Banda Aceh — Seniman dan pelawak legendaris asal Aceh, Apa Gense, meminta Pemerintah Aceh agar lebih memperhatikan nasib para seniman daerah yang selama puluhan tahun berperan menyuarakan pesan pembangunan dan persatuan kepada masyarakat.
Apa Gense mengatakan, sejak era 1970-an, seniman Aceh baik pemain seni tradisi seperti seudati maupun komedian telah menjadi media penyampai pesan-pesan pemerintah, khususnya saat tampil di hadapan tamu daerah, tamu luar, maupun masyarakat umum.
“Seniman Aceh ini sebenarnya adalah salah satu corong pemerintah. Setiap tampil di depan masyarakat, kami selalu mengangkat dan menyampaikan tentang pemerintahan Aceh,” ujar Apa Gense, Selasa (3/2/2026).
Ia menyebutkan, sejak masa seniman seudati hingga komedian Aceh seperti Celah Genda dan Celah Murnuna, para seniman kerap dilibatkan dalam berbagai momentum pemerintahan dan politik, termasuk mendukung program bupati, wali kota, hingga menyosialisasikan program calon legislatif dan kepala daerah pada masa pemilu.
Namun demikian, Apa Gense mengakui kehidupan seniman Aceh tidak selalu sejahtera. Ia menggambarkan kondisi seniman dengan ungkapan “hidup segan, mati tak mau”, meski semangat berkarya tidak pernah padam.
“Walaupun perhatian pemerintah masih kurang, apalagi sekarang Aceh sedang dilanda musibah dan hiburan juga minim, kami tetap semangat sebagai seniman,” katanya.
Ia berharap Pemerintah Aceh dapat memberikan dukungan yang lebih konkret, baik dalam bentuk bantuan dana maupun penyediaan ruang dan agenda rutin bagi kegiatan kesenian.
“Kalau tidak bisa seminggu sekali, paling tidak sebulan sekali ada acara kesenian. Karena kesenian ini selalu menyuarakan pembangunan dan persatuan Aceh,” ujarnya.
Apa Gense juga menyoroti kondisi ekonomi para seniman yang umumnya berusaha bertahan hidup secara mandiri. Banyak seniman, kata dia, memanfaatkan peluang ekonomi informal, termasuk layanan berbasis daring, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Seniman ini tidak mau bergantung sepenuhnya. Ada yang manfaatkan mobil jadi transportasi online, sambil menunggu penumpang, sambil tetap berkarya,” jelasnya.
Menurut Apa Gense, pemerintah tetap memiliki peran penting dalam menciptakan ekosistem seni dan budaya yang sehat. Ia mencontohkan daerah lain di Indonesia yang mampu menjadikan kesenian sebagai daya tarik wisata, sehingga memberi dampak ekonomi bagi pelaku seni.
“Di daerah lain, kesenian dan budaya jadi tontonan wisata. Aceh juga punya potensi besar. Tinggal diberi ruang dan perhatian,” pungkasnya.(*)













