DaerahHeadline

Bukan Kemewahan yang Diminta, M. Ali dan Fuadi Hanya Ingin Rumah yang Aman

×

Bukan Kemewahan yang Diminta, M. Ali dan Fuadi Hanya Ingin Rumah yang Aman

Share this article
Kondisi rumah M. Ali, warga Gampong Teu Dayah, Kecamatan Kuta Malaka, Aceh Besar, yang memprihatinkan, Dinding papan telah lapuk dan sejumlah bagian rumah mengalami kerusakan. Foto: (Ist)

ACEH BESAR — Hujan mungkin hanya berarti air yang turun dari langit bagi sebagian orang. Namun bagi M. Ali (65), setiap hujan yang disertai angin kencang selalu membawa kekhawatiran.

Bukan sekadar takut basah. Yang lebih ia khawatirkan adalah rumah yang selama bertahun-tahun menjadi tempat berlindung bersama keluarga, sewaktu-waktu tak lagi mampu bertahan.

Di Gampong Teu Dayah, Kecamatan Kuta Malaka, Kabupaten Aceh Besar, M. Ali masih menempati sebuah rumah sederhana yang kondisinya jauh dari layak. Atapnya masih menggunakan daun rumbia, sementara dinding papan telah lapuk dan berlubang di sejumlah bagian.

Di balik dinding yang mulai rapuh itu, M. Ali bersama keluarga tetap menjalani kehidupan sehari-hari dengan segala keterbatasan.

Namun, rasa aman yang seharusnya hadir di dalam rumah belum sepenuhnya mereka rasakan.

Ketika hujan turun deras dan angin bertiup kencang, kekhawatiran kembali datang. Rumah yang semestinya menjadi tempat paling aman justru membutuhkan perhatian agar tetap mampu melindungi penghuninya.

Kondisi serupa juga dialami keluarga Fuadi (52), warga Gampong Teu Dayah lainnya.

Rumah yang ditempati Fuadi bersama keluarganya juga berada dalam kondisi tidak layak huni. Ruang yang terbatas harus menjadi tempat tinggal bagi tujuh orang anggota keluarga.

Bagi keluarga Fuadi, rumah tersebut bukan sekadar bangunan. Di sanalah mereka berteduh, beristirahat, berkumpul, dan menjalani kehidupan dari hari ke hari.

Di tengah keadaan itu, keinginan mereka sebenarnya sederhana. Bukan rumah besar, apalagi bangunan mewah.

Mereka hanya ingin sebuah rumah yang aman. Rumah yang tidak membuat cemas ketika hujan turun, dan tetap mampu melindungi keluarga ketika angin kencang datang.

Kondisi kedua keluarga tersebut disampaikan Keuchik Gampong Teu Dayah, Iskandar Basyah, Senin (28/9/2026).

Menurut Iskandar, kondisi rumah M. Ali dan keluarga Fuadi memang membutuhkan perhatian serius. Atap yang masih menggunakan daun rumbia serta dinding papan yang telah lapuk dan berlubang membuat kedua keluarga tersebut hidup dalam kondisi yang memprihatinkan.

“Mereka bukan meminta kemewahan. Mereka hanya berharap bisa memiliki rumah yang layak, aman, dan nyaman untuk ditempati bersama keluarga. Kondisi mereka memang sangat memprihatinkan,” ujar Iskandar.

Bagi Iskandar, persoalan tersebut bukan semata-mata tentang kondisi fisik sebuah rumah. Di balik dinding papan yang lapuk, ada keluarga yang sedang mempertahankan kehidupan dengan segala keterbatasan.

Karena itu, ia berharap pemerintah daerah, pihak terkait maupun para dermawan dapat melihat langsung kondisi kedua keluarga tersebut.

Ia juga berharap ada bantuan nyata untuk membangun rumah yang lebih layak bagi M. Ali dan Fuadi.

Sebab, bagi keluarga kurang mampu, rumah bukan hanya tempat berteduh. Rumah adalah tempat keluarga berkumpul, tempat anak-anak tumbuh, sekaligus ruang untuk menjalani kehidupan dengan rasa aman.

Di banyak tempat, rumah mungkin dipandang sebagai sesuatu yang biasa. Namun bagi M. Ali dan keluarga Fuadi, memiliki rumah yang aman merupakan harapan besar.

Dinding papan yang berlubang, atap rumbia, serta kondisi bangunan yang semakin memprihatinkan menjadi bagian dari keseharian mereka.

Mereka hanya berharap memiliki bangunan sederhana yang kokoh, yang mampu melindungi keluarga dari panas dan hujan.

Keuchik Iskandar berharap pemberitaan mengenai kondisi kedua keluarga tersebut dapat membuka jalan bagi datangnya perhatian dan bantuan dari pemerintah maupun para dermawan.

“Semoga ada perhatian dari pemerintah daerah dan para donatur. Jangan sampai mereka terus bertahan dalam kondisi seperti ini. Mereka juga berhak memiliki tempat tinggal yang layak dan aman. Kami berharap ada bantuan nyata untuk pembangunan rumah mereka,” harapnya.

Kini, harapan itu masih tertuju kepada pemerintah dan para dermawan.

Di balik rumah yang hampir roboh, ada M. Ali yang terus menjalani kehidupannya.

Ada pula Fuadi bersama tujuh anggota keluarganya yang tetap bertahan di tengah keterbatasan.

Cukup sebuah rumah yang kokoh, atap yang tidak membuat cemas ketika hujan turun, dan dinding yang mampu memberikan rasa aman.

Sebab pada akhirnya, setiap keluarga berhak memiliki tempat untuk pulang sebuah tempat sederhana yang membuat mereka merasa terlindungi.(*)