BeritaHeadline

Mahasiswi Biologi USK Ciptakan Hydrogel Pendeteksi Infeksi Luka Diabetes, Raih Juara Nasional

×

Mahasiswi Biologi USK Ciptakan Hydrogel Pendeteksi Infeksi Luka Diabetes, Raih Juara Nasional

Share this article
Tiga mahasiswi Program Studi Biologi FMIPA Universitas Syiah Kuala (USK), Sarah Salsabil, Cut Dhinie Decita, dan Naja Luthfia Nuha menunjukkan penghargaan Juara 2 Kompetisi Sains Biologi tingkat nasional yang diselenggarakan Universitas Mulawarman. Foto: (Humas USK).

BANDA ACEH — Prestasi membanggakan kembali ditorehkan mahasiswa Universitas Syiah Kuala (USK) di tingkat nasional. Tiga mahasiswi Program Studi Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) USK berhasil meraih Juara 2 pada ajang Kompetisi Sains Biologi yang diselenggarakan oleh Universitas Mulawarman, baru-baru ini.

Tim tersebut terdiri atas Sarah Salsabil sebagai ketua tim bersama dua anggota lainnya, Cut Dhinie Decita dan Naja Luthfia Nuha. Mereka mengangkat karya inovatif berjudul “Bio-Responsive Smart Hydrogel Berbasis Polisakarida Rumput Laut Lokal dengan Indikator Visual Dini Infeksi untuk Penyembuhan Luka Diabetes”.

Ketua tim, Sarah Salsabil, menjelaskan bahwa inovasi tersebut lahir dari upaya memanfaatkan potensi rumput laut lokal sebagai biomaterial kesehatan yang memiliki nilai guna tinggi.

Menurutnya, hydrogel yang dikembangkan tidak hanya berfungsi membantu mempercepat proses penyembuhan luka diabetes, tetapi juga mampu mendeteksi infeksi secara dini melalui perubahan visual pada material.

“Kami mengintegrasikan aspek bioteknologi kesehatan dalam sistem bio-responsive. Mekanismenya memungkinkan adanya indikator visual yang bereaksi terhadap kondisi luka, sehingga infeksi dapat diketahui lebih awal,” ujar Sarah.

Dalam pengembangan riset tersebut, setiap anggota tim memiliki fokus kajian masing-masing. Cut Dhinie Decita mendalami karakteristik polisakarida rumput laut sebagai bahan dasar hydrogel, sedangkan Naja Luthfia Nuha meneliti mekanisme sensor pada sistem hydrogel terhadap luka yang terinfeksi.

Inovasi ini dinilai menjadi terobosan yang potensial dalam pengembangan material medis berbasis sumber daya alam lokal, khususnya untuk penanganan luka diabetes yang membutuhkan pemantauan intensif terhadap risiko infeksi.

Prestasi ketiga mahasiswi itu mendapat apresiasi dari pihak FMIPA USK. Keberhasilan tersebut dinilai sebagai bukti bahwa mahasiswa USK mampu mentransformasikan ilmu sains dasar menjadi riset aplikatif yang relevan dengan kebutuhan kesehatan masa depan.

Pihak fakultas juga menegaskan komitmennya untuk terus mendukung penguatan riset laboratorium dan pengembangan teknologi di berbagai bidang, mulai dari lingkungan hingga bioteknologi kesehatan.(*)