Banda Aceh — Serikat Perusahaan Pers (SPS) Aceh menggelar kegiatan Halal Bihalal yang dirangkai dengan silaturahmi, Rabu 8 April 2026. Mengusung tema “Satukan Hati, Eratkan Silaturahmi, Bangkitkan Pers Aceh”, kegiatan ini menjadi momentum penting untuk memperkuat konsolidasi organisasi, solidaritas antar anggota, sekaligus merumuskan strategi bersama dalam menghadapi tantangan industri media di era digital yang semakin kompetitif.
Acara yang berlangsung dalam suasana hangat dan penuh kekeluargaan tersebut dihadiri pimpinan perusahaan pers serta perwakilan media cetak, online, dan elektronik di Aceh. Selain menjadi ajang silaturahmi pasca-Idulfitri, kegiatan ini juga menjadi forum strategis untuk bertukar gagasan dan memperkuat komitmen bersama dalam membangun ekosistem pers daerah yang sehat, profesional, dan berkelanjutan.
Pelaksana Tugas (Plt) Ketua SPS Aceh, Mukhtaruddin Usman, dalam sambutannya menegaskan bahwa insan pers bukan sekadar pelaku industri media, melainkan bagian dari “ruang pikir” yang memiliki peran strategis dalam merancang, mengawal, dan menyampaikan isu-isu pemerintahan serta pembangunan kepada publik secara objektif dan bertanggung jawab.
“Yang hadir hari ini adalah orang-orang yang berpikir, yang mendesain bagaimana isu-isu pemerintahan disampaikan ke publik. Karena itu, momentum Halal Bihalal ini harus kita manfaatkan untuk memperkuat kebersamaan dan arah gerak organisasi ke depan,” ujarnya.
Ia menyampaikan, SPS Aceh saat ini menitikberatkan tiga fokus utama, yakni memperkuat persatuan internal, meningkatkan kualitas serta profesionalitas media, dan memperluas sinergi lintas sektor guna mendorong kemajuan pers daerah yang adaptif terhadap perubahan zaman.
Menurutnya, industri pers tengah menghadapi tantangan serius akibat disrupsi digital yang mengubah pola konsumsi informasi masyarakat. Selain bersaing dengan sesama media, perusahaan pers juga harus menghadapi dominasi platform media sosial global dalam perebutan pangsa iklan.
“Persaingan di sektor periklanan dengan media sosial sangat ketat. Tidak sedikit perusahaan pers yang mengalami tekanan finansial, bahkan harus mengurangi operasional hingga gulung tikar. Ini menjadi alarm bagi kita semua bahwa industri pers membutuhkan perhatian dan solusi bersama,” tegasnya.
Mukhtaruddin menambahkan, kondisi tersebut menuntut adanya keberpihakan regulasi dari pemerintah guna menciptakan ekosistem media yang adil dan berimbang. Tanpa dukungan kebijakan yang tepat, media lokal dikhawatirkan semakin terpinggirkan di tengah dominasi platform digital global.
Sebagai langkah strategis, ia mengungkapkan gagasan pembentukan dana jurnalisme yang diinisiasi dari Aceh. Inisiatif ini diharapkan menjadi solusi konkret dalam mendukung keberlanjutan kerja jurnalistik yang independen, berkualitas, dan berorientasi pada kepentingan publik.
“Kita ingin memastikan tidak ada lagi perusahaan pers yang tumbang hanya karena keterbatasan pendanaan. Dana jurnalisme ini diharapkan menjadi penguat bagi keberlangsungan media, sekaligus menjaga independensi dan kualitas produk jurnalistik,” jelasnya.
Selain itu, ia juga menekankan pentingnya inovasi dalam pengelolaan media, termasuk pemanfaatan teknologi digital, penguatan platform online, serta pengembangan model bisnis baru yang lebih adaptif terhadap perubahan perilaku audiens.
Dalam kesempatan tersebut, Mukhtaruddin juga menyampaikan bahwa SPS Aceh dalam waktu dekat akan menggelar musyawarah daerah (Musda) untuk memilih kepemimpinan baru. Ia berharap, proses regenerasi tersebut dapat melahirkan pemimpin yang visioner, inovatif, dan mampu membawa organisasi semakin solid, modern, serta kompetitif.
“Musda nanti bukan sekadar memilih pemimpin, tetapi juga menentukan arah masa depan SPS Aceh. Kita berharap kepemimpinan ke depan mampu menjawab tantangan zaman dan membawa organisasi ini lebih progresif,” katanya.
Ia turut menekankan pentingnya memperkuat jaringan, membangun kolaborasi lintas sektor, serta meningkatkan kapasitas sumber daya manusia (SDM) di lingkungan perusahaan pers.
“Keberhasilan organisasi tidak hanya ditentukan oleh kemampuan teknis, tetapi juga oleh kekuatan silaturahmi dan kolaborasi. Jika hati kita menyatu, insya Allah seluruh agenda dapat kita wujudkan bersama,” ungkapnya.
Kegiatan Halal Bihalal juga diisi dengan tausiah yang disampaikan oleh Tgk. Fauzan, yang mengangkat nilai-nilai kebersamaan, keikhlasan, dan pentingnya menjaga integritas dalam menjalankan profesi, termasuk dalam dunia jurnalistik.
Dalam tausiahnya, ia mengingatkan bahwa insan pers memiliki tanggung jawab moral dalam menyampaikan informasi yang benar dan bermanfaat bagi masyarakat.
“Pers bukan hanya menyampaikan berita, tetapi juga membawa nilai. Karena itu, kejujuran, amanah, dan tanggung jawab harus menjadi landasan utama dalam setiap karya jurnalistik,” pesannya.(*)













