintah gampong dan Posyandu untuk mendata dan mengedukasi masyarakat,” tambahnya.
Farid juga menekankan pentingnya menghilangkan stigma terhadap ODHA. Menurutnya, orang dengan HIV/AIDS membutuhkan dukungan untuk mendapatkan pengobatan dan layanan kesehatan, bukan dikucilkan.
“Jangan sampai mereka tidak berobat karena malu dan takut dikucilkan. Islam mengajarkan kita untuk saling menyayangi,” ujarnya.
Kegiatan tersebut, kata Farid, merupakan bagian dari investasi jangka panjang dalam membangun sumber daya manusia di Banda Aceh.
“Kami di DPRK, khususnya Komisi IV, akan terus mendukung program seperti ini. Ini adalah investasi jangka panjang untuk mewujudkan Banda Aceh hebat, remaja sehat, dan keluarga kuat,” katanya.
Sementara itu, Ustaz Febri Sugianto dari Thibbun Nabawi menyampaikan pentingnya menjaga kesehatan secara menyeluruh, baik jasmani maupun rohani.
Menurutnya, kesehatan tidak hanya berkaitan dengan kondisi fisik, tetapi juga kondisi mental dan spiritual.
“Apalagi peserta hari ini dari kalangan remaja. Mereka harus memperhatikan tingkat stres, pola makan, dan olahraga,” ujar Febri.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga kebersihan, menerapkan pola hidup sehat, berolahraga, serta memperkuat ibadah.
Dalam kegiatan tersebut, peserta juga mendapatkan materi dari drg. Supriayadi R, M.Kes., dari Dinas Kesehatan Banda Aceh dengan topik “Perilaku Berisiko Remaja dan Seks Bebas, Narkoba dan HIV/AIDS”.
Sementara dr. Cut Nonda Maracilu, Sp.OG., dokter spesialis obstetri dan ginekologi, menyampaikan materi “Hidup Sehat Bebas HIV/AIDS.”
Melalui kegiatan tersebut, para kader remaja diharapkan tidak berhenti pada pemahaman pribadi, tetapi mampu meneruskan informasi kesehatan yang benar kepada teman sebaya dan masyarakat di lingkungan masing-masing. (*)














