HeadlinePariwara

Rujak Benteng, Kuliner Khas Sabang yang Menggugah Selera

×

Rujak Benteng, Kuliner Khas Sabang yang Menggugah Selera

Share this article
Rujak khas Benteng Anoi Itam, kuliner legendaris yang telah bertahan lebih dari 35 tahun dan menjadi sajian wajib bagi wisatawan yang berkunjung ke Sabang. Foto: (Suara Aceh).

Sabang – Selain dikenal lewat keindahan laut biru, pasir putih, dan destinasi sejarahnya, Kota Sabang juga menawarkan kekayaan kuliner yang tak kalah menggugah selera. Di antara beragam kuliner lokal, Rujak Benteng Anoi Itam menjadi salah satu ikon cita rasa Sabang yang paling melegenda. Kuliner ini tidak hanya menyajikan rasa yang unik, tetapi juga membawa cerita panjang yang telah bertahan selama 35 tahun di salah satu destinasi wisata sejarah paling terkenal di Pulau Weh.

Terletak di kawasan Benteng Anoi Itam, sebuah situs pertahanan bersejarah dengan pemandangan laut lepas yang eksotis, Rujak Benteng menjadi magnet tersendiri bagi pengunjung. Banyak wisatawan mengakui bahwa kunjungan ke Anoi Itam terasa belum lengkap jika belum mencicipi rujak racikan Yusuf, sang peracik rujak yang sudah lebih dari tiga dekade menjaga resep turun-temurunnya.

Benteng Anoi Itam, yang menjadi lokasi usaha Yusuf, merupakan salah satu ikon wisata sejarah di Sabang. Benteng peninggalan Jepang ini menawarkan panorama laut yang indah dan suasana tenang, menjadikannya lokasi yang sangat ideal untuk menikmati makanan ringan sambil beristirahat.

Di sinilah Rujak Benteng menjadi pelengkap utama suasana wisata. Kombinasi antara udara laut, hembusan angin, pemandangan bukit hitam Anoi Itam, dan rasa rujak yang segar membuat pengalaman wisata menjadi lebih berkesan.

Rujak ini telah mencuri hati para wisatawan baik dari Sabang sendiri maupun dari luar Aceh. Bahkan banyak pengunjung yang sengaja kembali ke tempat ini bukan hanya untuk melihat benteng, tetapi juga menikmati rasa khas rujak yang tidak ditemukan di tempat lain.

Yusuf, pemilik sekaligus peracik rujak Benteng, mengungkapkan bahwa resep rujaknya merupakan warisan keluarga yang telah dijaga selama lebih dari tiga dekade. Racikan tersebut menggunakan buah segar seperti mangga, timun, nanas, serta bumbu kacang yang dipadukan dengan gula merah khas, menjadikannya memiliki cita rasa manis, asam, pedas, dan gurih dalam satu gigitan.

Dengan harga hanya Rp13.000 per porsi, rujak ini menjadi kuliner murah meriah namun kaya rasa yang dicari banyak wisatawan. Yusuf menyebutkan bahwa kualitas bahan selalu dijaga agar rasa autentiknya tidak berubah.

“Bahan utama rujak ini sebagian besar berasal dari Sabang, sementara beberapa jenis buah kadang saya pesan dari Banda Aceh. Karena jarak rumah saya cukup jauh dari pusat kota, biasanya saya berbelanja sekali dalam seminggu untuk memenuhi stok,” ujar Yusuf, Minggu (05/10/2025).

Keterbatasan akses dan jarak rumah yang jauh tidak mengurangi semangat Yusuf dalam mempertahankan cita rasa rujaknya. Justru dedikasinya selama puluhan tahun membuat kuliner ini tetap bertahan dan semakin dicari wisatawan.

Rujak Benteng tidak hanya menjadi kuliner legendaris, tetapi juga menjadi sumber mata pencaharian yang cukup besar bagi Yusuf. Pada akhir pekan atau musim liburan panjang, omzetnya bisa mencapai Rp2 juta per hari. Sementara pada hari-hari biasa, pemasukan yang ia dapatkan berkisar antara Rp300 ribu hingga Rp500 ribu.

