Banda Aceh — Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) kembali memutakhirkan data situasi dan penanganan pascabencana banjir dan longsor yang melanda tiga provinsi, yakni Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menyampaikan bahwa hingga 18 Desember 2025 terjadi penambahan korban meninggal dunia sebanyak sembilan jiwa. Dengan demikian, total korban jiwa meninggal dunia meningkat dari 1.059 jiwa menjadi 1.068 jiwa.
“Penambahan korban terdiri dari tiga jiwa di Aceh Utara, dua jiwa di Aceh Timur, satu jiwa di Tapanuli Selatan, satu jiwa di Langkat, satu jiwa di Agam, serta satu jiwa di Padang Pariaman,” ujar Abdul Muhari dalam pemutakhiran data harian ,Kamis (18/12/2025).
Sementara itu, jumlah korban hilang hingga hari ini masih tercatat sebanyak 190 orang, sedangkan jumlah warga yang masih berada di titik-titik pengungsian mencapai 537.185 jiwa. Selain itu, tercatat masih ada 27 kabupaten/kota yang menetapkan status tanggap darurat, dengan satu kabupaten/kota tambahan yang memperpanjang masa tanggap darurat.
Abdul Muhari menjelaskan, sesuai arahan Presiden Republik Indonesia, fase tanggap darurat tahap kedua tidak hanya difokuskan pada pencarian dan pertolongan, distribusi logistik, serta pembukaan akses jalan, komunikasi, dan energi, tetapi juga mulai mengoptimalkan fase pemulihan awal (early recovery).
“Target utama kita adalah secepat mungkin memulai pembangunan hunian sementara dan hunian tetap bagi masyarakat terdampak,” katanya.
Untuk Provinsi Aceh, BNPB mencatat hingga pukul 14.00 WIB hari ini telah dilaksanakan 11 sorti penerbangan udara dengan total distribusi logistik mencapai 22,4 ton dari target 21 sorti.
Kemajuan signifikan juga terjadi pada pembukaan akses darat. Jalur Krueng Geukueh–Bener Meriah–Takengon (KKA) kini telah dapat dilalui, sehingga memperlancar mobilisasi logistik, pergerakan masyarakat, serta penggeseran alat berat ke wilayah Bener Meriah dan Takengon.
Di sektor infrastruktur, pembangunan Jembatan Bailey Tepin Reudep di kawasan Awe Geutah, yang merupakan jalur alternatif Bireuen–Lhokseumawe, telah memasuki tahap finalisasi dan ditargetkan segera dilakukan uji lintasan.
Sementara itu, Jembatan Kutablang, jalur utama Bireuen–Lhokseumawe, telah mencapai progres 60 persen, dan Jembatan Cot Bada pada ruas jalan Kota Bireuen yang terdampak longsor telah mencapai progres pengerjaan 80 persen.
Terkait rencana pembangunan hunian sementara, BNPB bersama pemerintah daerah telah menerima usulan lokasi dari Pemerintah Kabupaten Nagan Raya. Saat ini tim gabungan tengah melakukan pengecekan kesesuaian lahan guna memastikan lokasi aman dari potensi bencana serupa di masa mendatang.(*)













