DaerahHeadlinePemerintah

Dosen UTU dan SDN Peunaga Cut Ujong Kolaborasi Wujudkan Pembelajaran Mendalam Berbasis Cinta Lingkungan

×

Dosen UTU dan SDN Peunaga Cut Ujong Kolaborasi Wujudkan Pembelajaran Mendalam Berbasis Cinta Lingkungan

Share this article
Tim dosen Universitas Teuku Umar bersama guru dan siswa SDN Peunaga Cut Ujong berfoto bersama usai kegiatan sosialisasi dan penanaman mangrove di kawasan pesisir, Rabu (13/8/2025), sebagai bagian dari program integrasi nilai cinta lingkungan dalam pembelajaran.

Aceh Barat – Dosen Universitas Teuku Umar (UTU) bekerja sama dengan SDN Peunaga Cut Ujong memulai langkah kolaboratif untuk mengintegrasikan nilai-nilai cinta lingkungan ke dalam proses pembelajaran melalui penerapan Pembelajaran Mendalam. Kegiatan ini dilakukan melalui Program Hibah Internal pada Skim Pengabdian Kepada Masyarakat Berbasis Riset (PKMBR) tahun 2025, dengan tim dosen diketuai oleh Futri Syam, M.Pd., Eka Lisdayanti, S.Kel., M.Si., dan Dony Arung Triantoro, M.A.

Tahap awal program ini diawali dengan sosialisasi kepada para guru mengenai pentingnya membangun karakter peduli lingkungan sejak dini. Kegiatan lanjutan dari sosialisasi ini berupa aksi nyata penanaman mangrove di kawasan pesisir dan pembelajaran klasifikasi sampah oleh murid.

Materi utama yang disampaikan bertajuk “Integrasi Materi Cinta Lingkungan dalam Mata Pelajaran Tingkat SD” dengan fokus membangun karakter peduli lingkungan sejak dini. Program ini sejalan dengan prinsip Kurikulum Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) yang dicanangkan oleh Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, yang menekankan proses belajar berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan secara holistik.

Materi yang dibagikan kepada guru juga menekankan alasan pentingnya integrasi cinta lingkungan, antara lain menjawab krisis lingkungan global, membangun kebiasaan berkelanjutan, serta mendorong murid menjadi agen perubahan di komunitasnya. Contoh implementasi yang dibahas meliputi mengaitkan topik ”Menjaga Bumi” pada mata pelajaran IPAS kelas 6 dengan kegiatan lapangan penanaman mangrove dan diskusi klasifikasi sampah organik-anorganik.

Pada sesi materi bertajuk Integrasi Cinta Lingkungan dalam Mata Pelajaran di Tingkat Sekolah Dasar, narasumber menekankan bahwa Pembelajaran Mendalam merupakan pendekatan yang memuliakan proses belajar dengan menciptakan suasana yang sadar, bermakna, dan menyenangkan melalui olah pikir, olah hati, olah rasa, dan olah raga secara holistik dan terpadu. Dalam pemaparannya, narasumber menyoroti empat komponen utama dari Pembelajaran Mendalam:

  1. Dimensi Profil Lulusan – Mengembangkan delapan dimensi kompetensi yang harus dimiliki murid, yaitu keimanan dan ketakwaan terhadap Tuhan YME, kewargaan, penalaran kritis, kreativitas, kolaborasi, kemandirian, kesehatan, dan komunikasi. Dimensi ini diharapkan membentuk lulusan yang mampu mengelola lingkungan secara berkelanjutan dengan kepemimpinan yang berintegritas dan berkarakter.
  2. Prinsip Pembelajaran – Mengedepankan tiga prinsip utama, yaitu berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan. Dengan prinsip ini, proses belajar tidak hanya mentransfer pengetahuan, tetapi juga membangun keterhubungan emosional murid dengan materi, sehingga mereka merasa senang dan terinspirasi untuk peduli pada lingkungan.
  3. Pengalaman Belajar – Mendorong murid untuk memahami, mengaplikasikan, dan merefleksikan pembelajaran melalui pengalaman langsung. Contohnya, mengamati ekosistem pesisir saat kegiatan penanaman mangrove, atau mempraktikkan klasifikasi sampah organik dan anorganik di lingkungan sekolah.
  4. Kerangka Pembelajaran – Merancang pembelajaran yang kontekstual, reflektif, dan kolaboratif dengan memanfaatkan praktik pedagogis yang efektif, kemitraan antara sekolah dan komunitas, lingkungan belajar yang mendukung, serta penggunaan teknologi digital untuk memperluas wawasan murid.

Kepala SDN Peunaga Cut Ujong, Henni Marlina,, S.Pd., menyambut baik kolaborasi ini. “Pembelajaran mendalam memberi ruang bagi anak-anak untuk benar-benar memahami dan mencintai lingkungan, bukan hanya menghafal teori. Saya yakin kegiatan ini akan membentuk kebiasaan positif yang bertahan hingga mereka dewasa,” ujarnya.

Kemitraan seperti ini bukan sekadar transfer pengetahuan, tetapi sebuah gerakan membangun kesadaran kolektif. “Kami memandang pembelajaran lingkungan sebagai investasi jangka panjang untuk membentuk generasi yang kritis, peduli, dan mampu mengambil tindakan nyata. Dengan pembelajaran mendalam, murid tidak hanya belajar memahami isu lingkungan, tetapi juga menumbuhkan rasa memiliki terhadap alam yang akan mereka jaga sepanjang hidup,” ujar Futri Syam, salah satu dosen yang terlibat.

Kolaborasi ini diharapkan menjadi model praktik baik yang dapat direplikasi di sekolah-sekolah lain di Aceh Barat, dengan menekankan keterpaduan antara nilai-nilai lingkungan, kerangka pembelajaran mendalam, dan kebutuhan lokal masyarakat pesisir.