BENER MERIAH – Malam 30 Desember menjadi penanda berubahnya tingkat kewaspadaan di lereng Gunung Burni Telong. Di balik gelap dan dinginnya kawasan dataran tinggi Gayo, rangkaian getaran terekam oleh alat pemantau. Dalam waktu kurang dari tiga jam, bumi bergetar berulang kali pertanda bahwa sesuatu sedang bergerak di perut gunung api strato yang menjulang di Kabupaten Bener Meriah itu.
Pusat pemantauan kegunungapian mencatat sedikitnya tujuh gempa vulkanik antara pukul 20.43 hingga 22.45 WIB. Gempa-gempa tersebut berasal dari berbagai kedalaman vulkanik dalam, vulkanik dangkal, hingga tektonik dengan pusat aktivitas terkonsentrasi di sekitar tubuh gunung dan kawasan puncak. Data ini kemudian menjadi dasar bagi otoritas kegunungapian untuk menaikkan status Burni Telong ke Level III (Siaga).
Badan Geologi memastikan bahwa pergerakan magma telah terkonfirmasi. Tekanan dari dalam gunung dinilai semakin meningkat, dan kondisi ini bersifat sensitif terhadap guncangan tambahan. Gempa bumi, bahkan yang relatif kecil, berpotensi menjadi pemicu erupsi. Dalam skenario terburuk, letusan bisa terjadi dengan peringatan yang sangat terbatas.
Sebagai langkah mitigasi, zona bahaya sejauh 4 kilometer dari puncak gunung kini diberlakukan secara ketat. Aktivitas manusia di dalam radius tersebut dilarang, termasuk pendakian, aktivitas wisata, maupun kegiatan warga. Otoritas mengingatkan bahwa kawasan paling berisiko dapat terdampak awan panas guguran, aliran lava, emisi gas beracun, serta hujan abu lebat dan lontaran batuan pijar.
Ancaman tidak berhenti di batas zona eksklusi. Abu vulkanik dan material letusan dimungkinkan menyebar lebih jauh, mengikuti arah angin dan kekuatan erupsi. Kondisi ini berpotensi mengganggu aktivitas warga, pertanian, serta kualitas udara di wilayah sekitar.
Burni Telong bukan gunung tanpa sejarah. Catatan kegunungapian menunjukkan gunung ini pernah mengalami erupsi, dan status Siaga hanya ditetapkan ketika otoritas menilai risiko letusan meningkat secara cepat dan nyata. Kenaikan status ini menjadi sinyal bahwa fase aktivitas gunung tengah memasuki tahap yang tidak bisa diabaikan.
Di tengah meningkatnya ancaman, masyarakat di sekitar lereng Burni Telong diimbau untuk tetap tenang namun waspada. Pemerintah mengingatkan warga agar tidak terpancing informasi yang belum terverifikasi, serta selalu mengikuti arahan resmi dari PVMBG, BPBD, dan pemerintah daerah.
Di dataran tinggi Gayo, malam-malam kini terasa lebih sunyi. Bukan karena tak ada aktivitas, melainkan karena semua mata dan telinga kini tertuju pada satu titik: puncak Burni Telong, yang sedang memberi tanda bahwa ia tengah terjaga.(*)