Angka ini menunjukkan bahwa kuliner lokal memiliki daya tarik besar sebagai bagian dari ekosistem pariwisata daerah. Ketika wisatawan menikmati rujak, mereka bukan hanya sekadar makan, tetapi juga berkontribusi pada ekonomi lokal yang tumbuh dari tradisi kuliner sederhana.

Yusuf mengakui bahwa banyak pengunjung yang datang karena penasaran dengan popularitas rujaknya. Ada juga yang datang karena direkomendasikan oleh wisatawan lain, menjadi bukti bahwa promosi dari mulut ke mulut masih menjadi kekuatan besar bagi kuliner tradisional.

Kepala Dinas Pariwisata Kota Sabang, Harry Susethia, memberikan apresiasi terhadap kuliner lokal yang mampu memperkaya pengalaman wisatawan di Sabang. Ia menilai bahwa keberadaan Rujak Benteng memberikan nilai tambah bagi destinasi wisata sejarah seperti Anoi Itam.

“Rujak Benteng Anoi Itam menjadi nilai tambah bagi wisatawan yang ingin menikmati pengalaman lengkap di Sabang. Ini adalah bagian dari identitas kuliner kita yang harus dijaga,” kata Harry.

Pemerintah juga berkomitmen mendukung promosi kuliner lokal sebagai bagian dari strategi memperkuat citra Sabang sebagai kota wisata. Kolaborasi antara destinasi sejarah dan pelaku usaha kuliner seperti Yusuf dinilai sebagai formulasi terbaik untuk menjaga keunikan daerah.

“Kolaborasi antara pelaku usaha kuliner dan destinasi wisata seperti Benteng Anoi Itam harus terus dijaga. Pemerintah siap mendukung promosi kuliner khas agar makin dikenal,” tambahnya.

Rujak Benteng menjadi salah satu contoh keunikan kuliner Sabang yang semakin memperkaya pengalaman wisatawan. Banyak pengunjung mengatakan bahwa menikmati rujak sambil duduk di tepi tebing, menghadap lautan luas dan angin pantai, menjadi momen yang tidak tergantikan.

Selain rasanya yang khas, momen menikmati rujak di lokasi bersejarah membuat sensasi wisata terasa lebih lengkap. Ini yang menjadikan Rujak Benteng lebih dari sekadar makanan ia adalah bagian dari perjalanan wisata, pengalaman budaya, dan kenangan yang akan diingat wisatawan setelah meninggalkan Sabang.

Dengan popularitas yang terus meningkat, Rujak Benteng dapat menjadi salah satu kuliner unggulan Sabang yang layak dipromosikan di berbagai event pariwisata. Pemerintah dapat memadukan wisata sejarah, wisata kuliner, dan promosi budaya untuk menarik lebih banyak pengunjung ke destinasi ini.

Kedepannya, pengembangan fasilitas seperti tempat duduk yang lebih banyak, area foto tematik, atau festival kuliner lokal bisa memperkuat posisi Benteng Anoi Itam sebagai salah satu pusat wisata kuliner Sabang.

Lonjakan minat wisatawan terhadap kuliner tradisional membuktikan bahwa rasa, cerita, dan pengalaman dapat memberikan dampak ekonomi yang sangat besar bila dikelola dengan baik.

Pada akhirnya, Rujak Benteng bukan hanya sebuah menu makanan ringan. Ia adalah identitas cita rasa Sabang yang telah bertahan puluhan tahun. Dari tangan sederhana Yusuf, kuliner ini menjelma menjadi legenda kecil yang tak bisa dipisahkan dari destinasi Benteng Anoi Itam.

Bagi wisatawan, mencicipi Rujak Benteng adalah bagian dari ritual saat berkunjung ke Sabang. Bagi warga lokal, kuliner ini adalah kebanggaan yang memperlihatkan bagaimana tradisi dapat bertahan di tengah arus modernisasi.

Dengan dukungan pemerintah, masyarakat, dan pelaku usaha kuliner, Rujak Benteng diyakini akan terus menjadi bagian penting dari wajah pariwisata Sabang.(*)

Advertorial.