ACEH JAYA – Nama Adi sudah tidak asing lagi di kalangan pecinta durian. Warga Gampong Lhok Timon, Kabupaten Aceh Jaya itu dikenal sebagai sosok yang konsisten memperkenalkan dan mengembangkan durian unggul lokal Aceh hingga dikenal di tingkat nasional, bahkan menembus pasar pecinta durian di Malaysia.
Selama lebih dari lima tahun terakhir, Adi aktif menelusuri, mengidentifikasi, dan mengembangkan berbagai varietas durian unggul yang tumbuh di kawasan Aceh Jaya. Berkat ketekunan dan kecintaannya terhadap komoditas tersebut, sejumlah varietas durian lokal kini mulai dikenal luas oleh para pecinta durian di berbagai daerah Indonesia, bahkan hingga Malaysia.
Beberapa varietas unggulan yang berhasil diperkenalkannya antara lain King Lobster, Jalo, Rencong Mas, Bantal Mas, dan Blue Sky. Varietas-varietas tersebut dikenal memiliki karakteristik rasa yang khas, daging buah yang tebal, tekstur lembut, warna menarik, serta aroma yang kuat dan menggugah selera.
Tidak hanya dikenal oleh komunitas pecinta durian, bibit dari varietas unggul tersebut juga telah memperoleh sertifikasi dari Kementerian Pertanian Republik Indonesia. Sertifikasi itu menjadi pengakuan resmi terhadap kualitas dan keunggulan genetika durian lokal Aceh Jaya, sekaligus membuka peluang bagi bibit tersebut untuk dipasarkan secara legal dan lebih luas.
Menurut Adi, Aceh memiliki kekayaan plasma nutfah durian yang sangat besar dan belum sepenuhnya tereksplorasi. Ia meyakini kualitas durian lokal Aceh mampu bersaing dengan varietas premium yang selama ini mendominasi pasar Asia Tenggara.
“Banyak orang mengenal Musang King atau Black Thorn dari Malaysia. Padahal Aceh juga memiliki durian dengan kualitas yang tidak kalah. Dari sisi rasa, tekstur, warna daging buah, hingga produktivitas pohon, beberapa varietas lokal kita memiliki keunggulan tersendiri,” ujarnya.
Bagi Adi, memperkenalkan durian lokal bukan sekadar hobi, melainkan bagian dari upaya menjaga kekayaan genetik daerah sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat. Ia berharap semakin banyak petani yang tertarik menanam varietas unggul lokal sehingga dapat meningkatkan nilai jual hasil perkebunan mereka.
“Kalau varietas lokal ini ditanam secara luas, manfaatnya akan kembali kepada masyarakat. Petani bisa mendapatkan nilai ekonomi yang lebih baik, sementara Aceh memiliki identitas baru sebagai salah satu daerah penghasil durian premium di Indonesia,” katanya.
Ia juga berharap Pemerintah Aceh dapat memberikan perhatian lebih serius terhadap pengembangan durian unggul lokal, baik melalui penyediaan bibit bersertifikat, pendampingan petani, maupun program pengembangan kawasan sentra durian di berbagai kabupaten/kota.
Menurutnya, dukungan pemerintah sangat penting untuk mempercepat penyebaran varietas unggul Aceh Jaya ke seluruh wilayah Aceh sehingga mampu menjadi komoditas andalan daerah di masa depan.
Dengan potensi lahan yang luas, kondisi iklim yang mendukung, serta kekayaan varietas lokal yang terus berkembang, Adi optimistis durian Aceh suatu hari nanti akan berdiri sejajar dengan varietas-varietas terbaik dunia.
“Harapan saya sederhana, durian Aceh tidak hanya dikenal di Aceh atau Indonesia, tetapi juga di dunia. Kita punya kualitas, kita punya potensi, dan kita punya varietas yang membanggakan. Tinggal bagaimana kita bersama-sama mengembangkannya,” pungkas Adi.(*)












